Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saturday, 11 January 2020

Perempuan dan Shalat


#DearDifaa

Hari ini, hari minggu, jam 06.00 kamu masih terlelap. Biasanya kamu akan bangun satu setengah jam lagi. Seperti biasa, kamu tidur sangat malam. Semalam hujan. Sederas apapun hujan, ia adalah rahmat. Sebencana apapun dunia, kasih Tuhan akan selalu melekat.
.
.
Hari-hari Januari tahun ini adalah hari yang melelahkan. Dunia diselimuti kesedihan. Berbagai bencana alam menghantam. Juga bencana perang. Jenderal Iran, Qassem Sulaimani yang Syahid dirudal Amerika dengan cara curang, di Bandara sipil Irak, ia mempunyai anak. Anak itu seorang perempuan, tentu saja ia pasti bersedih ditinggal Ayahnya meninggal. Tapi kata-katanya yang mengalir indah mencerminkan jiwanya yang teguh, kurang lebih begini:  “Ayah saya bak botol kaca yang berisi parfum, jika seseorang memecah botol itu, wewangian akan menyerbak keseluruh dunia.” Tidak harus faham pepatah Parsi untuk memahami kalimat tadi.
.
.
Konon, maju mundurnya bangsa bergantung pada bagaimana isi pikiran para perempuannya. Ada khadijah yang mendukung dakwah nabi Muhammad. Ada Fatimah sang mutiara. Di Nusantara, terdapat banyak perempuan selain Kartini yang punya andil dalam peradaban banga kita, mereka tidak dikenal permukaan. Dan nama anak perempuan sang jenderal yang Syahid itu adalah Zainab Sulaimani. Catatlah, Difa, barangkali akan berguna untukmu suatu saat nanti.
.
.
Membicarakan tentang perempuan, semalam kita shalat maghrib di rumah. Kamu merajuk. Meminta ibumu shalat berdiri di depan, sedang Ayahmu di belakang. Ibumu memberimu nasihat, menganalogikan:
“Saat kita naik motor, kita jalan-jalan, posisi ayah ada di mana?”
“Di depan.” Jawabmu.
“Kalau Mama?”
“Di belakang”.
“Kalau Difa?”.
“Pangku, atau di tengah”. Jawabmu dengan tertawa.
“Nah, berarti kalau shalat, Mama juga di belakang”.

Akhirnya, kamu memahami itu. Dan posisi Ayah tidak bisa dimakzulkan dari Imam. Tapi tahukah kamu, Difa. Barangkali ini akan menjadi perdebatan panjang saat kau besar nanti. Ada pendapat Fuqaha yang tidak populer, seorang perempuan boleh menjadi Imam laki-laki. Lelaki itu seorang layaknya lelaki, ia bukan banci. Tapi pendapat ini tidak populer. Dan mungkin tidak boleh dipopulerkan. Saya tidak memunculkan sumbernya. Cari literasi sendiri. Tentu saja saya tidak memaksamu untuk menyetujui pendapat yang tidak populer itu.
.
.
Terus belajar, belajar terus, Nadifa.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE