Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Monday, 3 November 2025

Maryam

Di antara sunyi dan rasa takutnya sendiri, ia memegang perutnya yang bergetar oleh kehidupan yang tak pernah ia rencanakan. Dunia di sekitarnya penuh tudingan, tapi di dadanya hanya ada satu kalimat yang tak bisa dijelaskan. Tuhan telah memilihku. Bahkan ketika aku tak meminta apa-apa.


Kisah itu sering diceritakan saat saya masih kecil sebagai kisah mukjizat. Seorang perempuan melahirkan tanpa laki-laki. Mungkin, di balik itu, ada pesan yang lebih lembut dari sekadar keajaiban.


Amina Wadud pernah menulis bahwa Maryam bukan sekadar “ibu nabi”, tapi perempuan yang menjadi ruang bagi wahyu. Bukan tubuhnya yang luar biasa, melainkan keberaniannya untuk percaya pada sesuatu yang di luar nalar. Ia berdiri sendirian, tapi tak pernah kehilangan arah.


Ia tak menunggu seorang laki-laki untuk menegaskan eksistensinya. ia berdiri di hadapan Tuhan. Utuh, suci, dan berdaulat atas dirinya sendiri. Mendobrak patriarki karena Maryam tidak membutuhkan figur laki-laki untuk “menggenapkan” dirinya. Ia mandiri secara spiritual dan moral. Sekaligus emansipasi. Perempuan bisa menjadi perantara wahyu, bisa membawa kebenaran ilahi, tanpa perlu peran laki-laki di belakangnya


Di sisi lain, Fazlur Rahman menafsirkan mukjizat bukan sebagai pelanggaran hukum alam. Melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam. Ia bilang, Al-Qur’an tidak berbicara kepada manusia pada zamannya, tapi juga untuk manusia di setiap zaman. Sahih li Kuli Zaman. Maka yang harus dibaca bukan hanya apa yang terjadi, tapi mengapa itu dikisahkan.


Maryam, dalam pandangan itu, adalah simbol tentang sesuatu yang melampaui struktur lama. Kekuasaan Tuhan tidak tunduk pada rumus sosial, dan kebenaran bisa lahir dari rahim siapa saja yang bersih hatinya. Walaupun tanpa restu masyarakat, tanpa figur laki-laki yang melindungi.


Ulil Abshar Abdalla, dalam salah satu tulisannya, pernah berkata panjang tentang Maryam. Ia menyebut Maryam sebagai wajah spiritualitas yang lembut sekaligus tegas. Perempuan yang memeluk kesunyian, namun dalam diamnya justru melahirkan suara paling nyaring tentang tauhid.


Kata Ulil, kisah Maryam adalah “protes lembut” terhadap tatanan yang menyingkirkan perempuan dari ruang suci. Ia hadir bukan untuk melawan, tapi untuk menunjukkan bahwa kesucian dan kekuatan bisa berjalan beriring. kelembutan juga bisa melahirkan mukjizat.


Lalu aku berpikir. Mungkinkah kelahiran Isa bukan sekadar kisah iman, tapi juga cermin bagi rasio yang gelisah. Kita ingin semua hal bisa dijelaskan, diberi rumus, dibuktikan. Tapi di hadapan kisah ini, rasio kita hanya bisa menunduk dan berkata: mungkin tidak semua hal harus masuk akal; sebagian cukup masuk ke makna.


Karena di balik setiap kisah yang tampak mustahil, selalu ada Tuhan yang sedang berbisik: “Aku masih bisa menciptakan keajaiban, bahkan lewat kesunyian seorang perempuan.”


Dan entah mengapa, aku selalu merasa, Maryam itu seperti setiap orang yang sedang berjuang sendirian. Yang merasa tak dipahami, tapi terus percaya bahwa ada alasan di balik setiap luka. Bahwa kadang, sesuatu yang tak masuk akal justru cara Tuhan membentuk kekuatan baru.


Kisah Maryam bukan hanya tentang kelahiran Isa, tapi tentang kelahiran iman di dalam diri manusia. Bahwa yang paling suci bukanlah mereka yang tak pernah goyah, tapi mereka yang tetap percaya di tengah tudingan, di tengah ragu, di tengah rasa sakit.


Dan di sanalah mukjizat sejati tinggal, bukan di rahim yang melahirkan tanpa ayah, tapi di hati yang berani percaya, bahkan ketika seluruh dunia menertawakan keyakinannya.


No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE