#DearDifa
Natal sudah terlewat, tahun baru juga sudah kita injak. Agenda tahun ini insya Allah akan lebih seru. Ketika saya menulis ini, baru saja saya menyelesaikan pekerjaan laporan akhir tahunan, yang melebihi batas waktu sampai tahun baru. Apa saya zolim? Mungkin saja iya. Tapi saya akan memberikan yang terbaik. Meski harus jungkir balik.
.
.
Semalam kita tidak kemana-mana. Selain saya tidak suka keramaian, saya juga masih banyak pekerjaan. Di luar juga semalam hujan. Kamu seperti biasa tidur di atas jam 10 malam. Tahun 2019 adalah hal yang luar biasa dalam hidup saya. Tuhan selalu tidak tega kepada saya, kepada kita. Cintanya selalu memercik kepada kita. Tahun ini saya mempunyai tekad: Setidaknya seminggu sekali, sesibuk apapun, saya akan rajin menulis di blog ini. Itu target saya. Entah bagaimana nanti dengan realisasinya.
.
.
Bisa jadi menulis di blog ini adalah pekerjaan yang melelahkan. Karena tidak ada keuntungan finansial. Kadang juga saya heran kepada diri sendiri: Profesi saya bukan wartawan, juga bukan penulis. Profesi saya tidak jelas. Tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis. Lalu untuk apa saya menulis. Tapi setidaknya, jiwa raga saya merasa bahagia, ketika saya menyelesaikan satu judul tulisan. Ada rasa kepuasan.
.
.
#DearDifa. Saya meyakini, motivasi itu bukan dari luar kita. Tapi motivasi ada dalam manusia. Di dalam relung jiwa yang sunyi. Percayalah, kita sebenarnya tidak membutuhkan motivator. Kata presiden Jancukers, motivator sebenarnya motivancuk. Maka api itu saya gali, dan saya akan berusaha menjaganya agar tetap selalu menyala.
.
.
Api motivasi itu bernama Bapak saya. Kakekmu. Saat beliau meninggal dunia. Saya masih duduk kelas 1 SMP. Usia saya saat itu belum genap 13 tahun. Dalam usia segitu, tentu saja saya tidak benar-benar mengenal siapa sebenarnya bapak saya. Seciprat kenangan dan hangatnya kasih sayang tentu saja masih saya ingat. Dan kenangan-kenangan itu timbul tenggelam. Semoga suatu saat saya bisa menuliskan.
.
.
Terkadang dalam lamunan, saya ingin benar-benar tahu siapa bapak saya sebenarnya, bagaimana jalan pikirnya. Pengalaman dan perjalan hidupnya seperti apa. Terkadang, jika ada kesempatan, perjalan hidupnya dikisahkan oleh Ibu saya. Satu dua kawan bapak juga pernah mengkisahkan beberapa halaman perjalanan kehidupan bapak.
.
.
Bapak saya guru honorer biasa. Konon juga pernah menjabat kepala sekolah. Beberapa mantan muridnya, ketika dalam suatu kesempatan bertemu saya, memberikan kesan yang mendalam tentang Bapak ketika menjadi guru. Tapi sayang sekali, semua kisah dan perjalanan [Sedih, senang, dan bahagianya] tidak pernah dibagikan langsung kepada saya.
.
.
Harapan saya: Saya, kamu dan Ibumu selalu sehat. Umur kita panjang. Kami bisa melihatmu berkembang dan mengarungi dinamika kehidupan. Sembari semua berproses. Ijinkan saya mencatat untukmu. Menulis dan melantur apa saja. Barangkali suatu saat bermanfaat. Semoga kita selalu diberkahi dan diridhoi Allah.
Tegal, 1 Januari 2020
No comments:
Post a Comment