Kematian jenis apa yang kelak kau inginkan? Adalah pertanyaan yang kadang menari-nari di otak saya.
Di usia yang melewati kepala tiga lebih, saya pernah melihat banyak fenomena orang-orang dengan berbagai jenis kematiannya. Pun demikian dengan engkau, bukan?
Ada orang yang mati secara mendadak, dan tidak jarang juga banyak orang yang mati dengan melawati berbagai penyakit dahulu sebelum dia meninggalkan dunia untuk selamanya.
Salah satu kakek sahabat saya, dia mati dengan kesan lucu, kakek ini memang dalam kesehariannya adl orang yang lucu. Hidupnya penuh canda tawa. Pun saat dia dalam masa-masa terkahirnya, ketika dia sudah terbaring dalam sakitnya dia berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil, sambil mengatakan, “Aku kok arep mati ndadak pengin nguyoh mbarang ki loh, jan jan...”.
Setelah itu dia kembali masuk ke kamar dan memejamkan mata selamanya. Para keluarga yang menunggunya terkesima. Konon Tuhan tidak bertanya seberapa banyak hartamu, dan bagaimana pencapaian duniamu. Tapi seberapa banyak manusia yang engkau buat tertawa bahagia.
Kembali ke topik atas, jenis kematian seperti apa yang kelak akan kau inginkan.
Apakah dengan mendadak, tanpa banyak pesan, atau dengan organ-organ tubuh dan jaringanmu yang rusak terlebih dahulu. Sambil kamu merepotkan keluarga terdekatmu. Ya jika kamu punya keluarga dan kerabat dekat.
Maka yang paling keren adalah, suami dan istri yang tetap saling berbagi dan melayani meski diantara keduanya salah satunya sudah mendekati ajalnya. Tentu jika kamu sudah bersuami atau beristri.
Orang yang akan melawati kematian konon adalah orang yang merasa kesepian. Tidak ingin ditinggal. Dia ingin ditunggu terus menerus.
Anak-anak saya tentu saja bukan anak saya untuk melayani kelak saya. Anak saya adalah anak untuk jamannya. Jamannya lebih membutuhkan mereka ketimbang saya pribadi.
Saya juga tidak punya keluarga. Saya tidak punya adik, dan juga kakak. Lalu siapa yang akan menggantikan celanaku saat sudah tidak berdaya lagi untuk sekedar ke kamar mandi.
Siapa yang kelak akan membersihkan kotoran-kotoran ku. Yang cintanya melebihi jiji kepada kotoran itu.
Saya tidak tahu.
Jenis kematian kelak yang aku inginkan adalah yang mutmainah, jiwaku yang pasrah. Toh kata Gus Baha, hidup mati itu cuma sekedar pindah dari rahmatnya Allah di dunia menuju rahmatnya Allah di akhirat.
Hidup kok penak temen Gusti. Kelak mati pun semoga enak juga...
No comments:
Post a Comment