Laki-laki memang tidak menangis, dik. Tapi hatinya berdarah. –Rusdi Mathari 2017.
Sudah hampir sepuluh tahun, petuah Cak Rusdi mengudara, tersebar di rak-rak perpustakaan, digital dan offline. Tentang laki-laki yang terus terngiang terhadap kenangan. Dan doa-doa yang saban hari dirapalkan.
Ya Allah, dik. Ini bulan Juni, bulannya bapak Sapardi. Dan kita, sebagaimana manusia kelas menengah Indonesia, ya hanya itu-itu saja. Barangkali bapak Sapardi tidak mengira bahwa puisinya menjadi nyata. Hujan yang tak kenal musim dan angin.
Sementara dik, aku sudah mengatakan sebenernya. Berjuang sebisa-bisanya. Sudah melakukan yang terbaik. Tidak banyak. Dan aku tidak tahu, apa yang aku lakukan akan baik untuk mu. Untuk kita.
Masya Allah, Dik. Seharusnya sore ini saya berada di tepi sungai. Memandangi alang-alang masa lalu, yang pernah tumbuh, dan membuat gatal. Merasakan angin mengusik batang-batang padi. Sebelum matahari meninggalkan senja. Melihat perahu para penggali pasir. Sementara anak-anak gembala bertopi koran. Berangkat pulang ke rumah. Itu kata Franky Sahilatua. Syair yang sering didengarkan bapakku dengan kaset pitanya yang usang.
Nyatanya, sore ini. Kita masih mematut-matutkan diri, di ruangan ini. Kita memang butuh becermin, Dik. Bukan bercermin. Meskipun alang² banyak merecoki dan banyak tumbuh di dada. Tapi hati kita siapa yang punya.
Maka di sinilah kita, terperangkap di antara dinding ruangan yang kaku dan jam dinding yang berdetak serak. Di luar, rintik Juni jatuh satu-satu, persis seperti tebakan Pak Sapardi yang tak pernah meleset tentang ketabahan. Bedanya, ketabahan kita hari ini harus dibagi dua: antara menyembunyikan luka yang berdarah di dalam, atau terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan cermin yang buram.
"Sudah," bisikku pelan, entah pada angin yang menyelinap di sela jendela, atau pada bayanganmu yang berdiri di sudut mata. Aku sudah menyerahkan segalanya yang tersisa dari isi dompet dan isi kepala manusia kelas menengah. Berjuang sampai ke batas paling tepi, tempat di mana doa-doa tidak lagi diucapkan dengan suara, dengan denyut nadi yang tanpa jeda
Kalau nanti perjuangan ini ternyata keliru untukmu, untuk kita, setidaknya catatlah satu hal: aku tidak pernah setengah hati. Hidupku selalu totalitas.
Dan sore akan segera melesat menjadi malam, Dik. Anak-anak gembala bertopi koran di lagu Franky Sahilatua mungkin sudah sampai di rumahnya yang hangat, merebahkan kepala di ranjang bambu tanpa perlu memikirkan besok harus mematut diri menjadi siapa lagi. Sementara kita? Kita masih di sini. Menghitung sisa hari di bulan Juni, sambil meraba dada kiri; memastikan bahwa yang berdarah di dalam sana masih sanggap berdetak untuk esok hari.
No comments:
Post a Comment