Percayalah, dik, yang paling berat itu, bukan pergi ke masjid. Bukan. Yang paling berat adalah pulang dari masjid.” Saya lupa-lupa ingat yang mengatakan ini siapa. bagaimana ia menempel di dada ketika kita pulang, membuka pintu rumah, menegakkan punggung di depan cermin, dan melihat diri sendiri.
Di bawah lampu yang temaram, di teras yang masih lembab setelah hujan, lelaki tua itu duduk. Bukan ustadz ternama. Bukan tokoh yang namanya dipanggil. Orang kampung memanggilnya dengan nama kecilnya saja, atau kadang, diam-diam, “Mbah Sarmidi”. Nah Mbah Sarmadi adalah muadzin yg keren. Adzannya dan shalawatan dengan langgam Jawa, tentu saja saya banyak berhutang rasa. Ia sering sujud. Ia tak butuh mimbar untuk berbicara, karena kata-kata yang benar ia taruh di tindakan kecilnya: menolong tetangga, menahan lidah ketika gosip datang.
Ia pernah berkata, pendek, pada seorang pemuda yang bertanya karena penasaran: “Pergi ke masjid itu sebentar. Tapi pulang dari masjid… itu ujian.” Pemuda itu mengernyit, menunggu definisi besar. Mbahnya tersenyum, lalu bercerita pelan, seolah sedang melipat kain. “Kau tahu, manusia mudah pamer. Di dalam masjid, saat sujud, orang melihat langit. Tapi ketika keluar, sering ia lupa menundukkan hati. Ia menaruh sujud di saku baju, lalu mengeluarkan dompet—berbicara besar, menilai orang, merasa lebih suci. Itulah yang paling berat.”
Banyak ulama-ulama tasawuf dahulu berbicara tentang hal yang sama, tapi mereka memakai nama-nama besar, istilah-istilah yang membuat rasa hormat; sementara di kampung itu, pelajaran itu datang dalam bentuk sederhana: jangan pulang dengan dada penuh. Jangan pulang membawa lampu sorot yang menerangi semua kekurangan orang lain. Jangan pulang seolah ritual itu adalah jubah yang menjadikanmu berada di atas.
Malam itu, pemuda itu pulang dengan langkah berat. Di jalan, ada orang yang memotong jalan, ada warung yang menawarkan kopi, ada yang berdebat soal harta. Suara-suara itu merayap masuk, mencoba menyalakan api dalam dada. Pemuda itu memegang pintu rumah. Dia mendengar ibu di dapur, anak yang tertawa sambil menaruh piring. Ia membungkuk, menanggalkan sepatu, lalu teringat kata Mbah: pulang tanpa sombong. Ia menahan kalimat yang ingin keluar, menahan komentar yang ingin dilontarkan. Ia memilih diam. Ia masuk, duduk, memberi salam, membantu mengangkat panci.
Itulah ujian sebenarnya. Bukan seberapa lama kau sujud, bukan seberapa pandai kau membacakan ayat. Ujian adalah, ketika hatimu diberi kesempatan untuk menilai, untuk menghakimi, untuk menempatkan dirimu di ruang yang lebih tinggi, apakah kau akan memilih merendah atau menambah derajat di matamu sendiri? Apakah khutbah yang kau dengar akan menyirami kemauanmu untuk berbagi, atau malah akan jadi senjata untuk menumbuhkan rasa congkak bahwa ‘aku lebih tahu’?
Ulama-ulama tasawuf dulu menganjurkan muraqabah, mengawasi hati seperti menjaga bara api; mereka mengajarkan zuhud pada pujian, dan tawadhu’ pada sekilas sanjungan. Mereka sering menyuruh muridnya pulang dalam kesunyian, menimbang setiap kata yang akan diucapkan, menimbang setiap niat. Karena musuh besar sering bukan orang lain; musuh besar adalah pujian yang datang, lalu menempel di dalam dada, seperti karat yang menutup hati.
Mungkin, jika kita mau jujur, yang paling berat bukan soal ritual, tapi soal integritas hati—membiarkan ibadah itu mengubah perilaku, bukan hanya memberi sensasi suci sementara. Pergi ke masjid memberi kita suara-suara kolektif, gema sujud bersama, rasa hangat berjamaah. Tapi pulang dari masjid menuntut kerja batin yang panjang: menyingkirkan riya’, menyingkirkan kebanggaan, menyingkirkan kecenderungan untuk menilai. Pulang dari masjid menuntut kita membawa bekal yang tak tampak, kasih sayang, rendah hati, dan komitmen untuk bertindak.
Jadi, “yang paling berat itu pulang dari masjid,” ia bukan berbicara tentang jarak. Ia berbicara tentang beratnya menurunkan kepalsuan, dan ringan-ringannya hati yang tulus. Ia berbicara tentang keberanian untuk tidak memegang selembar keagungan ketika pulang, dan keberanian untuk memakai tangan sendiri untuk membantu, bukan tangan untuk menunjuk.
Di ujung jalan setapak, lelaki tua itu menutup kitab kecilnya, menyalakan lentera, dan menatap ke langit. Ia tidak ingin dikenal. Ia hanya ingin pulang dari masjid seperti pulang dari rumah sahabat, tanpa kepura-puraan, tanpa pretensi, dengan hati yang sama ketika ia sujud. Itu, katanya, sudah cukup.
No comments:
Post a Comment