Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saturday, 12 July 2025

Martabak Rindu

Kira-kira seabad yang lalu, Umi Kultsum, penyanyi legenda Mesir, menyanyikan lagu A Ghadan Al Qak. Apakah besok kita akan bertemu, duhai kekasih. Syair yang penuh kegalauan, dan penuh ketidak pastian. Bagi seorang pecinta, namun takut merindu.


Di tanah air, lebih sadis lagi. Kita disajikan penyanyi legendaris. Yang menyanyi dengan bahasa ibu kita sendiri. Lord Didi Kempot, lagu-lagunya relate dengan para sobat ambyar. Ambyar hatinya. Ambyar hidupnya.


Namun ada kisah, seseorang yang merasa dirinya ambyar itu, ia jadikan ke-ambyaran hatinya sebagai kekuatan, untuk lebih meloncat lebih tinggi dalam hidupnya. Tapi ia tahu persis, bahwa hidup itu bukan soal berlomba pencapaian apapun dengan orang lain.


Persis seperti cerita Gus Dur, Konon ketika dia ditanya bagaimana cara menulis yang konsisten, dia menjawab, kamu harus pernah merasakan patah hati dulu dalam hidupmu.


Dia adalah mantan muridku, ketika saya mengajar di SMK dulu, namanya Je. Pengusaha Martabak yang tengah viral. Sebelum ia mendirikan usahanya sendiri, dia ikut bekerja Martabak juga di temannya Er. Je dan Er dulu satu kelas, sama-sama murid saya.


Mereka adalah golongan Gen Z yang bukan pemalas. Mereka tipe petarung. Tidak pernah memelas kasih pada negara. Meraka bukan yang suka tongkrongan, ngalor ngidul tidak jelas. Seperti yang banyak digeneralisir di Sosmed – Gen Z dengan segala keburukannya. Seolah generasi si pemberi stereotip itu generasi dewa yang serba bisa.


Kemarin saya melihat, komentar di status  Fesbuk, saat Dahlan Iskan dan Direksi Jawa Pos sekarang berseteru, padahal Dahlan Iskan yang dulu membesarkan nama Jawa Pos, salah satu komentar followernya mengatakan bahwa, ia berterimakasih kepada Dahlan Iskan dan Jawa Pos, saat itu tahun 80an, si follower dulu mengais rezeki dari loper koran, dan penjajakan Koran-koran pagi di Surabaya. Ia berterimakasih karena secara tidak langsung Jawa Pos dan Dahlan Iskan membentuk karakternya untuk menjadi pebisnis tangguh. Mentalnya menjadi kuat.


Saya tidak tahu, mental yang seperti apa yang telah membentuk Er dan Je sehingga menjadi pengusaha sukses di usia muda. Er sudah tamat S1. Sudah menikah. Menikahi perempuan yang dia cintai. Sementara Je. Je ini unik. Kisah cintanya...  Ah sudahlah.


Martabak Rindu tentu saja tidak seperti Markobar. Dia dilahirkan betul betul dari dedikasi pemuda. Banyak diendorse artis-artis ibu kota. Para Food vlogger juga banyak yang datang. Yang manis, ketebelan adonannya, brutal topingnya. Yang telor sangat istimewa.


Martabak Rindu setidaknya sudah mempunyai 6 cabang yang tersebar di Jabodetabek. Aslinya di Bogor. Milik Er. Je sebelum membuka kedainya sendiri, meminta doa padaku. Padahal saya bukan agamawan yang do'anya pasti dikabulkan Tuhan. Namun setulus hati saya, saya selalu terkesan untuk orang yang selalu konsisten dalam berjuang.


Je ini luar biasa, dari usahanya, adik-adiknya bersekolah tinggi. Dan segala Pencapaian-pencapain lainnya. Sepuluh tahun yang lalu Je dan Er adalah muridku. Belajar kosakata, belajar macam-macam ideologi dunia. Tapi kedepannya mereka adalah guruku. Dalam berjuang dalam negara yang ekonominya, sebagai kelas menengah seperti kita, tidak baik-baik saja.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE