Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Monday, 22 June 2026

The Big Fish

Daniel Wallace, novelis Amerika mengisahkan keharuan romantisme anak laki-laki dan bapaknya: The Big Fish 1998. Kemudian difilmkan (tahun 2005?).


Kisahnya. Edward Bloom adalah seorang pria lansia, ia dikenal sebagai pencinta cerita. Sepanjang hidupnya, dia selalu menceritakan kisah-kisah luar biasa, ajaib, dan cenderung tidak masuk akal tentang masa mudanya kepada siapa saja —mulai dari bertemu raksasa baik hati, kota tersembunyi di tengah hutan, hingga bagaimana dia menangkap ikan raksasa yang tak pernah bisa ditangkap siapa pun menggunakan cincin kawinnya.


​Namun, anak laki-lakinya, Will Bloom, bosan dengan semua dongeng itu. Setelah dewasa, Will merasa ayahnya adalah seorang pembual, yang menggunakan cerita fiksi untuk menutupi kenyataan, bahwa dia sering meninggalkan rumah demi pekerjaannya, traveling salesman. Ya, pedagang keliling! Will merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya yang asli. Ketegangan ini, membuat hubungan mereka renggang, hingga mereka tidak saling bertegur sapa, selama bertahun-tahun.


​Cerita bergerak, ketika Edward jatuh sakit keras karena kanker dan sisa umurnya tidak lama lagi. Will, yang kini sudah menikah, akan segera menjadi seorang ayah, ia memutuskan, pulang ke rumah masa kecilnya di Alabama, untuk mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.


​Di ranjang kematian ayahnya, Will mencoba menuntut satu hal: kejujuran tanpa bualan. Dia ingin, ayahnya menceritakan fakta yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Edward menolak untuk melepaskan cerita-ceritanya, karena baginya, cerita-cerita itulah identitas dirinya yang sejati.


​Dalam sisa waktu yang krusial itu, Will mulai menelusuri kembali masa lalu ayahnya untuk memisahkan mana fakta dan mana mitos. Namun, menjelang detik-detik terakhir napas sang ayah, Will justru menyadari sebuah hakikat terdalam: bahwa, sebuah dongeng yang indah jauh lebih nyata dan bermakna daripada realitas yang membosankan.


Dan kau tahu, dik. Saat upacara pemakaman Edward, Will terkejut. Orang-orang yang datang ke pemakaman ayahnya ternyata adalah orang-orang yang selama ini ada di dalam dongeng Edward.


​Raksasa itu memang ada. Hanya saja dia pria yang sangat tinggi. Penyihir itu ada. Hanya wanita tua eksentrik. Dan seterusnya. Will akhirnya menyadari dua hal penting:


Pertama, ​cerita ayahnya tidak sepenuhnya bohong. Ayahnya hanya melebih-lebihkannya agar hidup yang sulit dan membosankan terasa lebih indah bagi anaknya.


Kedua. ​Cara ayahnya meninggalkannya dulu lewat dongeng adalah cara sang ayah menunjukkan cinta. Edward ingin dikenang sebagai pahlawan besar di mata anaknya, bukan cuma sebagai penjual keliling yang biasa-biasa saja.


Ketika, di media sosial banyak cerita tentang sosok bapak, banyak komentar, bahwa bapak mereka telah sombong sekian puluh tahun. Sudah tidak mau bicara. Sudah tidak mau menengok anaknya. Karena si bapak. Telah lama meninggal dunia. 


Duhai kalian bertiga, yang selalu kubesarkan dengan cerita, sastra, dan cinta. Terima kasih telah bersedia menjadi pendengar terbaik bagi dongeng-dongeng bapak. Tumbuhlah dengan jiwa yang kaya, meskipun hidup kita seperti ini saja. Selayaknya manusia Indonesia. 




No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE