“Ketahuilah bahwa imammu (Ali) telah merasa cukup dari dunianya dengan dua helai pakaian usang dan dari makanannya dengan dua potong roti gandum kasar. Seandainya aku mau, aku bisa saja memakan madu yang murni, gandum yang terbaik, dan memakai pakaian sutra. Namun, mustahil bagiku jika hawa nafsuku mengalahkanku. Sementara di Hijaz atau Yamamah mungkin ada orang yang tidak punya harapan untuk mendapatkan sepotong roti."
#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar. Ini adalah surat ke-45 Imam Ali yang terangkum. Surat kepada Gubernur Basrah, Utsman bin Hunaif.
Adalagi surat Imam Ali. Surat kepada Malik al-Asytar. Surat nomor 53. Meskipun ini adalah konstitusi pemerintahan, surat panjang, bagian pembukanya sangat puitis dalam mendefinisikan kemanusiaan. Surat ini sangat sakral bagi para pengikut mazhab Syi'ah. Bisa jadi ini termasuk dalam doktrin kepemimpinan di Iran.
"Janganlah engkau menjadi binatang buas terhadap rakyatmu, yang merasa puas dengan memangsa mereka. Karena sesungguhnya manusia itu ada dua jenis: Mereka adalah saudaramu dalam seiman, atau mereka adalah setaramu dalam kemanusiaan (Nadhirun laka fil-khalq)."
Makna: Kalimat "setaramu dalam kemanusiaan" dianggap sebagai salah satu kalimat paling humanis dalam sejarah Islam. Struktur kalimatnya dalam bahasa Arab sangat ritmis dan kuat.
Begitulah dik. Imam Ali.
Referensi Kitab dalam kisah ini tercatat dalam beberapa kitab Manaqib dan Tafsir, di antaranya: Kitab Al-Awalim: Menjelaskan detail dialog antara Fatimah dan kedua putranya.
Imam Husain sendrian membawa bayi itu ke hadapan pasukan musuh. Yang dipimpin Umar bin Sa'ad. Beliau mengangkat bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya dan berseru:
"Wahai kaum! Jika kalian menganggapku bersalah, maka bayi ini tidak berdosa. Dia tidak meminta kekuasaan, dia hanya meminta setetes air karena lidahnya telah mengering."
Pasukan musuh mulai goyah melihat pemandangan itu. Beberapa tentara menangis. Melihat pasukannya ragu, Umar bin Sa'ad memerintahkan pemanah terbaiknya, Harmalah bin Kahil, untuk memutus pembicaraan Husain.
Harmalah melepaskan panah bercabang tiga manjadiq, yang biasanya digunakan untuk berburu binatang besar. Panah itu melesat dan merobek leher si kecil Ali al-Asghar yang sedang berada di pelukan ayahnya. Bayi itu tersenyum kecil lalu syahid seketika. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Allahu Akbar.
#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar.
Kesederhanaan keluarga nabi, yang sampai sekarang dijunjung tinggi oleh bangsa Iran terus melekat sampai detik ini. Dan hari-hari ini. Apa yang dialami Iran saat ini. Ketika Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk akan menginvasi Iran melalui darat. Mengobarkan semangat isu sektarian. Konon demi menjaga dua kota suci. Iran selalu teringat dawuh Imam Hussain: “Remember me when truth becomes alone.”
No comments:
Post a Comment