Gacuk
Bukan jan*uk, adalah semacam senjata rahasia yang harus kau miliki, yang orang lain tidak punyai. Gacuk digunakan hanya saat ketika hidupmu terdesak. Saat kau bersedih, saat kau merasa sepi dan sendiri. Tanyakan dalam dirimu dalam sunyi. Gacuk seperti apa yang kau miliki?
Cerita ini saya dapatkan dari seorang teman, dia seorang Muhammadiyah, dia kuliah di Kairo. Teman saya ini mempunyai teman satu angkatan kuliah, sebut saja namanya Fulan. Fulan ini orang yang sangat istimewa, dia mahasiswa Al Azhar yang semangatnya luar biasa.
Ketika teman-teman satu angkatan sudah naik tingkat semua. Dia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang tidak pernah naik tingkat. Berbagai jurusan sudah ia jalani. Dan hasilnya nihil. Dia tidak naik tingkat! Saya tidak bisa bayangkan betapa kesepian, kesedihan, dan kesendirian Fulan pada saat itu. Bertahun-tahun di negara orang.
Fulan membaca keadaan. Dia tidak mungkin akan menjalani proses akademik yang melelahkan terus menerus. Sementara umurnya terus bertambah. Fulan banting setir. Singkat cerita dia bekerja sebagai satpam di KBRI Mesir.
Bertahun-tahun dia jalani bekerja sebagai satpam. Dia sudah bukan mahasiswa Al Azhar lagi. Ketika KBRI membuka peluang bagi pekerjanya untuk kuliah jarak jauh di Indonesia, Fulan mendaftar. Dia diterima di UAD Yogyakarta. Kuliah jarak jauh, pulang ke Indonesia hanya saat prosesi wisuda.
Setelah menamatkan S1, Kemudian kembali berangkat lagi ke Mesir, masih bekerja di KBRI. Suatu ketika KBRI membuka peluang bagi para pekerjanya untuk melanjutkan pasca sarjana. Fulan mendaftar. Kuliah jarak jauh lagi di UNS. Pulang ke Indonesia saat penyusunan tesis. Selesai dengan tugas akhir magister, kemudian ia diwisuda.
Setelah S2 selesai, Fulan tidak kembali ke Mesir. Dia menetap dan tinggal di Indonesia. Ketika pemerintah membuka beasiswa program doktoral, dia mendaftar. Singkat cerita dia lolos sebagai doktor dan kemudian dia diterima di sebuah kampus negeri sebagai dosen tetap non pns.
Karir teman-teman satu angkatannya dulu di Mesir yang lulusan S1 hanya mentok jadi guru, dai, ustadz. Sementara Fulan tidak membawa embel-embel "lulusan Al Azhar" tapi menjadi dosen tetap. Manis sekali bukan, karirnya Fulan? Tapi dia harus melewati kesedihan, kesepian yang panjang di negeri orang.
Dan terakhir, Fulan sekarang sudah berpulang. doktor filolog kebanggaan kampus telah meninggalkan dunia. Tuhan mencintai orang gigih, yang punya daya juang semangat luar biasa. Fulan punya gacuk yang sudah dia gunakan. Apa kita punya gacuk, dik?
No comments:
Post a Comment