Saya seharusnya memang belajar berdamai dengan apa saja. Termasuk dengan malam ini.
Malam ketika mata tak mau terpejam, pikiran enggan tunduk.
Di kepala saya, Miramar hampir senafas dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sama-sama berbicara tentang manusia, tentang perempuan, tentang kebangkitan pascarevolusi. Bedanya, Mahfouz mengurung semua itu di satu penginapan. Dan justru di situlah ia menjadi hidup. Latar waktunya, Mesir pascarevolusi -- terasa berdenyut pelan, seperti detak jam tua di dinding hotel.
Saya tidak sedang ingin bicara ideologi. Tidak ingin sok pandai menguliti pesan-pesan politik dalam sastra. Malam ini, sastra hanya membangkitkan imajinasi saya tentang zaman-zaman dahulu. Dan entah kenapa, itu terasa begitu nikmat. Ekstasi yang tenang. Mabuk yang pelan. Plot-plot Mahfouz berjalan seperti orang mengantuk, terlihat jinak, dan diam-diam memukul.
Saya berpikir, seandainya hidup di dunia nyata bisa dinikmati seperti menikmati sastra, mungkin pemerintah tak perlu repot-repot memikirkan cara membuat rakyat bahagia. Toh, alur hidup kebanyakan orang sudah sangat nyastrawi: orang-orang kecil, penuh utang, tukang becak, pengemudi ojek, pekerja jalanan, dan saya sendiri—semuanya punya kisah yang layak ditulis.
Saya pernah membaca sebuah artikel independen. Katanya, lebih dari 70 persen rakyat Indonesia tidak akan bertahan hidup jika tidak bekerja selama satu atau dua bulan. Tidak ada penghasilan, maka wassalam. Entah artikel itu benar atau salah. Mungkin banyak salahnya. Tapi juga tidak sepenuhnya keliru.
Secara kuantitatif, memang masuk akal. Orang yang tak bekerja berbulan-bulan, karena bencana atau apa pun, tentu kesulitan makan. Tapi nyatanya, orang-orang Indonesia itu luar biasa dalam urusan bertahan hidup. Kisah-kisah di sekitar kita membuktikannya. Mereka jatuh, bangkit, tertawa, dan entah bagaimana caranya, baik-baik saja.
Orang yang selalu melihat cahaya di tengah gelap semacam itu, bagi saya, adalah Emha Ainun Najib. Ia menguatkan, membesarkan hati orang-orang tertindas. Mustadh‘afin. Rakyat jelata yang tetap bisa bergurau meski hidupnya penuh kesusahan.
Namun tetap saja, ketimpangan di negeri ini terasa ironis. Terlalu jomplang. Saya membayangkan para tokoh, termasuk agamawan, yang gemar meributkan dan memperebutkan sesuatu, menciptakan polarisasi, membuat rakyat kecil bertengkar tanpa ujung. Di media sosial, di mushola, di kehidupan bertetangga. Mungkin ini cara meninabobokan kita: dibuat sibuk berdebat, mendukung hal-hal yang nyaris tak berdampak apa pun pada hidup kita sendiri.
No comments:
Post a Comment