Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saturday, 20 December 2025

Doraemon, Nenek, Please Stand By Me

Stand By Me Doraemon 2 rilis tahun 2021. Dan saya justru baru bisa menontonnya sampai akhir di akhir tahun ini. Mungkin memang begitu cara kerja waktu. Ada hal-hal yang baru terasa ketika kita sudah cukup lelah untuk memahaminya.

Stand By Me bukan film anak-anak. Ia justru terasa sebagai film untuk kita yang sudah dewasa, sudah merasakan pahit dunia, tapi diam-diam merindukan kekonyolan-kekonyolan di masa lalu. 

Doraemon tentu saja salah satu anime favorit saya waktu kecil. Dan saya kira, bagi kebanyakan kelahiran 90-an, kita tumbuh dengan tontonan semacam itu. Doraemon adalah imajinasi paling fiktif dari masa kecil kita. Kantong ajaibnya membuat segalanya terasa mungkin. Seandainya saja Doraemon benar-benar ada, mungkin alat-alatnya bisa dipakai untuk mensejahterakan masyarakat seluruh Indonesia. Selain Doraemon, ada Dragon Ball, Detective Conan, dan banyak lagi. Hal-hal yang dulu tidak mungkin, tapi menjadi mewah lewat imajinasi otak kecil.

Dan bagian paling melankolis dari film ini adalah ketika kita mulai mengingat orang yang menyayangi kita dengan tulus, apa adanya, tanpa syarat. Orang yang kini sudah tiada. Nenek.

Nobita, bagi saya, sangat mirip dengan diri saya. Ceroboh, tergesa-gesa, konyol. Dalam kehidupan nyata, ada banyak hal yang membuat saya merasa seperti Nobita. Tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa diandalkan. Tidak percaya diri. Olahraga tidak bisa. Hampir selalu kalah dalam banyak hal. Dan yang paling mengkhawatirkan, perasaan seperti tidak punya masa depan.

Di Stand By Me 2, masa depan Nobita digambarkan sederhana: menikah. Itulah harapan nenek. Ia ingin melihat Nobita menikah. Hadir langsung di prosesi itu. Karena nenek tahu betul sifat cucunya sejak kecil. Ia khawatir, apakah Nobita benar-benar akan punya masa depan. Tapi menurut saya, yang dikhawatirkan nenek bukan hanya soal menikah. Yang dikhawatirkan adalah masa depan secara keseluruhan. Hidupnya nanti akan bagaimana.

Karena itulah, mesin waktu membawa Nobita Now kembali menemui neneknya. Ia ingin melihat nenek saat masih hidup. Ia juga melihat Nobita kecil, yang sejak dulu memang sudah ceroboh dan bodoh.  Dijahili Giant dan Suneo. Ketika bertemu nenek, Nobita ingin memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Dan di titik itu, saya ikut ingin menangis. Ah orang yang cintanya tanpa syarat.

Singkat cerita, karena kekhawatiran nenek, Nobita berjanji akan memperlihatkan masa depan. Ia berjanji akan menunjukkan bahwa kelak ia benar-benar menikah.

Namun perjuangan menuju masa depan itu tidak mudah. Nobita Future ternyata masih sama saja. Walaupun manusia bisa berubah, sifat ceroboh dan tidak percaya diri tetap melekat. Pernikahan yang sudah direncanakan dengan baik, akad yang tinggal menunggu beberapa menit, justru membuat Nobita Future kabur. Ia lari ke masa Nobita Now, menggunakan mesin waktu Doraemon yang tertinggal di toilet umum.

Di sinilah ujian Nobita Now dimulai. Ia berikhtiar dengan berbagai cara. Tentu saja dibantu alat-alat Doraemon. Banyak drama khas Doraemon terjadi. Alat yang tidak berfungsi, waktu yang hampir habis, kekacauan yang datang bertubi-tubi. Semua terasa seperti episode Doraemon biasa, tapi dengan lebih menguras emosi. Sebenernya, banyak kritik dari film ini, tapi saya suka. 

Ada perbedaan menarik dibanding Stand By Me pertama. Jika dulu Nobita Future tidak ingin berinteraksi dengan Doraemon, karena Doraemon adalah teman yang khusus disediakan Nobita Now, dan mungkin  ada kejadian yang memilukan yang tidak ingin Nobita Futur bercegkrama dengan Doraemon. Namun, di film kedua ini Nobita Future justru banyak bekerja sama dengan Nobita Now dan Doraemon. 

Doraemon adalah simbol dunia yang ramah. Harapannya, dunia itu tetap ada sekarang. Ketika hidup tidak lagi seramah dulu. Ketika semuanya terasa penuh perjuangan, kepala mumet, dan target pekerjaan seperti tidak ada habisnya.

Doraemon sebenarnya nyata. Ia adalah teman-teman kita saat masih kecil. Kehidupan yang dulu terasa ajaib. Bermain bola sampai magrib. Bersepeda sejauh kaki kecil kita sanggup. Berhenti di pinggir sawah untuk minum. Ajaibnya, kita selalu sehat dan bahagia.

Bagi saya, mesin waktu itu sebenarnya ada. Ia hidup di dalam hati dan pikiran. Kita bisa kembali ke masa lalu lewat ingatan. Kita bisa maju ke masa depan lewat cita-cita, mimpi dan angan, 

Nenek, mengkhawatirkan masa depan cucunya. Apakah bisa menikah. Apakah bisa hidup layak. Doanya panjang, sepanjang apapun itu di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya, lewat mesin waktu, nenek hadir di pernikahan Nobita. Mendengar pidato Nobita tentang nilai keluarga. Melihat cucu yang dulu ia khawatirkan, kini berdiri sebagai pengantin. Suasana pecah. Haru tidak terbendung.

Saya tidak tahu pasti, setiap kali saya mengalami kesulitan, kegagalan, dan kesedihan, kenapa rasanya nenek selalu hadir. Mendampingi. Menguatkan. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa semua bisa dilalui. Sebuah ruang sunyi di kepala, tempat doa nenek terus bekerja, tanpa pernah benar-benar tiada. 

Doraemon, nenek, please, stand by me.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE