#DearDifa
#DearHilwa
dan
#DearKamuYangBersemayamDalamSepi
Hari ini pikiran dan perasaan saya campur aduk. Konon sastra yang paling murni adalah puisi. Saya ingin sesekali membuat puisi untuk kalian. Bukan sekedar cerita bualan. Namun apa daya, tulisan ini sebisa-bisa saya, semampu saya.
Sejujurnya saya tidak ingin merawat kesedihan, selain tidak baik untuk kesehatan paru-paru, kesedihan itu seperti luka, menyakitkan. Namun biar bagaimanapun, kita sebagai orang kecil, rakyat jelata, terkadang kesedihan dan kesengsaraan tetap dijaga, supaya kita selalu mawas diri dan waspada, sebenarnya hidup itu tidak hanya tentang bahagia.
Setelah hari ini, saya menemani sepupu saya bertawasul meminta hajat-hajatnya di sebuah Makam Wali. Banyak kisah ketika dulu kami masih kecil yang kami ceritakan ulang. Sepakbola, belajar, berkelahi, memanjat, bersepeda sampai puluhan kilometer dan lain-lain. Sebagaimana kisah biasa, kisah-kisah kami dulu seperti kisah keromantisan anak-anak yang kan selalu kami kenang.
Sekarang sepupu saya bekerja sebagai supir di perusahaan Tengki Pertamina, hampir setiap hari berangkat jam 2 dini hari, pulang malam 11 malam. Dilanjut lagi, setiap hari seperti itu. Jarang pulang. Tidur di jalan gantian. Pahit manis kehidupan jalan ia rasakan. Pernah ia tertahan di Polres berhari-hari karena tak sengaja truknya melindas orang, dan korbannya meninggal.
Di tengah perjalanan pulang dari makam wali, handphone sepupu saya berdering. Dia mengatakan bahwa itu adalah telpon dari putrinya. Telpon ia angkat. Percakapan ayah-anak yang jarang bertemu karena sebuah keadaan mengalir. Bercerita tentang baju lebaran, puasa dan sebagainya.
Getir.
Pada dasarnya, saya ini lelaki picisan. Rintik sedan berjatuhan.
#DearDifa umur putri sepupuku itu kurang lebih setahun di atas mu. Dan kau pernah foto berdua dengannya. Tentu saya tidak bisa membayangkan jika saya jauh darimu. Bagaimana nanti saya akan mengobati rindu yang pastinya menggebu.
Putrinya itu memanggil sepupu saya dengan sebutan Abi. Dia berkisah, bahwa puasa tahun ini, puasanya full sebulan penuh tanpa bolong, baju lebarannya ada 3 pasang. Dan dia merajuk, lebaran hari ini abinya tidak menemuinya. Tidak membelikan baju lebaran untuknya. Percakapan-percakapan selanjutnya saya tidak tertarik mengikutinya.
Hatiku remuk redam.
Sepupuku itu masih seperti dulu, lelaki yang tabah dan kadang lucu.
...................
Seorang kawan saya, lelaki asli Jepara saat dulu berkunjung ke rumahku pernah mengatakan, bahwa laki-laki yang paling beruntung itu seperti saya, mempunyai dua anak perempuan. Anak perempuan, kata kawan saya adalah benteng, benteng untuk ayahnya. Benteng pertahanan dari segala hal negatif.
Teman saya yang lain juga mengatakan kurang lebih sama. Dia berhenti minum alkohol dan segala hal yg negatif berkat kelahiran putrinya.
Semoga saya demikian. Selama ini Allah tutup segala keburukan saya.
Adapun sepupu saya, dia lelaki yang baik, dari dulu dia sangat baik. Cuma terkadang agak semrawut, tapi sesungguhnya baik. Dan dia tentu saja berhak bahagia beserta istri barunya.
Walangsanga, 04 Syawal 1444 H.
No comments:
Post a Comment