Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 28 April 2019

Emapati

Empati
Apakah kamu pernah cuek kepada pedagang keliling, semisal ibu-ibu penjual nasi keliling atau gorengan keliling atau apapun, yang menjajakan barang dagangannya dengan memanggil-manggil calon konsumen? Saya sering. Terkadang saya hanya menjawab "mboten atau tidak". Karena memang saya enggan atau tidak membutuhkan 'dagangan' penjual tersebut.
Dulu ketika masih di Semarang, saya punya teman. Lebih tepatnya dia teman dari kakak-kakakku, sebut saja namanya A. Suatu ketika, saat kami sedang mengadakan acara tasyakuran kecil-kecilan di kediaman B. Bakar-bakaran. Lewatlah penjual coek, atau bahasa Tegalnya layah watu. A ini tipe orang yang tidak tega kepada orang lain. Dia akan membantu dan berkorbankan apa saja yang bisa ia korbankan. Meskipun dia jauh dari kata 'ada' (pada saat itu), dia akan menolong siapa saja yang bisa dia tolong. Dia akan bahagia jika di sekelilingnya baik-baik saja. Saya tidak bisa mendeskripsikan secara detail kebaikan A ini.
Kembali ke pedagang layah watu. Pedagang tersebut adalah seorang kakek. Layah-layah tersebut dipikul. Pasti sangat berat. Si kakek menawarkan dagangannya pada kami. A orang yang baik. Sangat baik. A hendak membeli layah karena kasihan kepada kakek. Namun belum sempat membeli, A dicegah oleh B. Dan B berkata kepada A:
"Jika kamu membeli layah hanya berbekal kasihan kepada si kakek, itu adalah awal kesombongan. Bahwa kamu jauh melebihi segalanya dari si kakek. Tidak kah kamu tahu, bahwa kakek ini orang yang kuat. Lagi pula kita tidak membutuhkan layah, karena di kediamanku sudah ada. Layah kakek ini akan terjual habis".
Sebagai junior, saya menjadi penyimak, dan mengambil banyak ilmu hikmah dari kedua kakak tingkat saya, A dan B.
****
Masih tentang empati. Saya punya teman kerja. Saat siang, kami ngaso di masjid tempat kerja, kami dihampiri oleh ibu-ibu penjual nasi. Terkadang kami membeli. Lebih seringnya tidak, karena kami sudah dibawakan bekal oleh istri untuk makan siang.
Ada hal yang menarik. Saat kami menolak ibu-ibu penjual nasi, setidaknya ada 3 kosakata yang teman saya ucapkan kepada ibu penjual: ngampunten, matur nuwun, dan mboten. Maaf, terimakasih, dan tidak.
Saking seringnya kami menolak ibu penjual nasi, hingga saya hapal persis tiga kosakata yang akan disampaikan oleh teman saya. Saya pun bertanya, kenapa harus dengan tiga kosakata tersebut. Kenapa harus minta maaf.
Dia menjawab dengan berkisah; teman kerja saya ini dulu studinya di luar negeri. Bertahun-tahun tinggal di sana hanya mendapat beasiswa studi. Tidak dengan hidupnya. Tempat tinggal, transportasi, uang jajan semuanya pribadi. Saat-saat uangnya menipis, dia nekat untuk menjual makanan khas Indonesia. Dia produksi sendiri, dan dia jual keliling sendiri. Dia menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu. Di lingkungan tempat tinggal warga Indonesia dan Malaysia.
Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Hodges, S.D., & Klein, K.J. (2001). Regulating the costs of empathy: the price of being human. Journal of Socio-Economics.
Kau tahu, dik, saya hanya belajar empati lewat teori-teori. Terlebih, saya bukan pembelajar yang baik

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE