“Pulang jam berapa?”
15.00 WIB Pemalang belum hujan. Saya cek prediksi BMKG juga tidak ada tanda badai. Aman. 15.30 setelah semua hampir selesai. Saya salat ashar, kemudian duduk-duduk di depan gedung rektorat. Kampus ini terletak di tengah sawah. Pemandangan bisa melihat sekeliling alam ke atas raya.
Saya cek status whatsapp beberapa kawan di desa yang biasanya update tentang kondisi alam. Nyata! dia sedang adzan takbir, videonya memperlihatkan angin yang cukup besar. Meluluhlantakkan pohon depan balai desa.
Saat duduk di depan rektorat itulah. Tiba-tiba angin dan hujan datang. Ini badai. Serius ini angin yang besar.
Di samping kampus ada tower provider internet. Yang tingginya 100 meter. Ternyata ada pegawai masih di atas, mungkin sedang maintenance. Ah Tuhan semoga ia baik-baik saja. Nyata. Tali yang dia pakai jatuh terbawa angin. Tapi mungkin karena dia profesional dia aman turun bawah. Alhamdulillah.
Selanjutnya, saya bingung bagaimana pulangnya. Hari semakin sore. Nadifa anak saya belum punya lauk kesukaan untuk makan buka puasa. Saya kordinasi dengan istri, berkabar perkembangan kondisi hujan badai ini.
16.00 WIB saya memutuskan pulang. Istri tentu saja cemas. Dengan nama Allah yang Maha Rahman Rahim. Saya gas motor saya. Untal-untul dengan kawan yang se arah. Salah satunya mas Muhison, dia pustakawan di kampus kami.
Macet semakin parah. Dari arah lawan, jalur kanan kiri sudah ditutupi kendaraan. Polisi? Hehe jangan dicari.
Tapi akhirnya alhamdulillah, saya dan Mas Muhison bisa melewati kemacetan itu. Tapi, duh di mana dia sekarang? Dan rombongan kawan lain sudah kocar-kacir. Agaknya Muhison ini kecepatannya lebih dari 70 KM. Dia masih muda.
Saya gas pelan-pelan saja sesuai kemampuan daya saya.
Perjalanan belum sampai 7 menit. Mas Muhison berhenti di depan. Dia menunggu. Ini baru sampai di jalur antara Paguyangan dan Kebongede, Bantarbolang.
Langit masih hujan. Saya masuk desa Paguyangan. Kanan kiri hutan. Jalannya bebatuan. Belum diaspal. Saya membayangkan. Desa ini dalam imajinasi saya adalah seperti desa Penari. Seperti kisah KKN Desa Penari. Semakin menuju desa semakin petang.
Muhison di dalam pekerjaan, orangnya tenang. Kalem. Dia masih muda. Cekatan. Di jalanan seperti ini, dia menunjukkan ketenangan juga.
Paguyangan. Belok kanan. Bayangan cerita horor KKN penari tidak ada di desa ini. Karena ini, karena di sini. Lautan manusia dengan kendaraannya. Macet parah. Sangat parah. Saya lupa. Jam jam ini adalah karyawan pulang.
CILAKA!
Beruntung ada para pemuda desa yang ikut mengatur jalanan.
Jam di motor sudah menunjukkan 17 lebih. masih macet. Saya kabarkan kepada istri. Bahwa saya aman. Dan masih terjebak macet. Untuk Nadifa buka makan seadanya.
Muhison, di mana dia.
Ah iya, dia alumni UIN Jakarta. Dulu di sana, sudah terbiasa macet. Sekarang, Skilnya dalam menyusuri kemacetan pasti dia masih punya. Sedang saya hanya mahasiswa Yogya.
Saya move sedikit-sedikit. Saya tidak ingin terbayang Muhison lagi. Haha.
Hari semakin petang. Saya stres parah. Di hati, sambil terus komat kamit selawat kepada nabi. Berharap pada Allah yang Maha Ndak Tegaan untuk segera mensudahi drama ini.
Di depan, ibu-ibu memberi petunjuk. Motor lewat sini. Kata dia.
Saya dan pemotor lainnya masuk di sana. Yang saya lalui jalur di depan bersama Muhison adalah jalan alternatif. Dan ini lebih alternatif. Jadi alternatifnya alternatif. Jalannya kecil. Bukan jalur biasa. Ini adalah pekarangan warga!
Berkelok-kelok, kanan ke kiri, kiri ke kanan. Di tengah rumah penduduk. Sepertinya ini sudah masuk Desa KebonGede. Saya melalui sawah, melewati pemakaman desa. Belum pernah saya ke sini.
Langit semakin hitam petang.
Di depan. Hampir tiap tikungan. Penduduk setempat berdiri. Memberi arah jalan yang tepat. Mereka tentu saja tidak berkoordinasi. Saya menganggap ini adalah amal jariyah kebaikan mereka. Bentuk gotongroyong sebagai manusia pancasila: warga jaga warga.
Lanjut lagi. Katanya dekat, kok 15 menit belum ketemu jalan besar beraspal. Wkwk tambah stress juga.
Saya membayangkan, kelak di hari nanti. Di hari pembalasan, akan seperti ini. Timbangan siapa yang lebih cepat. Bergantung dengan apa yang kita bawa, kalo bawannya mobil mungkin masih terjebak macet di tengah hutan di Paguyangan. Untungnya saya hanya bawa Vario. Sat set tas tes.
Alhamdulillah. Jalanan aspal Bantarbolang ketemu juga. Sudah masuk jalan utama. Saya tancap gas. Progress perjalanan sore ini menjelang buka puasa harus diselesaikan sampai rumah.
Saya belum ngabarin Mas Muhison.
Paginya. Saat sahur tiba, Muhison Whatsapp Saya. Memberi link berita. Yang terjadi di antara Paguyangan dan Kebongede. Seseorang tertindih tiang listrik yang terkena pohon tumbang.
Hal seperti ini, kecelakaan sepertinya biasa. Biasa. Sangat biasa. Lalu bagaimana Mitigasi pemerintah Kabupaten Pemalang.
Allahu Akbar.
No comments:
Post a Comment