Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 28 April 2019

Wali

Wali.
"Ulama yang dianggap besar adalah ulama yang laku dan terkenal. Sementara kekasih Allah yang tinggal di lereng gunung, yang setiap hari senantiasa menangis karena melihat manusia yang semakin hari semakin tamak dan bergegas menuju ke hancuran, tidak pernah diperhitungkan oleh siapapun. Alasannya sederhana: dia tidak masuk tv." -Prayogi R. Saputra, dalam Spiritual Journey Emha.
Akan kuceritakan kepadamu, dik, tentang kisah wali. Tahun ini tahun politik, meski hujan dan udara dingin, orang awam seperti kita kepala akan ikut panas, jika lihat adu goblog oleh kedua kubu muncul di postingan. Alangkah baiknya, kita perbanyak membaca dan mendengar kisah agung para kekasih Tuhan.
Kisah ini diceritakan oleh panutanku, Gus Azinuddin Aufar Jika kamu tahu nama besarnya, pasti kau paham dengan hobinya; pemanjat gunung. Bukan gunung yang lain, tapi gunung sebenar-benarnya gunung.
Suatu ketika, saat dalam perjalanan mendaki di daerah Timur. Dia bertemu dengan seorang yang sudah sepuh. Bapak tua ini mendaki gunung seorang diri. Mereka ketemu di tempat ngaso untuk bermalam, setelah tenda didirikan, Gus Azinuddin mendekati simbah. Singkat cerita, dalam berbagai percakapan antara Gus Din (panggilan akrab Gus Azinuddin) dan simbah terseliplah kisah:
Simbah saat muda dulu hobi mendaki. Pada suatu malam di pendakian. Saat dia akan bermalam, ternyata tenda yang dibawa rusak. Waktu itu cuaca sangat berangin dan hujan lebat. Simbah terus berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba simbah melihat gubuk kecil.
Dia mengetuk pintu gubuk dan berkata:
"Tendaku rusak, apa boleh aku berteduh di sini?"
Tuan rumah menerimanya. Simbah masuk ke dalam gubuk. Simbah diperbolehkan berteduh, bahkan menginap. Tidak hanya itu, dalam gubuk sederhana, ia disuguhi berbagai makanan yang enak dan lezat.
Malam itu, ketika akan tidur, simbah mendengar suara aneh. suara yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Merdu, mendayu serta menghanyutkan pendengaran. Seakan suara itu suara surgawi. Malam itu simbah tidak bisa tidur karena suara tersebut.
Esoknya, dia bertanya kepada tuan rumah. suara apa yang didengarnya malam itu. Tuan rumah menjawab: "Aku tak bisa memberitahumu, karena kamu bukan seorang ahli zuhud, bukan sufi apalagi wali".
Dia memohon penjelasan berulangkali, tapi tetap ditolak.
Simbah terpaksa pergi dengan kecewa.
Bertahun-tahun kemudian, setelah tidak mampu melupakan suara itu, simbah kembali ke gubuk di gunung dan memohon lagi.
"Aku tak bisa memberitahumu, sebab kamu bukan ahli zuhud, bukan sufi apalagi seorang wali."
"Sependek pemahamanku, wali itu hak prerogatif Tuhan, Tuhan sendiri yang menatapkan siapa yang menjadi kekasihNya. Tapi hidup zuhud bisa diupayakan. Jika cara untuk mengetahui sumber suara tersebut adalah menjadi zuhud, maka tolong ajarkan aku ilmu zuhud".
Tuan rumah menjawab: "Kamu harus berkelana menjelajah bumi, dan kemudian beritahu kami ada berapa banyak batang rumput di dunia dan berapa banyak jumlah pasir yang ada. Saat kau menemukan jawabannya, tentu akan mengajarkanmu ilmu zuhud."
Simbah mulai pengembaraan, puluhan tahun kemudian simbah kembali, dengan rambut sudah memutih semuanya.
"Guru, saya sudah mengetahui jawabannya. Secara desain ilahi, bumi selalu dalam kondisi berubah terus menerus, hanya Tuhan yang tahu jawaban dari pertanyaan yang dulu engkau ujikan. Semua manusia hanya bisa mengetahui tentang dirinya sendiri, itupun cuma bisa kalau yang bersangkutan jujur, instrospektif dan bersedia menyingkirkan segala kemunafikan."
Tuan rumah menjawab: "Selamat, kamu bisa menjadi pembelajar zuhud di sini. Aku akan menunjukkan padamu jalan ke misteri suara suci yang kau cari."
Kemudian simbah dibawa ke sebuah pintu kayu. "Suaranya berasal dari balik pintu reot itu," kata tuan rumah sambil menyerahkan kunci.
Dia membuka pintu itu, ternyata di balik pintu kayu itu ada peti yang terbuat dari batu. Tuan rumah memberi kunci untuk peti batu tersebut dan ketika simbah membukanya, ternyata ada peti yang terbuat dari rubi. Berturut-turut setelah membuka pintu rubi, ada peti dari jamrud, mutiara dan intan.
Terakhir simbah menemukan peti yang terbuat dari emas. Suara surgawi yang dia cari sudah terdengar jelas. Tuan rumah menyerahkan kunci peti emas sambil berkata: "Ini peti terakhir, jawaban yang kau cari ada di balik peti ini."
Dengan tangan gemetar, simbah membuka kunci peti emas, dan perlahan membuka pintu itu. Begitu melihat sumber suara yang dicarinya berpuluh tahun, pesona dari apa yang dia lihat membuatnya tak kuasa berdiri, dia jatuh berlutut.
Apa yang simbah lihat sampai jatuh, berlutut dan menangis tersedu sedih adalah....
"Aku tak bisa menceritakan apa yg simbah lihat. Karena kau bukan ahli zuhud, bukan sufi, apalagi wali", kata Gus Din kepadaku.
"What The......." kataku dalam hati.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE