Kemarin hari Minggu.
Dari pagi saya sudah sibuk di depan layar komputer, menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Membaca banyak hal untuk saya baca dan teliti.
Sebetulnya ini tidak perlu terjadi, jika manajemen waktu saya mumpuni.
Hal-hal yang saya lakukan saat minggu pagi sampai sore kemarin adalah pekerjaan bodoh yang saya lakukan. Istilahnya santri, saya menembel. Saya menambal beban pekerjaan selama satu semester dengan diganti satu hari.
Tentu kepala pusing, dengan sejumlah deadline yang ada.
Maka ketika sore tiba, dan pekerjaan sudah saya anggap selesai, saya menemui Difa dan Hilwa. Kami jajan cilok. Beli 4 ribu untuk dijadikan dua bungkus.
Difa makan ciloknya 4 biji. Habis. Hilwa makan 3 biji. Yang satu biji untuk diri saya sendiri. Anggap saja setusuk cilok itu sebagai bentuk apresiasi untuk diri saya sendiri setelah kerja minggu pagi sampai sore.
Suwun Gusti, ternyata saya masih keren (keren jare dewek mbuh apa wkwk).
Terkadang, untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang melelahkan dan berat, ada hal-hal yang di luar sana untuk membangkitkan semangat. Semacam energi di luar diriku sendiri. Pokoknya ini harus selesai.
Dan energi itu adalah doa ibu.
Semoga segalanya dimudahkan, kata ibu. Jadi di saat saya memasang tabung LPG, dan berhasil, itu bukan karena saya yang keren. Tapi doa ibu yang melampaui ke sana. Walau itu hanya sebatas memasang tabung.
Aihh aku. Jangan sombong wahai aku. Tapi kamu harus tetap aku apresiasi, Wahai aku. Setusuk cilok lagi untukku dan untukmu. Ada aku di dalam aku.
No comments:
Post a Comment