Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Thursday, 14 December 2023

Bapakku Indonesia

DearHilwa, #DearDifa, #DearAsfar


Saya selalu berdoa, apa yang saya lakukan semoga dijauhkan dari segala hal yang berbahaya. Berbahaya itu luas maknanya. Berbahaya untukku saat ini. Atau berbahaya saatku nanti. Itu yang diajarkan bapakku dulu.


Hari-hari ini, tahun-tahun ini, saya sibuk dengan urusan duniawi. Seolah hasil dari usaha-usaha dan ikhtiar ini akan terus langgeng abadi. Tentunya tidak. Kesederhanaan bapakku dulu, yang sirkel pertemanannya hanya satu desa, dan tidak muluk-muluk menjadi apa atau siapa, perlu saya ceritakan kembali padamu. Tentu sebagai tanbih untuk ku.


Bulan Desember seharusnya turun penghujan. Cuaca semestinya dingin. Tapi sebaliknya suhu hati dan pikiran selalu memanas. Memikirkan nasib, bagaimana selanjutnya hari esok nanti. Makan apa saya nanti. Apa nanti segala cita dan mimpiku terpenuhi. Segala kemungkinan pasti ada dan terjadi. Dan itu sudah terjadi pada banyak lelaki tua, payah, dan miskin di sekitar saya: tua dalam keadaaan mengenaskan. Tidak dihiraukan.


Kalau tidak seperti itu, kemiskinan, kemelaratan, dan kepenyakitan membayangi-bayangi setiap lelaki yang tidak pasti di masa sekarang atau masa tua nanti. Mungkin ini, salah satu perlunya asuransi. Segala provider asuransi banyak beriklan, tapi jangankan asuransi, nasib kita hari ini?


Aihhh #DearDifa, berbagai cerita selama umurmu 6 tahun ini, telah kita lewati bersama. Susah sedihnya. Dan Allah sendiri yang menjamin kita, detik ini juga masih tertawa. Dan #DearHilwa, 2 tahun umurmu lebih, kita Insya Allah akan selalu berbahagia. Kita akan menggambarkan kisah-kisah penuh kegembiraan. 


Hari ini, bapakku, tepat sudah 20 tahun menghadap Allah. Banyak kisah-kisah yang sebenarnya saya ingat-ingat lupa. Tetapi lelaki itu, duhai #DearAsfar adalah lelaki yang sederhana. Proses hidupnya yang menempa menjadi lelaki apa adanya.


Maka, ketika saya memutar album Iksan Skuter 'Bapakku Indonesia', yang setiap pagi kita dengar bersama, ingatan-ingatan itu semakin jelas.


Lagu 'Pulang', adalah salah satu favorit saya. Lelaki dengan segudang prestasi kegagalannya. Merantau, tapi gagal. Lapar dan kedinginan tak berkesudahan. Merindukan pulang ke rumah, pada sore hari di teras duduk bersama bapakku ditemani teh panas ibu. Setelah gagal, ingin pulang, merindukan hal-hal yang sederhana: tidur di kasur empuk, diselimuti bapak, makan sayur bayam masakan ibu. Bagi saya, yang sudah 20 tahun berlalu, untuk mencapai itu, tentu tidak mungkin lagi di dunia ini: diselimuti bapak.


Lagu judul 'Bapak', Iksan skuter. Adalah hal yang mustahil lagi bagi aku. 

Ada manusia yang paling ingin aku peluk,

Tapi aku malu....

Tidak juga malu sebenarnya,

Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa,

Orang yang sepertinya tak peduli dengan apa yang kulakukan.

Diam-diam bertanya kabarku.

Diam-diam menanyakan segala hal tentangku pada ibu.

Melalui lagu ini, Iksan mengejawantahkan padaku, bahwa saya ini tidak mungkin lagi akan memeluk bapakku. Meskipun saya sudah dewasa. Keangkuhan-keangkuhan ku tidak bisa menembus waktu. 


Lagu, 'Nak Jangan Seperti Bapak', seolah bapakku sendiri yang mengatakannya langsung: 

Janganlah seperti bapak, yang, susah mewujudkan mimpinya. 

Besarlah dengan semua harapan yang kamu miliki. 

Ku iringi doa dari hati kami. 

Bapakku entah bagaimana mestinya, bagaimana keadaannya di sana, masih saja mendoakan aku, menyertakan langkah-langkahku. Lelaki sederhana itu, tamatan SLTA pada jamannya, membuang predikat apa saja. Tidak gila jabatan untuk menjadi kepala sekolah. Dan lebih memilih menemani masa-masa kecilku. Memboncengku dengan sepeda butut itu, kedua kakiku diamankan dengan tali yang terbuat dari sobekan kain agar tidak masuk ke jeruji besi sepeda itu.


Lagu 'Yang Ku Ingat Dari Mu', masih di Album Bapakku Indonesia: 

Yang kuingat darimu

Kau bisa membuat Masakan yang enak

Disaat ibu bepergian. 

Yang kuingat darimu

Terkadang dirimu joget dan melucu. Agar kami semua tertawa bahagia.

Itulah dirimu yang katanya ibu, lelaki tak romantis itu. 

Itulah dirimu yang kata tetangga galak tak pandai melucu.


Dari lagu ini, saya ingat, beberapa murid bapakku dulu, sangat sayang pada bapakku. Mereka mengatakan langsung padaku saat beberapa tahun lalu kami bertemu. Ini bukan sekedar klaim sepihak. Bahwa bapakku dulu, galaknya luar biasa. Tapi entah bagaimana, ia amat disayang para murid²nya. Metode dan strategi seperti apa yang dulu dia terapkan saat mengajar. 


Bapakku tentu orang yang humoris, setidaknya hanya denganku. Banyak banyolan-banyolan yang sering kami ulang² bersama, dan kami tertawa bersama. Mentertawakan hal-hal yang biasa saja. Tapi kami bahagia. Pernah juga saya melihat dia menangis. Momen itu, adalah saat saya baru pulang dari khitan. Beliau merangkul pundakku sambil kami berjalan, dan berkata lirih: “aku khawatir”. 


Bapakku tentu tidak tahu teori-teori apa itu kesetaraan gender. Feminimisme. Tapi dari dialah saya belajar praktik bagaimana memperlakukan perempuan kesayangannya, berbagi tugas dalam mengurus rumah tangga. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, adalah hal biasa.


Lagu 'Pesan Untuk Mu', masih di Album yang sama: Jaga kehormatanku

Sepertiku menjagamu

Saat nanti ku mati

Ingat slalu pesanku.

Syair lagu ini, adalah lirik tentang pesan, agar aku tetap berintegritas sebagai manusia. Bagaimanapun pun keadaan ku sekarang dan nanti. Menjaga kehormatan bapakku adalah hal yang wajib, yang saya junjung tinggi: Integritas sebagai manusia. 


Pada akhirnya lagu 'Serigala Petarung' sebagai Gacuk atau senjata rahasia pemungkas untuk mengobarkan api semangat:

Aku takkan menyerah, tak lelah.

Aku takkan menangis, 

Mimpiku tak pernah habis.


#DearAsfar, insya Allah, jika diberi kesempatan, kesehatan, saya akan menemani mu menjadi lelaki yang lebih keren dari Bapakku. Bapakku menginggal dalam usia muda, aku ingin menemani mu sampai aku tua .

Dua puluh tahun yang lalu, lalu hujan turun memenuhiku, seakan diriku dengan Bapakku di teras rumah, ditemani teh panas ibu.

Alfatihah....

#DearAsfar

#DearHilwa

#DearDifa



No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE