Tidak ada teori revolusi tanpa praktek revolusi, begitu pula sebaliknya – Vladimir Ilyich Ulyanov, dalam bukunya, What Is To Be Done? 1902.
Vladimir Ilyich Ulyanov, atau masyhur dikenal Lenin, adalah salah satu tokoh idola pendekar kita. Dia terinspirasi banyak hal dari gerakan-gerakan kiri. Termasuk bapak kiri Indonesia, Tan Malaka. Di tulisan Pendekar (1), saya sudah menjelaskan bahwa dia adalah aktivis yang murni aktivis.
Dia aktivis kiri, ideologinya punk. Kumpul anak vespa. Tapi siapa sangka, di lingkaran itu justru dia adalah jalan dakwahnya. Secara genetik, dia Gus, anak seorang Kiai. Abahnya adalah jalan petunjuk dalam tiap langkahnya menuju salik. Dia akan meminta restu saat melakukan sesuatu. Bahkan di malam itu,
“Jika kamu mati, Nak. Aku yang akan bertanggungjawab membesarkan anak-anakmu.” Abahnya meneguhkan hatinya.
Pendekar kita berangkat perang, dan kita tahu dia sekarang tumbang. Berbaring di rumah sakit. Lukanya dijahit. Situasi mencekam. Komunitas vespa berkumpul. LSM Bajingan Preman berhimpun. 2 irisan itu siap perang. Di jalanan kabupaten yang sepi dan panjang sudah disepakati.
Parang. Samurai. Rantai. Siap diayunkan. Secara kuantitatif tentu saja barisan preman itu kalah jumlah. Komunitas vespa datang dari mana saja. Dari berbagai daerah. Atas nama solidaritas untuk pendekar kita.
Barisan LSM ciut. Mereka berpikir, orang-orang vespa jika mati tidak mungkin ada yang menangisi. Begitulah vespa. Tapi jika LSM mati, masih ada anak istri yang harus dinafkahi.
LSM menyerah.
Paginya, loreng hijau menemui kakak pendekar kita. Saya belum cerita kakak pendekar. Dia adalah lawyer terkenal di daerah. Advokat yang merakyat. Dia yang selama ini mem-backup sepak terjang pendekar kita. Meskipun si kakak tentu saja banyak sambatnya.
Loreng hijau memberikan 80 juta. Kepada kakak. Si kakak tentu saja harus berhimpun dulu dengan pendekar kita. Pendekar tentu saja menolak. Meja hijau harus diteruskan. Perjuangan hukum harus ditegakkan. Kira-kira begitu kata pendekar.
Namun nyatanya, sampai kasus berakhir, tidak ada dalang yang betul-betul bertanggungjawab. Hanya sekumpulan 6 preman itu yang dipenjara 4.5 tahun.
Pendekar kita, tentu saja sudah berjuang. Sekuat-kuatnya iman. Dan toko obat jahanam sampai sekarang masih terus menjual obat terlarang.
Saat pendekar menolak damai uang 80 juta. Saya sebenernya biasa saja. Itu adalah bentuk penolakan yang memang seharusnya. Tapi ada momen yang dia ceritakan yang membuat saya sesintimentil. Masih tentang uang.
Dulu, di kalangan kami, sebagai aktivis mahasiswa adalah kebanggaan. Yang tentu saja tidak hanya sekedar dapat pengalaman. Kami terhubung kepada banyak senior yang “sukses”. Itu adalah salah satu akses masa depan. Menjadi dinda yang baik. Siap terjun demo atas arahan senior. Misalnya.
Di kalangan kami, sebagian memang seperti itu, dan sebagian lagi tentu saja tidak. Saat salah satu kawan angkatan pendekar kita ini mampir ke rumahnya, membawa mobil, baju yang necis. Tampangnya tidak seperti aktivis. Sepatu mahal. Dia menawarkan pendekar kita masuk ke partai. Pendekar menolak. Dia ingin hidup apa adanya. Biasa saja.
Setelah bincang lama. Bernostalgia. Tibalah momen, ketika kawan pendekar kita pamitan. Kawan pendekar memberikan uang segepok ke anak pendekar. Kira-kira mungkin 3 juta. Si anak menolak dengan halus.
“Kata abah, Naura tidak boleh menerima uang dari siapapun yang tidak jelas.”
Saya mak deg. Allah. Merinding.
Betapa pendidikan yang sangat penting ini kadang saya abaikan. Bahkan kepada anak saya sendiri. Kata pendekar, momen di situlah dia menang besar. Meskipun motornya vespa butut. Rumahnya sederhana. Dan kawannya yang kini kaya raya. Rasanya kekayaan itu kalah dengan pendidikan yang ditanamkan pada anak-anaknya.
Kemenangan-kemenangan pendekar tentu saja tidak hanya itu, di banyak peristiwa, puluhan kali gelut di jalanan, berdebat argumentasi di panggung-panggung akademik, banyak ia menangkan. Tapi ada peristiwa yang tidak mungkin ia menangkan. Dia tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri ketika beceng anggota menepikan dia di jalan. Saat dia mempertanyakan legalitas pembangunan PT di daerahnya.
Peristiwa ini sangat melelahkan jika diingat. Bahkan momen saat Agustus 2025 kemarin. Saat banyak aktivis ditangkap. Tanpa proses hukum yang berarti. Ini akan diceritakan di serial selanjutnya. Insya Allah.
No comments:
Post a Comment