Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 14 December 2025

Iktafa, Bagaimana Kita Merasa

 

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya adalah, ketika saya krenteg tentang sesuatu, biasanya Tuhan memberikan petunjuk lewat sesuatu. Seperti satu hal ini. 


Semalam. Gus Abduh, Gus Abdullah bin Kiai Ahmad Cikura, dalam ta'limnya, ngaji tentang اِكْتَفَى -- merasa cukup. Syekh Ibn ‘Aṭā’illah selalu punya cara membuat satu kata kecil berubah jadi cermin besar. Jika saya melihat ke sana, tapi yang terpajang justru wajah saya sendiri, lengkap dengan segala keinginan yang tak selesai.


Saya sedang dalam mengevaluasi siapapun. Kepada sistem, seseorang ataupun badan. Saya sedang mencoba menyelami diri saya sendiri. 


Andaikan saya belajar rasa cukup.

Dan semua manusia di dunia ini merasa cukup. 


Kalau politisi merasa cukup, mereka tidak akan menjual rakyatnya demi kursi yang cuma sementara. Kalau pengusaha merasa cukup, mereka tidak akan merebut hak orang kecil yang cuma ingin hidup wajar. Kalau penguasa merasa cukup, mereka tidak akan takut kehilangan jabatan sehingga menindas siapa saja yang berbeda suara.


Dan kalau kita semua merasa cukup.,mungkin bumi ini tidak sesak oleh nafsu yang meletup-letup tiap hari.


Tapi manusia, terkhusus saya, sering lupa bahwa cukup itu bukan soal apa yang ada di tangan, tapi apa yang tenang di dalam dada.


Syekh Ibn ‘Aṭā’illah pernah bilang,

"Bagaimana hatimu akan bercahaya, sedangkan bayang-bayang dirimu sendiri masih menutupi jalan menuju-Nya?"


Mungkin saja, rasa cukup itu cahaya kecil itu.

Kalau cahaya itu ada, dunia jadi teduh.

Kalau hilang, ya jadilah berita-berita yang tiap hari bikin kita sesak.


Beberapa hari ini, dada saya remuk redam, salah satu mahasiswa saya, yang tinggal di Aceh Tengah, dia menulis di whatsapp group. Memberi kabar dirinya, keluarganya, dalam situasi bencana banjir di Sumatera. Dari caranya menulis, saya tahu, ada beban dan....asudahlah saya tidak bisa melanjutkan inI. Sedih hati ini. 


Dari itu, saya membayangkan sebuah dunia, yang saya sebut: politisi jujur, pengusaha tidak rakus, penguasa adil, dan alim ulama tidak merebutkan jabatan. Dunia yang terasa seperti pagi setelah hujan. Bersih, wangi, dan menenangkan.


Mungkin, tugas saya bukan menunggu dunia seperti itu. Atau mengubah seperti Ultraman. Tugas saya adalah menjadi bagian kecil dari cukup itu:

cukup dalam ambisi, cukup dalam kemarahan, cukup dalam menghakimi orang, cukup dalam gelisah mengejar yang tak perlu.


Sebab, bagi saya, bencana besar selain banjir, selain pandemi, dan krisis ekonomi. Adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merasa: Ini cukup. 

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE