Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Thursday, 7 August 2025

Untung Guru Saya Tidak Berdagang Surga

Beruntung guru saya tidak menjual surga. Dari kecil. Sekolah MI, MTs, saya punya guru-guru yang sama sekali tidak menjual kesucian. Tidak menjual kesaktian. Meskipun saat itu saya di pesantren, bahkan Kiai saya termasuk mursyid salah satu thariqah terkenal di Indonesia. 


Tidak. Saya tidak belajar thariqah. 


Saya hanya belajar nahwu, sharaf, dan kisah-kisah dalam kitab mutaqadim, yang keberkahannya saya rasakan sampai hari ini.


Sewaktu MTs, saya punya guru filsafat pertama, dia bahkan memperkenalkan filosofi angka 212 punya Wiro Sableng. Bahwa sesuatu yang matsna, dua. Pasti berasal dari yang Maha Satu. Dia juga yang memperkenalkan saya lagu yang sedang tranding waktu itu, Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada. Milik Chrisye. Mengajak berfikir jika seandainya Tuhan tidak menciptakan surga dan neraka. Apa mungkin saya sebagai manusia akan tulus beribadah. 


Disisi lain. Guru-guru lain memperkenalkan kisah kekasih Tuhan Perempuan: Rabi'ah Adawiyah, yang membakar surga dengan neraka. Dengan cintanya yang membahana kepada Tuhannya. 


Sewaktu SMA, guru saya di pesantren lebih tegas. Tidak menye-menye terhadap yang bertele-tele. Mengatakan lebih kuat. Menyatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun beliau mengajar Ilmu Tauhid. Diskusi pertanyaan selalu terbuka. Dialektika keilmuan 


Sayangnya, saat kuliah S1 saya pernah nyantri, meskipun hanya beberapa bulan, dan saya kabur dari Pesantren itu, salah satu faktornya adalah sang guru terlalu vulgar menjual surga. Sok²an menjadi aktivis mahasiswa adalah faktor lainnya. 


Singkat cerita. Hampir semua “guru formal” saya tidak menjamin surga. Tidak pula menakut-nakuti dengan neraka. Pun dengan guru-guru “non formal” saya. 


Jadi hidup saya bebas. Tanpa beban. 


Ibadah, saya tinggal ibadah. Tidak perlu menanti-nanti kelak saya akan dapat apa. 


Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menjamin dan mengancam saya, kelak dengan surga atau neraka. 


Lalu bagaimana saya memaknai surga. Surga bagi saya, bisa saat ini atau kelak janji Allah nanti. Saat ini, ketika saya kumpul dengan orang-orang yang saya cintai; keluarga, kawan. Saya bisa berkisah apa saja. Atau saya bisa mendengar apa saja dari mereka. Dalam keadaan sehat dan bahagia. 


Surga juga menurut saya adalah, mendatangi majlis ilmu. Mendengar petuah-petuah bijak. Nasihat-nasihat dari orang Alim.


Itulah surga. Bagi saya. 


Untung guru-guru saya tidak berdagang surga. Tapi saya punya cita-cita di kehidupan kelak nanti, saya dikumpulkan lagi, dengan guru-guru saya dalam majelis ilmi. 



No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE