Di tanah yang dikepung tembok dan doa, nama Marwan Barghouti masih disebut pelan-pelan oleh banyak orang. Bukan cuma oleh keluarga Fatah tempat ia lahir, tapi juga oleh Hamas—kelompok yang selama ini sering dianggap berseberangan.
Padahal keduanya lahir dari luka yang sama.
Bedanya, Fatah tumbuh dari jalur politik dan diplomasi, sementara Hamas memilih perlawanan bersenjata. Satu percaya pada meja perundingan, satu lagi percaya pada jalan perjuangan. Dan di antara keduanya, selalu ada rakyat yang masih mencari rumah.
Ketika Hamas menulis nama Marwan dalam daftar tahanan yang ingin dibebaskan, itu bukan sekadar strategi. Itu isyarat kecil bahwa mereka masih mengingat satu hal penting: bahwa kemerdekaan tak bisa lahir dari faksi, tapi dari persatuan. Bahwa Palestina, sebelum apa pun, adalah satu nama — satu nasib.
Israel menolak.
Marwan sudah lama dikurung sejak 2004, dijatuhi hukuman seumur hidup karena dituduh membunuh orang Israel. Tuduhan yang bagi banyak orang terdengar ganjil: bagaimana mungkin bangsa yang dijajah dihukum karena melawan penjajahnya, sementara sang penjajah menulis sendiri aturan tentang “keamanan”?
Dunia diam, sebagaimana biasa. Tapi Marwan tidak.
Dari dalam sel yang sempit, ia tetap menulis, tetap berbicara, tetap percaya. Ketika Fatah dan Hamas pecah pada 2007, ia justru menyeru agar rakyat berhenti saling menyalahkan.
“Yang kita lawan bukan satu sama lain,” begitu kira-kira pesannya, “tapi sistem yang membuat kita terus bertengkar.” Dan mungkin karena itu orang-orang menyebutnya: Mandela-nya Palestina.
Ia tak pernah mencari simbol. Hidupnya sederhana, suaranya datar, tapi tegas. Ia menolak berpura-pura percaya pada “proses perdamaian” yang dari awal tak pernah jujur. Ia tahu, perundingan takkan melahirkan kemerdekaan kalau tanahnya terus direbut, kalau rakyatnya terus diusir.
Baginya, melawan bukan pilihan, tapi kewajaran bangsa yang dijajah.
Di mata banyak rakyat Palestina, Marwan adalah napas panjang. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya soal tanah, tapi juga soal martabat. Sebuah bangsa bisa hancur bukan karena penjajahan, tapi karena kehilangan rasa percaya satu sama lain.
Dan mungkin di situlah bedanya Marwan dengan para pemimpin lain — ia bicara dari luka, bukan dari kursi.
Ketika ia sadar bahwa proses perdamaian hanyalah taktik untuk memperpanjang pendudukan, ia mulai mengambil jarak dari elit Fatah. Langkah itu membuatnya jadi target pembunuhan pada 2001.
Namun sejarah, dengan caranya sendiri, melindungi orang-orang seperti Marwan: ia memenjarakan tubuhnya, tapi tidak pikirannya.
Sekarang, namanya kembali disebut.
Bersama tiga tokoh lain—Abbas al-Sayyid, Ahmed Saadat, dan Hassan Salameh—Hamas menuntut kebebasan mereka.
Media Israel bahkan menulis bahwa jika keempatnya keluar, “akan ada gelombang energi yang tak terlukiskan” di tengah rakyat Palestina.
Dan mungkin mereka benar. Karena di dunia yang penuh senjata, yang paling ditakuti penjajah bukanlah peluru, tapi persatuan.
Dan dari dalam penjara itu, Marwan masih mengajarkan satu hal yang tak pernah pudar: bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di tempat yang pencahayaannya redup.
No comments:
Post a Comment