#DearDifaa
Hari
ini, hari minggu, jam 06.00 kamu masih terlelap. Biasanya kamu akan bangun satu
setengah jam lagi. Seperti biasa, kamu tidur sangat malam. Semalam hujan. Sederas
apapun hujan, ia adalah rahmat. Sebencana apapun dunia, kasih Tuhan akan selalu
melekat.
.
.
Hari-hari
Januari tahun ini adalah hari yang melelahkan. Dunia diselimuti kesedihan. Berbagai
bencana alam menghantam. Juga bencana perang. Jenderal Iran, Qassem Sulaimani yang
Syahid dirudal Amerika dengan cara curang, di Bandara sipil Irak, ia mempunyai
anak. Anak itu seorang perempuan, tentu saja ia pasti bersedih ditinggal Ayahnya
meninggal. Tapi kata-katanya yang mengalir indah mencerminkan jiwanya yang
teguh, kurang lebih begini: “Ayah saya
bak botol kaca yang berisi parfum, jika seseorang memecah botol itu, wewangian akan
menyerbak keseluruh dunia.” Tidak harus faham pepatah Parsi untuk memahami
kalimat tadi.
.
.
Konon,
maju mundurnya bangsa bergantung pada bagaimana isi pikiran para perempuannya. Ada
khadijah yang mendukung dakwah nabi Muhammad. Ada Fatimah sang mutiara. Di Nusantara,
terdapat banyak perempuan selain Kartini yang punya andil dalam peradaban banga
kita, mereka tidak dikenal permukaan. Dan nama anak perempuan sang jenderal
yang Syahid itu adalah Zainab Sulaimani. Catatlah, Difa, barangkali akan berguna
untukmu suatu saat nanti.
.
.
Membicarakan
tentang perempuan, semalam kita shalat maghrib di rumah. Kamu merajuk. Meminta ibumu
shalat berdiri di depan, sedang Ayahmu di belakang. Ibumu memberimu nasihat,
menganalogikan:
“Saat
kita naik motor, kita jalan-jalan, posisi ayah ada di mana?”
“Di
depan.” Jawabmu.
“Kalau
Mama?”
“Di
belakang”.
“Kalau
Difa?”.
“Pangku,
atau di tengah”. Jawabmu dengan tertawa.
“Nah,
berarti kalau shalat, Mama juga di belakang”.
Akhirnya, kamu memahami itu. Dan posisi Ayah
tidak bisa dimakzulkan dari Imam. Tapi tahukah kamu, Difa. Barangkali ini
akan menjadi perdebatan panjang saat kau besar nanti. Ada pendapat Fuqaha yang
tidak populer, seorang perempuan boleh menjadi Imam laki-laki. Lelaki itu seorang
layaknya lelaki, ia bukan banci. Tapi pendapat ini tidak populer. Dan mungkin
tidak boleh dipopulerkan. Saya tidak memunculkan sumbernya. Cari
literasi sendiri. Tentu saja saya tidak memaksamu untuk menyetujui pendapat
yang tidak populer itu.
.
.
Terus belajar, belajar terus, Nadifa.
No comments:
Post a Comment