Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saturday, 29 July 2023

Mocopat Syafaat di 2015, Kebajikan Hari Ini

Suatu malam di tahun 2015, tanggal 17 Mei. Saya lupa harinya. Saya dan seorang kawan motoran dari Semarang menuju Yogya. Kemudian melingkar di Mocopat Syafaat. 

Hadir pula budayawan kondang Sujiwo Tedjo.


Saya masih ingat betul. Dalam tawasul awalnya Simbah, Setelah berkirim fatihah untuk Kanjeng nabi dan wali-wali, beliau bertawasul kepada kakek nenek moyang jamaah, untuk menghadirkan bahwa semua permalasahan para jamaah yang ada, agar nenek moyang mengetahui dan turut serta membantu berdoa supaya segala permasalahan hari ini segera menuju titik terang. 


Saya merinding. Seolah semua kakek nenek ku juga hadir di sana. Mengamini segala rengekan-rengekan manjak ku.


Setelah itu, Simbah berkirim fatihah, kepada anak cucu yang akan lahir kelak. Saya ber-amin sangat keras. Waktu itu, dua hari sebelumnya di tanggal 15 Mei, saya baru saja melamar perempuan yg kelak menjadi istri saya. Maka anak-anak saya hari ini adalah perwujudan dari doa-doa penuh kebaikan dan kebijaksanaan Simbah di malam itu.


Setelah tawasul selesai. Simbah berdoa untuk para jamaah, inti dari doa itu adalah, supaya para jamaah dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


Pada waktu itu, marabahaya dalam tafsir saya adalah kecelakaan lalulintas. Atau terkena musibah bencana alam. 

Namun, setelah 8 tahun hidup pasca Mocopat Syafaat malam itu, marabahaya itu tidak hanya sebatas kecelakaan lalulintas, atau musibah bencana alam non alam, tapi ternyata lebih jauh dari itu;


Kehidupan rumah tangga yang tentram, istri yang menerima. Hasil pekerjaan yang halal. Anak-anak yang saleh-salehah. Dan segala kehidupan yang tidak butuh intrik dan politik “kecurangan”, senggol kanan kiri, adalah bagi saya saat ini manifestasi doa Simbah untuk dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


......


Sudah menjadi kodratnya manusia, untuk merasa kekurangan. Setelah mendapatkan ini, pasti ingin itu.


Pun juga saya. Sebagai manusia biasa. 


Namun the wisdomnya Simbah selalu berputar-putar dalam telinga saya, kurang lebihnya;


Manusia itu akhsanu taqwim, masterpiece-Nya Allah. Lebih mulia dari apapun. Apalagi uang. Uang yang harusnya mengejarmu. Bukan kamu yang mengejar-ngejar uang.


Hari-hari ini saya berusaha memposisikan itu. Meskipun sulit. Tentu saya akan coba belajar. Saya tidak ingin mengejar apapun. Uanglah yang membutuhkan saya bukan saya yang butuh uang. 


Hidup lebih enteng. Lebih tentram. Saya tidak malu-malu mengakui bahwa saya ini anak maiyah. 


Maiyah memberikan saya banyak hal. Termasuk artikel jurnal ilmiah yang saya tulis tentang Simbah. Tapi saya tidak pernah berkontribusi apapun terhadap Simbah.


Doaku untukmu Simbah. Sehat cerah. Temani kami kembali.


No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE