Ada banyak alasan kenapa saya harus menyimak ngaji Gus Ulil, Ulil Abshar Abdalla, meskipun saya jarang ikut ngaji secara live. Namun dalam kesibukan aktivitas saya mencari keberkahan duniawi, Insya Allah saya sempatkan mendengar lewat rekaman di Spotify.
Diantara alasan itu adalah, metode ngaji. Meskipun yang dikaji pembahasan tasawuf hingga tauhid dan filsafat ala Imam Ghazali, yang cukup memeras otak dan membuat kernyitnya dahi. Metode Gus Ulil, seperti metode pesantren klasik; gramatika tarjamah tidak ditinggalkan. Pasti disisipi nahwu sharaf dalam pembahasan.
Selain itu, bagi saya Gus Ulil ini sosok yang unik, anak kiai yang berasal dari pesantren tradisional yang konservatif. Hingga jalan intelektualnya yang mengenyam pendidikan di Amerika. Maka tidak jarang, dalam ngaji istilah-istilah asing juga sering disebut. Tokoh-tokoh orientalis atau pemerhati Islam dari barat juga tidak luput dibahas. Tentu ini, menjadi literasi pengembangan wawasan santri.
Dalam ngaji terkahir, kitab Al Iqtishad fi Al I'tiqad – tentu saja karya Al Ghazali. Ini sedang seru-serunya pembahasan perdebatan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah, tentang apakah kelak Tuhan bisa dilihat oleh manusia?
Sebagai santri yang tumbuh di kalangan pesantren NU, yang sudah mengenyam ilmu akidah Imam Abu Hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidzi, tentu sudah terbiasa mempelajari “doktrin-doktrin” ilmu tentang ke-Esa-an Allah. Namun bagaimana ajaran tauhid Asy'ari dengan nalar-nalar Imam Ghazali mementalkan ajaran Mu'tazilah? Mu'tazilah ini adalah ahli dalam berlogika. Tapi justru logika ini dipatahkan oleh imam Al Ghazali.
Inilah salah satu keseruannya.
Sebelum membahas lebih dalam ke sana, Saya ingin berkisah lebih dahulu. Saat saya mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam negeri, saya mendapatkan dosen favorit. Dia mengampu mata kuliah Filsafat Bahasa. Dari beliau, Filsafat yang bagi saya dan teman-teman di kelas itu sukar karena kerumitannya, dibuat kelas yang hidup dan menyenangkan. Diskusi-diskusi filsafat yang sering diselingi canda tawa. Nah beliau ini mengaku berfaham Mu'tazilah.
Dari sini stereotip saya tentang Mu'tazilah berbeda. Bahwa dulu, ajaran Mu'tazilah itu sesat dan menyesatkan itu, ternyata jauh dari itu.
Mereka memang mengedepankan nalar dalam beragama, memang iya. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa dilogikakan.
Kembali ke laptop.
Kitab yang dibahas Gus Ulil, Al Iqtishad fi Al I'tiqad karya Imam Al Ghazali, Kata Al Iqtishad sendiri bermakna jalan tengah dan fi Al I’tiqad berarti dalam masalah akidah. Jadi kitab Al Iqtishad membahas jalan tengah dalam akidah. Jalan tengah yang dipilih Al Ghazali dalam kitab ini merupakan ciri beliau dalam bersikap dalam aqidah.
Mu'tazilah mengatakan bahwa di hari kelak, Allah tidak bisa dilihat oleh manusia. Bagaimana mungkin Allah bisa dilihat? Mu'tazilah menyatakan: Sesuatu bisa dilihat itu harus masuk dalam ruang dan waktu. Masuk dalam suatu arah. Misal, jika si A melihat si B, si A melihat si B harus dalam arah: depan, belakang, samping kanan, samping kiri, tengah, atas, dan bawah, itu adalah arah. Masuk ruang dan waktu. Namun dalam argumen Mu'tazilah, Allah itu di luar ruang. Maka, tidak mungkin bisa dilihat.
Argumentasi Mu'tazilah dipatahkan dengan perumpamaan sebuah cermin oleh Al Ghazali. Seseorang dapat melihat dirinya sendiri di sebuah cermin. Padahal sesuatu yang dilihat di cermin adalah dirinya sendiri yang di luar ruang dan waktu. Itu bisa dilihat.
Menurut Al Ghazali, sebelum jauh pembahasan lebih panjang, ada sesuatu hal yang harus disamakan. Atau ada persepsi yang harus (Al Ghazali dan Mu'tazilah) sama-sama setuju sebagai dasar dalam adu argumentasi. Karena jika dasar berfikir saja sudah berbeda tentu tidak akan ada titik temu.
Sesuatu dasar itu adalah, pengertian ra'yun atau melihat. Al-Ghazali mengajak Klarifikasi lebih dahulu istilah melihat. Bagaimana pandangan Mu'tazilah dan Al Ghazali harus diselesaikan lebih dahulu, disamakan lebih dahulu tentang melihat.
Al Ghazali menawarkan makna arti melihat dengan berbagai syarat; pertama, harus ada mahal atau tempat. Tempat melihat, yang dimaksud Al Ghazali tempat adalah alat untuk melihat. Maka, alat melihat salah satunya adalah mata sebagai indera penglihatan.
Syarat kedua adalah, ada sesuatu yang dilihat. Ada muta'alaq atau objeknya. Kemudian syarat ketiga adalah ada yang melihat. Atau harus ada Failnya.
Maka apabila kita mengatakan ada aktivitas melihat, sekurang-kurangnya ada tiga syarat yang diajukan Al Ghazali: alat untuk melihat, objek untuk dilihat, dan siapa yang melihat.
Nah, berbicara objek penglihatan, biasanya ada ukuran, warna, benda, dan semua objek penglihatan.
Namun Al Ghazali memberi pandangan bahwa mata itu bukan rukun atau pilar yang wajib ada sebagai syarat sah kegiatan melihat. Ada hati, ada otak, dan ada indera yang lain untuk melihat. Apakah itu boleh? Boleh kata Gus Ulil, dalam memaparkan teks Al Ghazali ini.
Pembahasan ini memang sedikit rumit. Karena saat belajar aqidah, secara tidak langsung juga belajar filsafat.
Maka, menurut Al Ghazali, jika melihat Allah itu tidak harus melihat dengan mata, karena melihat tidak harus melalui mata saja.
Gus Ulil menambahkan, argumen Al Ghazali memang sedikit rapuh. Karena sisi lain, Al Ghazali sebetulnya ingin mengatakan bahwa, ketika Alquran menegaskan, kelak manusia yang beriman di hari akhir nanti bisa melihat Alla. Melihatnya itu tidak melalui mata, melainkan melihat secara majazi. Artinya ayat ini ditakwil. Seperti kalimat “Allah punya tangan”, itu bukan tangan dalam bentuk tangan biasa, sebagaimana tangan manusia, tapi tangan itu adalah kekuasaan Allah, maknanya.
Ngaji Al Iqtishad fi Al I'tiqad, saat tulisan ini ditulis belum selesai pembahasan Asy'ariyah Vs Mu'tazilah.
Tulisan ini hanya interpretasi santri biasa. Berharap banyak keberkahan dari para Kiai Ulama.
Wallahu a'lam Bi shawab.
No comments:
Post a Comment