Saya mencoba menafsirkan lagu “Kunang-Kunang” milik Pidi Baiq.
Barangkali, tidak semua para penikmat lagunya, paham betul tafsiran lagu ini. Ini hanya persepsi pribadi. Tapi kalau didenger baik-baik, ada rasa rindu yang disembunyikan di antara nada-nada ringan itu. Dan entah kenapa, saya yakin ini lagu tentang ayah.
Ternyata, bukan saya saja yang merasakan, salah satu komentar di lagu itu, dalam channel Youtube Pidi Baiq, seseorang mengenang 2 tahun ayahnya pergi. 🥀
“Pada waktu ayah masih kecil, tahun satu delapan delapan empat. Kunang-kunang itu juga masih kecil. Sekarang ayah sudah besar, tapi tetap saja kunang-kunang masih kecil. Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar ayah, teranglah dunia.”
Saya tahu Pidi. Saya mengikuti banyak karyanya bersama The Panas Dalam Bank dan sejumlah karya tulisnya. Itu jauh sebelum booming novel Dilan di tahun 2014 (?). Kemudian difilmkan (2018?). Ia selalu bisa mengubah kesedihan menjadi lelucon yang manis, seperti orang tua yang menyembunyikan air mata di balik tawa.
Kunang-kunang, makhluk kecil dengan cahaya redup, tapi indah. Dan Pidi membayangkan, seandainya ada yang sebesar ayah. Sosok yang dulu jadi cahaya di rumah, yang menuntun, yang diam-diam menanggung segala gelap, agar anaknya tetap merasa terang. Mungkin dunia akan baik-baik saja. Tidak se-menyesakkan ini. Tidak se-gelap ini. Tidak sesulit ini. Pada sebuah hidup yang tak baik-baik saja, dalam kesedihan yang datang berulang.
"Kunang-kunang banyak terbangKuning kuning malam kudus hening"
Adalah lirik pertama. Seperti lukisan kecil yang ditulis pakai kata. Malam yang sunyi, tidak ada suara apa-apa, tapi di situ beterbangan cahaya-cahaya kecil berwarna kuning.
"Ada satu Kunang-kunang
Lihat terbang bimbang dan bergoyang"
Di antara semua cahaya kecil yang tenang dan indah itu, ada satu yang tidak stabil, goyah, ragu, kehilangan arah.
Bisa jadi, “kunang-kunang” di lagu ini metafora. “bimbang dan bergoyang” ini bisa diartikan sebagai si tokoh utama sendiri. Anak yang sedang berusaha tetap menyala di tengah hidup yang gelap, tapi cahaya dalam dirinya mulai goyah karena kehilangan ayah.
Frasa biasa, tapi menyimpan seluruh fragmen rindu dan perjuangan hidup.
"Wahai kau selalu ku kenang
Bila ku berkunang-kunang
Wahai kau selalu ku kenang
Bila ku berkunang-kunang"
"Kunang-kunang apa samaBila pusing matamu berkunang-kunangJangan sayang mentang mentangKunang-kunang banyak begadang"
Kalimat “Kunang-kunang apa sama, bila pusing matamu berkunang-kunang” di permukaan seperti guyonan. Tapi kalau kita lihat dari cara Pidi nulis, ini sebenarnya bentuk kegetiran yang disamarkan lewat tanya-tanya konyol.
Dia lagi sedih, lagi reflektif, tapi sengaja menyisipkan logika ngaco supaya tidak terlalu muram.
Seolah dia bilang: hidup gue lagi gelap, kepala lagi pusing, tapi yaudah lah, gue becandain aja biar nggak tambah berat. Pertanyaan “kunang-kunang apa sama?” itu retoris, yang tahu tentu saja hanya Pidi dan Tuhannya. Pun dengan frasa selanjutnya: Kunang-kunang banyak begadang.
di akhir lagu, pidi mengatakan:
"Yah kunang-kunang
seandainya Ayah persingkat
maka dia akan menjadi kunang dua".
No comments:
Post a Comment