Pintu diketuk.
Ini sudah pukul 10 malam. Ini adalah hari mendekati lebaran. Saya sebenarnya telah mengantuk setelah aktifitas pagi sampai sore hari itu. Dengan rasa malas saya membuka pintu. Ternyata memang dia.
.......................................................................
Seseorang tiba-tiba menghubungi saya, bahwa dia akan mengunjungi saya malam itu juga. Telah lama kami hilang kontak. Terakhir bertemu sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Dengan segala pertanyaan di hati, apa yang sebenarnya terjadi. Ada kepentingan apa dia malam-malam jauh-jauh mendatangi saya di pelosok desa.
Dia sahabat saya. Kuliah jurusan seni musik. Hampir 5 tahun di kota orang, dan dia adalah salah satu sahabat yang berasal dari satu kabupaten dengan saya. Segala manis pahitnya pernah melalui bersama. Beberapa kali saya juga hutang budi dengan dia. Saya tahu betul karakternya.
Saya duga dia akan meminta hutang atau jangan-jangan dia sedang terlibat masalah hukum yang besar. Yang nantinya pasti akan merepotkan saya. 😅 Ini sudah mendekati lebaran.
Dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia sekarang ini, apa pun bisa terjadi. Tapi yang jelas dia cukup tahu, bahwa kehidupan ekonomi saya dari dulu ya seperti itu-itu saja. Tak mungkin dia berhutang padaku.
Saya suguhkan beberapa makanan sisa berbuka puasa. Belum lama kita basa-basi. Dan tiba-tiba dia minta makan nasi. 😅
Adegan ini tentu khusus untuk kawan yang dekat. Hanya nasi putih. wkwkw
Rasa penasaranku masih tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia.
“Bro, istrimu mana?”.
Pertanyaan ini memang agak sulit keluar dari mulut saya. Saya hampir tidak pernah bertanya kepada seseorang kapan dia nikah, dan kapan dia punya anak dan pertanyaan-pertanyaan tendensius lain. Bagi saya pertanyaan macam itu adalah pamali.
Maka, agak canggung juga ketika saya menembak dengan pertanyaan itu. Terlebih dia tidak pernah aktif di sosial media. Saya tidak tahu kabar terbarunya.
Maka dia hanya senyum. Kemudian kami tertawa.
Selanjutnya, dia menceritakan berbagai pencapaian-pencapaian yang telah diraih. Lebih tepatnya kegagalan-kegagalan dia sebagai manusia.
“Saya jadi ingat, saat dulu, ketika kita masih berjiwa muda, saat dalam sebuah evaluasi, kau mengkritik saya secara pedas, membabi buta, padahal dalam organisasi itu, kau adalah wakilku dan aku adalah ketuanya. Tapi kau mengkritik dalam forum, dilihat dan didengar banyak orang. Bahwa sebuah sumber kekacauan itu adalah aku, kritikanmu itu selalu aku kenang sampai sekarang, kritikan itu membangun". Kata dia dalam pertengahan obrolan kami.
Saya sendiri sudah lupa, kapan saya mengucapkan kritikan pada dia. Aihhh saya jadi kangen dengan diriku sendiri di masa lalu. Peluk erat untuk diriku waktu itu.
Dia sekarang sudah bangkit. Sudah siap menghadapi dunia lagi.
Sebagai musisi dia berkisah, dia pernah stres mendengar bunyi-bunyi. Suara. Suara apapun. Tetasan air kamar mandi. Kicauan burung. Suara mesin motor. Dan lain-lain.
Saya merasa kasihan dan takjub. Ini seperti yang digambarkan Andre Hirata, bahwa pemain orkestra mengulang-ulang terus suara dan nada yang sama, seperti kutukan menjadi kaset kusut yang rusak. Kalau hanya puluhan kali, tidak mengapa. Tapi jika sudah ratusan atau ribuan kali. Sudah pasti inalillahi.
Inilah mengapa, sebagai orang yang awam musik, saya harus apresiasi lebih kepada seniman musik.
Dia juga berkisah bagaimana kawan-kawannya (kawan-kawan saya juga) setia membantunya dari berbagai masalah. Belenggu hitam yang menjerat dia. Satu persatu dia lepaskan. Dan sudah menjadi takdir dia untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
Di hadapan dia, tentu saya harus merasa tegar. Padahal setiap orang juga pasti mempunyai masalah yang dihadapi. Begitu juga dengan saya saat ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
“Bro, ini kalau dijadikan podcast tentu bagus sekali, ditonton banyak kawan kita”, kata saya.
“Ndasmuuu. Banyak sekali rahasia saya nantinya terbongkar wkwkwk”.
Sebelum dia pamit, saya bekali oleh-oleh “mantra ajaib”. Saya bukan dukun atau agamawan. Hanya sekedar mantra rasional biasa.
Sehat dan bangkit untuk kita semua.
No comments:
Post a Comment