Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 30 November 2025

Dua Jalan, Satu Luka, Satu Cinta

Ada orang-orang yang kalau kita sebut namanya. Dada langsung hangat. Bukan karena kita selalu sepakat. Tapi karena lewat dia, kita pernah merasa. Islam itu luas sekali. Buat saya, salah satunya Gus Ulil Abshar Abdalla. 


Saya suka cara dia bicara. Cara dia nulis. Kadang saya bingung, beliau kalau ceramah kayak lagi nulis, atau kalau lagi nulis kayak lagi ceramah. Lisan dan tulisannya terasa seirama. Tenang. Terukur. Jarang naik nada. Pelan-pelan nusuk ke kepala.


Dan di balik semua itu, ada dunia ilmu yang rapi banget. Cara dia baca kitab, nahwu shorofnya rapih. Balaghah, mantiq, bukan cuma deretan istilah dalam cover kitab. Tapi jadi cara dia menata kalimat, mengurutkan argumen, membangun jembatan antara teks dan realitas.


Kadang pengajiannya aqidah. Kadang tasawuf. Kadang soal wacana sosial. Tapi entah kenapa, di sela-selanya, struktur bahasa itu selalu nongol. Pelan. Tidak menggurui. Tapi kerasa. Mengena. 


Dari sisi pemikiran, saya juga banyak sepakat dengan Islam Liberal. Dengan Islib, dengan semangat membaca ulang teks. Melihat Alquran dan Hadis bukan sebagai pagar listrik yang bikin orang takut mendekat, tapi sebagai ruang dialog. Tafsir yang sadar konteks. Keberanian mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita telan bulat-bulat.


Sebagian orang marah, takut, atau alergi sama kata “liberal”. Buat saya, itu cuma satu fase. Satu jalan. Satu cara untuk bilang bahwa iman itu juga butuh berpikir. Butuh berani ragu, kemudian mencari. Butuh ruang untuk mengakui bahwa hidup ini nggak sesederhana hitam putih.


Menurut saya, banyak gagasan Islam Liberal yang dibawa Gus Ulil itu, kalau ditarik ke belakang, tidak jauh-jauh dari tradisi pesantren.


Pesantren, dari dulu ngaji kitab ya isinya debat, bantah-bantahan, qiyas, khilaf, perbedaan mazhab. Kitab kuning bukan kitab satu suara. Justru penuh keramaian pendapat. Cuma mungkin, sebagian dari kita punya nostalgia romantis pada “kepatuhan”, lupa bahwa dulu para ulama itu, tukang debat juga.


Di sisi lain, saya juga pelan-pelan kenal dunia lain. Dunia Islam kiri progresif. Nama-nama seperti Gus Fayyadh. Gus Roy Murtadho.


Kalau Gus Ulil banyak diasosiasikan dengan Amerika dan tradisi liberalnya, Gus Fayyadh tumbuh dengan jejak Prancis yang penuh sejarah gerakan-gerakan sosialis, kiri, pro-rakyat. Gus Roy juga berjalan di jalur Islam kiri progresif. Mereka berangkat dari tempat yang sama: pesantren, kitab kuning, ngaji, hormat pada tradisi. Tapi langkah mereka banyak turun ke jalan. Berhadapan langsung dengan aparat, kapital, kebijakan.


Mereka bicara soal mustadh’afin bukan sebagai istilah di kitab tafsir, tapi sebagai wajah-wajah konkret. Petani yang tanahnya tiba-tiba digusur. Kampung yang dibelah tambang. Hutan yang digunduli. Sungai yang dicemari. Yang mereka baca bukan cuma teks. Tapi juga peta konflik agraria, peta izin tambang, peta orang kecil yang terpinggirkan.


Nama Gunung Wadas pernah menggema.

Di sana, perlawanan terhadap tambang bukan sekadar “demo lingkungan”. Tapi jeritan orang-orang yang rumah, tanah, dan ingatan hidupnya terancam. Dan di saat ramai-ramai NU dengan urusan tambang, suara-suara seperti Gus Fayyadh dan Gus Roy muncul sebagai penyeimbang. Mengingatkan. Mengkritik. Mengajak melihat lagi relasi antara ormas keagamaan, negara, dan kapital.


Lalu datang momen yang bikin dada saya campur aduk. Perdebatan soal tambang, lingkungan, dan sikap NU.

Di situ, Gus Roy dan Gus Fayyadh bersuara lantang. Lalu di sisi lain, Gus Ulil menyebut mereka sebagai semacam “wahabi lingkungan”. Sebuah istilah yang, entah kenapa, bikin saya kaget, gemeteran.


Di suatu talkshow di televisi, Gus Ulil menjelaskan tentang tambang, tentang konsep “bad mining” dan “good mining”. Tentang bagaimana sumber daya alam bisa dikelola untuk kemaslahatan, bukan mesti ditolak mentah-mentah. Ada argumen ekonomi. Ada argumen tentang negara. Ada argumen tentang realitas pembangunan. Semuanya tersusun rapi. Keren. Secara struktur logika, nyaris tak ada celah.


Tapi di satu titik, ketika dia bicara bahwa alam punya kemampuan memulihkan diri, bahwa kerusakan bisa dinormalisasi, saya tiba-tiba ngerasa lemas.


Bukan karena saya lebih pintar. Bukan.

Tapi karena bayangan saya bukan hanya grafik pertumbuhan ekonomi, melainkan banjir, longsor, sawah tertimbun, kampung hilang.


Hari hari ini, ketika saya melihat berita banjir di Sumatera. Melihat orang-orang mengungsi. Rumah hanyut. Sawah rusak. Air keruh bercampur lumpur dan entah apa lagi. Saya jadi bertanya pelan-pelan di dalam hati, siapa yang sebenarnya paling sering salah, dan siapa yang paling sering terluka.


Di titik itu, kekaguman saya pada Gus Ulil tidak hilang. Sama sekali tidak. Saya masih melihat dia sebagai seorang kiai. Seorang intelektual. Pendiri Ghazalian College. Santri yang membawa tradisi Ihya’ ke ruang-ruang digital. Politisi yang tetap baca kitab. Guru yang membuat banyak anak muda merasa, Islam itu bisa cerdas sekaligus lembut.


Tapi di saat yang sama, ada ruang di hati saya yang terasa robek setiap kali lingkungan dibahas terlalu tenang. Terlalu yakin. Terlalu percaya pada konsep “pengelolaan yang baik” di tengah kenyataan kekuasaan yang timpang. Di antara narasi-narasi rapi, saya terbayang wajah petani yang nggak punya akses ke ruang studio. Yang suaranya cuma terdengar sebagai “keributan lokal”.


Di seberang sana, ada Gus Fayyadh. Ada Gus Roy Murtadho. Islam kiri progresif.

Mereka bawa Marxisme, teori kelas, analisis kapitalisme. Tapi semua itu mereka tarik sampai ke warung kopi, sudut-sudut desa, jalanan licin di depan kantor bupati. Ada yang menyebut mereka terlalu radikal. Terlalu kiri. Terlalu marah. Tapi mungkin, dalam marah itu, ada cinta yang bentuknya berbeda.


Kalau Gus Ulil mengajarkan saya pentingnya kebebasan berpikir, pentingnya menghindari fanatisme dalam memahami agama. Maka lewat Gus Fayyadh dan Gus Roy, saya diingatkan bahwa ada bentuk fanatisme lain yang perlu dicurigai. Fanatisme pada “kemajuan” yang melupakan siapa yang tergilas.


Pada akhirnya, saya tidak ingin memaksa diri untuk memilih satu dan meniadakan yang lain.

Saya masih ingin duduk tenang, membuka kitab, mendengar Gus Ulil mengurai kalimat Imam al-Ghazali pelan-pelan. Mengikuti jalan pikirannya yang bersih, balaghah-nya yang rapi, nahwu shorof yang ia rawat dalam setiap bacaan.


Tapi saya juga ingin suatu hari, kalau ada petani yang menangis karena tanahnya hendak dirampas atas nama pembangunan, saya berdiri di sebelah mereka. Meski cuma dengan suara kecil. Meski cuma dengan tulisan yang terselip di antara timeline.


Mungkin, di situ posisi saya sebagai murid zaman ini. Menyimpan kagum pada Gus Ulil dan Islam Liberal. Belajar marah dengan cara Islam kiri progresif. Dan di antara keduanya, mencoba tetap memeluk bumi. Agar ketika kita bicara tentang langit, tentang ayat-ayat, tentang tafsir dan teori, kita tidak lupa bahwa ada akar yang pelan-pelan tercabut.


Dan entah kenapa, di tengah semua itu, saya cuma bisa berdoa pelan.

Duhai Allah, jagalah orang-orang yang kami kagumi. Dan sekaligus, jagalah hutan, gunung, sungai, dan kampung yang tak punya akun media sosial untuk membela diri.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE