Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Wednesday, 29 January 2020

Sebaik-baik Manusia

#DearDifaa

Junjungan kita, Muhammad SAW. adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dia adalah master piecenya alam semesta. Tanpa kanjeng nabi, seisi dunia dan akhirat tidak akan tercipta. Dari sekian banyak kehebatan dan kisah-kisah hero tentang beliau, saya sangat suka dengan sikap tawadhu' beliau. Tawadhu' itu rendah hati.
.
.
Nabi yang sebaik-baiknya makhluk Allah pernah ngendika: "sebaik-baik manusia adalah kebermanfaatannya untuk manusia lain". Maknanya, nabi, yang bagaikan permata dianatara bebatuan, mengajak kita— para butiran debu kerikil, untuk menjadi manusia unggul. umatnya diberi kesempatan untuk mengikuti tauladan beliau–menjadi sebaik-baik manusia.
.
.
Sudah dua hari ini, pikiran saya kacau dan embuh. Seseorang yang kamu sebut dengan "Um Kaji" meninggalkan kita semua untuk selamanya. Dia sebenarnya bukan siapa-siapa kita. Tidak ada hubungan darah dengan kita. Namun secara emosi, dia sangat erat sekali.
.
.
Um kaji, secara teknis adalah orang yang membantu Ibu saya–nenekmu, berdagang di pasar. Namun realitanya setelah pulang dari pasar, selepas dzuhur, terkadang dia membantu permasalahan apa saja di rumah. Mulai dari hal-hal besar seperti membetulkan drainase yang mampet, membenarkan gendeng bocor, mencabut rumput depan rumah, dll.
.
.
Hingga hal yang remeh-temeh seperti membakar sampah, Um Kaji melakukannya. Bahkan pohon pisang di samping rumah adalah Um Kaji yang menamnya. Pohon mangga depan rumah kita, dulu beli cangkokan. Um Kaji lah yang memberi pupuk dan menyiram saat masih kecil. Ketika sudah besar, pohon mangga itu selalu berbuah tanpa kenal musim. Tidak jarang Um Kaji memanjat pohon itu untuk memetik mangga yang akan dipersembahkan untukmu. Kamu penyuka mangga.
.
.
Um Kaji tidak pernah jatuh sakit, dia selalu terlihat energik. Namun, karena sering membawa beban yang berat, Um Kaji pernah dioperasi hernia. Sebanyak dua kali. Saat operasi pertama, kami pikir, setelah operasi, dia akan pensiun dari pasar. Kenyataanya tidak. Seminggu setelah operasi, dia berangkat lagi.
.
.
Sebutannya Um Kaji, tentu dia pernah berhaji, saat berangkat haji inilah, Ibu saya benar-benar kerepotan. Tidak ada yang membantu Ibu di pasar, maka saya harus turun tangan. Tenaga saya tentu tidak sehebat Um Kaji untuk memanggul 50 Kilogram gula atau tepung aci, maka saya merasa ngap-ngapan. Dibantulah tenaga lain. Dan masih tidak sekuat Um kaji. Kami pikir, sepulang dari naik haji, Um Kaji tidak akan berangkat membantu di Pasar lagi. Kenyataannya tidak. Um Kaji masih ingin membantu lagi.
.
.
Suatu ketika, Um Kaji merasa sakit hernia lagi. Operasi yang dulu sebelah kanan, kini yang dia rasakan sebelah kiri. Saya yang mengantarkan untuk operasi kali kedua. Saat operasi inilah, tim dokter yang menangani operasi menunda karena suatu hal. Suatu hal inilah yang kelak suatu hari menjadi jalan berpulangnya dia menuju keabadian. Namun setelah diberi treatment operasi segera dijalankan. Kami juga berpikir, setelah operasi kedua ini, Um Kaji akan benar-benar pensiun. Dugaan kami selalu salah, Om Kaji baik-baik saja. Bahkan saya masih ingat, Om Kaji pulang dari operasi dengan menggunakan sepeda motor. Kuat sekali.
.
.
Akhir Januari 2020, hari minggu, di subuh yang membisu. Saya mengantar ibu saya ke pasar. Biasanya sudah ada Um Kaji di sana yang sudah membukakan toko. Namun pagi itu toko masih petang. Hanya lampu kuning yang redup bersusah payah menyinari gang. Biasanya, jika Um Kaji tidak berangkat, kunci di taruh di atas. Saya cari. Saya coba raba. Hasi nihil tidak ada.
.
.
Ibu saya mendapatkan telepon. Di ujung sana, suara dari keluarga Um Kaji. Suara itu menangis. Tidak jelas. Kami panik. Menduga-duga. Sebenarnya apa yang terjadi. Untuk memastikan, saya bergegas menuju rumahnya. Di depan rumah Um Kaji, sudah ada banyak tetangga yang membawa surat Yasin. Saya itu juga, saya tidak percaya, Um Kaji sudah benar-benar tidak ada.
.
.
Sabtu siang, Um Kaji masih sehat. Masih bugar. Saya juga sempat berkomunikasi. Minggu pagi, ketika dia akan pergi ke pasar, menstarter motornya tidak nyala. Dia terjatuh. Disinyalir serangan jantung. Namun Um Kaji saat serangan jantung itu dia sempat melawan maut, dia segera bangun. Tapi tubuhnya roboh kembali. Dan kita semua tahu, Um Kaji sejak minggu ini, benar-benar pensiun.
.
.
Um Kaji di pasar tidak hanya membantu Ibu saya saja. Juga mencabang, membuka dan menutup toko Haji Toni. Di pasar juga terkenal supel, periang, suka bercanda, dan hal-hal lain yang positif. Tentu saja banyak orang yang kehilanhan sosok Um Kaji.
.
.
#DearDifa. Saya mengkisahkan ini agar kamu kelak, saat sudah besar tidak lupa, pernah ada sosok Um Kaji yang dekat dengan kita. Juga banyak sekali orang yang menyayangimu—menyaksikan dan berbahagia atas kelahiranmu—,  mereka telah meninggalkan kita: alm. Hj. Aisyah, beliau adalah buyutmu, ibu dari mbah kakung dari jalur Ibumu. Lik Ulwiyah, dia adalah adik mbah putri dari jalur ibumu. Juga mbah H. Abdul Wahab, yang selalu menawarkanmu Yakult saat kita berkunjung, dia adalah kakak ipar dari nenek jalur bapak. Matua Baeh, yang kita pernah menjenguknya membawa pisang.
.
.
#DearDifa. Saya tidak menuntutmu untuk menjadi pribadi yang harus begini dan begitu. Bagi saya, menjadi manusia bermanfaat itu tidak harus menjadi pejabat atau ulama. Tidak harus menjadi guru, dosen, dokter, camat, bupati, gubernur, atau presiden. Menjadi manusia bermanfaat itu menyingkirkan duri dari jalanan. Atau saat kita berkendara memberi kesempatan orang menyeberang duluan. Kita ini hanya orang awam, melakukan sesuatu yang kecil-kecil saja. Barangkali kita kelak dikumpulkan dengan para sebaik-baik manusia.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE