Cerita ini pernah viral. FYP di Sosmed. "Warung Setan" yang menjual obat-obatan perusak generasi muda digeruduk oleh pemuda seorang diri. Dia pendekar. Kemudian ia limbung ditusuk 5 kali. 3 di punggung. 2 di perut. Dan tangannya sobek menahan pisau. Sabetan samurai oleh 6 preman itu menjadikan dia harus berbaring di rumah sakit. Kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu.
Saya perkenalkan dulu tokohnya, dia adalah junior saya. Umurnya masih muda. Dulu, di pekerjaan dia sangat tidak profesional. Sangat tidak profesional. Banyak kawan satu divisinya mengeluh punya team seperti dia. Karena menurutku, pekerjaan itu bukan habitatnya. Sebagai pemegang ideologi punk, sekaligus anak vespa, rasanya tidak mungkin akan bertahan lama dalam pekerjaan itu. Tapi dia pembelajar yang baik. Dia seorang aktivis. Murni aktivis.
Jika dulu di sosmed cerita pendekar vs preman berkedok LSM itu sepotong-sepotong, saya ingin coba cerita detailnya. Beberapa hari yang lalu dia mengunjungi tempat saya. Dia berkisah:
Malam saat takbir hari raya idul fitri, dia didatangi oleh seorang muridnya dengan panik tergopoh-gopoh. Bahwa kawannya yang juga muridnya si pendekar kesurupan. Oh iya tokoh kita ini adalah pengelola ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Semacam sekolah alternatif. Dia langsung samperin muridnya itu. Tidak ada yang bisa menolong. Dia analisis. Ini bukan kesurupan. Ini sakaw obat-obatan. Si murid di angkat tubuhnya. Dimiringkan. Tenggorokannya dibuka. Keluarlah muntahan yang disertai beberapa obat yang masih gelondongan.
Hari raya ketiga. Dia juga menjumpai hal yang sama. Keponakannya sendiri overdosis obat yang luar biasa. Puncaknya adalah itu. Dia tidak sabar lagi. Datangilah warung penjual obat setan itu. Seorang diri. Dia memperingati. Lebih ke minta tolong.
“Om, tolong jangan jual obat ini lagi.”
“Anda itu siapa? Aparat saja tidak berani memperingati.” sambil tersenyum merendahkan.
Pendekar itu pulang. Kewajibannya amar ma'ruf nahi mungkar telah ia tunaikan. Hal yang paling dasar melalui lisan. Tetapi ia masih galau. Ia atur strategi lagi. Dia konsolidasi dengan beberapa organisasi kepemudaan. Dan hasilnya, organisasi itu tidak berani. Para organisator itu mengatakan bahwa warung itu dibekingi para perwira tinggi dan p*l*si.
Di malam berikutnya, setelah dia melakukan meditasi. Dia berangkat lagi. Di warung itu dia ngamuk. Pemilik warung kalang kabut. Mengundang LSM preman, 3 orang yang jaga di warung itu juga kalah ditendang. Pendekar kita menang. Beberapa obat dan uang 25 juta ia diamankan.
Petaka ini awalnya dari sana. Bos Mafia yang dari Jakarta video call ke pemilik warung saat penggerebekan itu. Pendekar kita memperkenalkan diri. Namanya. Alamat rumahnya. Siap untuk perang. Bos Mafia menawarkan sejumlah uang. 2 juta perbulan. Pendekar kita ini pendekar idealis. Tidak mungkin bisa menerima uang seperti itu.
Esok malamnya ada pesan masuk. Meminta duel satu lawan satu. Di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Perjanjiannya adalah tanpa senjata tajam. Pendekar kita, belum mengiyakan. Ia meditasi lagi, meminta petunjuk ilahi. Dia juga meminta restu abahnya. Akhirnya ia menerima tantangan itu.
Di malam yang dingin, di tempat yang sudah ditentukan. Dia hanya bawa seorang kawan. Dia ingin live streaming. Perkelahian ini harus disiarkan. Di luar dugaan, yang datang 6 orang. Semuanya membawa samurai panjang. Matilah. Kawannya pendekar ini langsung mengabarkan di whatsapp group, bahwa ia dan pendekar sedang dalam bahaya.
Pendekar kita ini memang betul-betul pendekar. Dia jago bela diri. Sudah puluhan kali gelut dan perang di jalanan. Adrenalinnya sudah ia kuasai. Dia bisa mengatur emosi. Kapan ia harus gebug. Kapan ia harus menghindar. Dia tahu waktunya. Dia harus tetap percaya diri. Yang menjadi ia merasa di atas angin adalah, musuh-musuhnya bermata merah. Pertanda doping obat dan minuman keras. Sekali pukul pasti telak batinnya.
Sebentar. Saya jeda. Menghela nafas nulisnya. Sayangnya saya tidak bisa menulis cerita silat seperti Wong Fei Hung. Tidak bisa mendeskripsikan dan menarasikan secara detail.
Lanjut. Apa yang pendekar pikirkan ternyata di luar dugaan. 6 mengeroyok kanan kiri depan belakang, pendekar kita tumbang. Dan seandainya tangan dia tidak menahan laju pisau tepat mengenai mukanya, mungkin matanya sudah buta. Tangannya menangkis. Berdarah. Penuh luka. Pendekar kita tentu saja tidak kalah. 6 pengeroyok juga kena gebuk. Bajingan itu kabur. Tapi sayangnya akibat luka itu tidak mungkin bisa mengejar 6 bajingan itu.
Kawan-kawannya yang dikabari di whatsapp group baru berdatangan. Sangat kesal. Markas para preman itu diporak porandakan. Tempat prostitusinya mowak mawik. Kawan-kawan pendekar balas dendam.
Lalu bagaimana dengan keadaan pendekar?
Setelah perang di jalanan, langkah selanjutnya perang di meja hukum. Bersambung dulu, temukan di tulisan selanjutnya.
No comments:
Post a Comment