Ini tentang sebuah kursi. Sebelum bahas sok akademis dalam tulisan ini, saya selingi anekdot kisah Gus Dur. Saya tidak tahu sumbernya kredibel sahih atau tidak. Begini kisahnya:
Seorang santri bertanya pada Gus Dur,
“Gus, ada berapa jenis setan?."
“Setan itu ada tiga”. Jawab Gus Dur singkat.
“Apa saja itu, Gus?”
“Setan yang pertama adalah setan yang takut dengan ayat kursi. Saat dibacakan ayat kursi dia langsung pergi”
“Terus yang kedua gimana, Gus?”
“Jenis setan yang kedua ini wujudnya jelas, dia gak takut ayat kursi, tapi jika dilempar kursi, pasti pergi”
“Whahaa, ini kan setan berbentuk manusia. Kemudian yang jenis ketiga gimana, Gus?”
“Jenis ini yang agak lucu, mereka tidak takut ayat kursi, juga tidak takut dibanting kursi, malah mereka saling berebut kursi”.
******************************************
Dalam dunia sastra, ada satu pendekatan yang memandang karya bukan sekadar cerita, tapi kumpulan tanda yang membawa makna. Pendekatan itu disebut semiotika.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani sÄ“meion yang berarti “tanda.”
Secara sederhana, semiotika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana tanda bekerja: bagaimana benda, kata, atau peristiwa bisa bermakna lebih dari yang tampak di permukaan.
Salah satu tokoh penting dalam teori ini adalah Roland Barthes, seorang pemikir Prancis yang percaya bahwa di balik hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, selalu tersembunyi makna budaya dan mitos.
Bagi Barthes, tanda tidak berhenti pada arti literalnya saja (yang disebut makna denotatif), tapi juga membawa makna kedua yang lebih dalam, yang disebut makna konotatif—makna yang muncul dari budaya, ingatan, dan cara kita menafsirkan dunia.
Tulisan “Kursi Kakek” adalah contoh yang sangat kuat dari cara tanda bekerja dalam kehidupan. Di permukaan, ia bercerita tentang masa kecil, tentang seorang kakek, tentang kursi kayu di rumah nenek. Tapi di kedalaman ceritanya, setiap benda di dalamnya membawa makna yang lebih luas—tentang rumah, tentang cinta, tentang spiritualitas yang diam-diam hidup di sela-sela rutinitas.
Kursi misalnya. Ia bukan hanya tempat duduk, tapi menjadi tanda dari kasih sayang dan kehadiran.
Kursi itu dibuat dengan tangan kakek sendiri, dan di sanalah segala kehangatan tubuh dan doa berpadu.
Ia menjadi ruang penyembuhan, tempat cucu kecil berbaring setelah dipijat, tempat kakek berdiam di usia senja, tempat para tetangga menunggu giliran doa.
Dalam pandangan semiotika, kursi itu bukan sekadar signifier—bentuk kayu dan senderan melengkung—tapi juga signified, yakni makna yang melekat: cinta, perhatian, sekaligus ingatan yang tak pernah padam.
Kursi menjadi simbol rumah dan akar. Ia menyimpan jejak tangan, waktu, dan doa yang telah menjadi bagian dari keluarga itu sendiri.
Lalu dapur.
Dalam kebudayaan Jawa, dapur bukan cuma ruang masak. Ia adalah jantung rumah, tempat di mana kehidupan lahir dan dipelihara. Nenek yang menyiapkan ketela goreng dan mendoan, bukan sekadar memberi makan, tapi menghadirkan rasa aman yang spiritual.
Asap dapur, aroma kayu bakar, dan suara gorengan adalah tanda-tanda kecil yang membawa kita pulang. Barthes mungkin akan menyebutnya sebagai mitos domestik, yaitu cara budaya menanamkan makna dalam keseharian—bahwa cinta dan doa bisa hidup lewat hal-hal kecil, bukan hanya lewat kata atau upacara.
Ada juga sembahyangan di seberang dapur. Dalam teks, ruang itu menjadi tanda sakral, tempat kakek berdoa untuk orang-orang yang datang mencari penyembuhan. Di situ, antara dunia nyata dan dunia spiritual seperti tidak ada batasnya.
Bagi Barthes, inilah lapisan konotasi yang paling dalam: makna yang lahir dari keyakinan dan tradisi. Ketika kakek duduk di kursinya, berdoa dalam diam, ia tidak hanya sedang melakukan ritual agama, tapi juga sedang menyatukan dunia—antara tubuh, alam, dan yang ilahi.
Benda-benda lain pun tak kalah berbicara. Ramuan pijat yang dibuat dari rempah dan minyak, misalnya, adalah tanda dari pengetahuan tubuh dan kasih. Ia menyembuhkan bukan hanya luka fisik, tapi juga rasa takut dan lemah seorang anak kecil.
Sementara larangan bagi tamu untuk duduk di kursi itu menjadi tanda dari penghormatan—bahwa ada ruang yang tidak semua orang bisa masuki, karena di sana tersimpan makna yang sakral dan pribadi.
Melalui kacamata semiotika, seluruh cerita “Kursi Kakek” bisa dibaca sebagai jaringan tanda-tanda yang membentuk mitos tentang rumah. Rumah di sini bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang spiritual, tempat kasih sayang, doa, dan kenangan hidup berdampingan dalam keheningan yang hangat.
Kursi, dapur, ramuan, sembahyangan—semuanya menjadi simbol bagaimana manusia Jawa memaknai keseharian dengan cara yang lembut tapi dalam.
Dan mungkin, begitulah cara kenangan bekerja.
Ia menyimpan tanda-tanda kecil yang kita bawa ke mana pun pergi. Kadang dalam bentuk kursi tua yang masih berdiri di sudut rumah, kadang dalam aroma ketela goreng, atau dalam doa yang kita bisikkan diam-diam saat tubuh terasa sakit.
Barthes pernah bilang, tanda selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Begitu juga kenangan—selalu menunggu kita untuk kembali, membaca ulang, dan menemukan makna baru dari hal-hal yang dulu tampak biasa. Sekarang luar biasa.
Sejujurnya saat saya menulis kemarin saat senja. Mata saya berkaca-kaca.
No comments:
Post a Comment