Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Friday, 20 February 2026

Tarawih

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Subuh ini, saya mengenang guru saya, dosen saya di Yogya. Guru besar Hadist UIN Sunan Kalijaga. Profesor yang masih muda, tapi Allah mencintainya. Menjemput lebih dulu dari kita semua.

Pemikirannya luar biasa. Kebanyakan orang mengatakan liberal. Bagi saya tidak. Berbagai metodologi takhrij hadist beliau tentu saja hatam. Di sela-sela ceramah, beliau menyatakan, bahwa kelak anak-anak nya tidak akan diizinkan untuk berpindah agama, karena ini prinsipil. Saya ingat-ingat lupa konteksnya, kenapa saat itu beliau mengatakan demikian. Beliau membebaskan anak-anaknya untuk mengerjakan apa saja. Menjadi apa saja.

Ramadhan tahun ini, insya Allah masih menyenangkan. Membahagiakan. Tidak perlu teori-teori kesehatan untuk menjelaskan legitimasi kenapa harus wajib puasa. Tidak perlu.  Karena ini adalah salah satu jalan cinta. Pun dengan Salat Tarawih.

#DearDifa, agama itu memang dogma. Doktrin kebenaran. Ia bersifat mutlak. Tapi saya ingin membawamu dan adikmu lebih dari ini: yang sebagian orang menyebutnya sebagai cinta. Tidak ada nilai tawar terhadap ideologi. Apalagi cinta. Termasuk rukun Islam ke empat, puasa.

Dalam teori sosial, degradasi budaya itu ada. Dulu, generasi dulu, saat memasuki bulan puasa kami menyambutnya dengan gegap-gempita. Bergema. Dari Tongtongprek sahur, kuliah subuh, jalan habis subuh, kelaparan, kejujuran, buku ramadhan, berburu takjil, buka puasa, jajan habis buka, dan lain sebagainya. Adalah sesuatu yg khas untuk menyambut euforia ramadhan. Seperti hukuman mememang. Tidak enak. kelaparan, kehausan, di siang hari. Dan malas-malasan untuk menegakkan salat tarawih di malam hari.

Pasca makan sahur yang ngantuk, tetapi harus ikut kajian kuliah subuh. Harus. Kenapa harus, karena kami dibekali buku catatan amal kebaikan yang harus ditandatangani oleh ustadz atau kiai. Saya dan kawan-kawan mencatat, merangkum apa saja isi ceramah yang disampaikan ustadz.

Buku itu, Difa. Kelak akan dikumpulkan setelah lebaran. Dan menjadi nilai yang akan dipertaruhkan di sekolah nantinya. Di dalam buku tersebut juga ada catatan amal, selama 30 hari itu, berapa hari puasa saya bolong-bolong. Buku itu ditulis saya sendiri, ditulis apa adanya, sejujur jujurnya. Dan jika catatan amalan itu buruk, minimal akan malu, akan diroasting banyak kawan di sekolah.

Begitulah, Difa. Degradasi muncul dengan adanya perubahan zaman. Dan mungkin faktor teknologi.

Salah satu hal yang paling menyenangkan tentang Ramadhan adalah tarawihnya. Jumlah rakaat yang banyak. Bagi golongan seperti kita 20 rakaat, 10 salam, dan 3 rakaat witir, 2 salam. Melelahkan. Sangat malas untuk dikerjakan. Tapi ini nostalgis sekali.

Tahun ini, di Masjidil Haram, melaksanakan salat tarawih hanya dilakukan 8 rakaat, 4 salam, dan 3 rakaat witir.

Maka, pertanyaannya, apakah masih relate, di dunia yang sekarang serba bergegas. Instan. Cepat. Fleksibel. Dengan melakukan tarawih yang 20 rakaat 3 witir itu?

Sangat relevan!

Saya didik dalam keluarga tarawih 20 rakaat. Kemudian mengaji doktrin Kitab Ahlu Sunah Wal. Jama'ah. Di dalamnya ada sejarah rakaat tarawih itu.
Di Indonesia, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama, tarawih 20 rakaat + 3 witir adalah praktik yang sangat mapan.
Ini bukan tradisi baru, tapi warisan panjang dari praktik para sahabat pada masa Umar bin Khattab. Secara historis, pada masa beliau, tarawih berjamaah dikumpulkan dan ditetapkan 20 rakaat. Sejak itu, mayoritas ulama empat mazhab menerima praktik ini sebagai bentuk kesepakatan umat (ijma’ amali).

Lalu Kenapa Ada yang 8 Rakaat?

Sebagian kelompok merujuk pada riwayat bahwa Rasul Muhammad tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir). Dari sini lahir praktik 8 rakaat, 3 witir.

Apakah masih relevan di Zaman Sekarang?
Kalau relevan diartikan sebagai: masih sesuai syariat, tentu saja iya. Masih diamalkan mayoritas umat, iya. Masih punya nilai spiritual? Sangat iya.

Yang sering membuat terasa tidak relevan itu bukan rakaatnya. Tapi tempo hidup kita yang makin cepat. Kita sanggup duduk 2 jam scroll HP, tapi 1 jam di masjid terasa lama. Kadang bukan tarawihnya yang berat, tapi hati kita yang belum siap pelan.
Tarawih itu qiyam Ramadhan.Yang dicari bukan angka, tapi ruh ibadahnya. 20 rakaat memberi ruang. Lebih banyak baca Qur’an. Lebih lama berdiri. Lebih banyak sujud. Lebih lama bersama jamaah.

Di desa-desa, tarawih 20 rakaat itu bukan sekadar ibadah, tapi ruang silaturahmi. Anak kecil lari-lari, orang sepuh duduk di saf belakang, setelahnya ada teh panas dan obrolan ringan. Kadang yang membuatnya relevan bukan dalilnya, tapi kehangatan sosialnya.

Saya, tentu saja tidak akan mengklaim ini hal yang paling benar.  Yang penting salat tarawih. Saya juga tidak ingin mencela orang yang tidak bisa tarawih karena sesuatu hal.
Sebagaimana ngendikanya Gus Baha. Agar tidak mencela atau memandang negatif orang yang tidak shalat tarawih karena bekerja, sebab tarawih hukumnya sunnah dan mencari nafkah halal adalah kewajiban. Beliau menekankan bahwa Islam tidak memberatkan, sehingga pekerja tidak perlu merasa berdosa jika melewatkan tarawih demi menafkahi keluarga. 

Tapi #DearDifa seperti dosen hadist saya, Saya ingin kau dan adikmu melanjutkan. Jika suatu malam nanti kau lelah berdiri di rakaat ke-17, ingatlah: yang sedang kau jaga bukan jumlahnya, tapi silsilah cinta kita.


No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE