Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Thursday, 5 March 2020

Persahabatan NU dan Muhammadiyah

#DearDifaa

Persahabatan yang hangat perlu dipupuk dan dirawat. Setahun yang lalu, saat saya masih mengajar di IAIN Purwokerto, saya mempunyai kawan perjuangan. Saya ambil dengan diksi 'perjuangan', karena saat itu adalah benar-benar waktu perjuangan. Dia yang memompa semangat saya untuk terus berproses mengikuti alur dari-Nya.
.
.
Setiap senin pagi, saya harus meninggalkan anak istri. Subuh buta, saya dan dia memacu sepeda motor menembus dinginnya kabut Gunung Slamet. Saya dari arah Pemalang sementara dia dari arah Slawi. Kami janjian bertemu di rumah sakit Muhammadiyah Randudongkal. Salah satu diantara sepeda motor kami parkirkan di rumah sakit itu. Kemudian lanjut berbonceng sampai di Purwokerto.
.
.
Sebenarnya, banyak perbedaan diantara kami. Dia orang Muhammadiyah struktural. Sementara saya mendaku sebagai warga NU kultural. Tapi bukan perbedaan yang kami tonjolkan. Meski dia orang Muhammadiyah cum aktivis 'Islam Panci' [Mohon maaf, istilah Islam Panci adalah guyonan kami untuk menamakan sebuah organisasi Islam Khuruj–yang dulu, saat berdakwah keluar dari rumah dengan membawa panci, untuk menanak nasi di Masjid], dia orangnya asik, wawasan keberislamananya luas. Secara, dia lulusan magister Al Azhar Kairo Mesir. Sudut pandangnya Islam moderat. Tidak jauh dari grand syekh mufti Al Azhar.
.
.
Dalam peta politik luar negeri pun sama. Meskipun tadinya, dia IM [Ihwanul Muslimin] sentris–Buyutnya PKS di Mesir. Tetapi setelah kami mengalami sekian puluh purnama, dan di atas motor Randudongkal-Purwokerto bersama. Dia menerima diskusi-diskusi kecil-kecilan dari saya mengenai Islam dan Sosialis, juga mengenai Madzhab Syiah yang kebanyakan dari Wababi Takfiri memfatwakan Syiah bukan Islam.
.
.
Sekarang kabarnya, selain mengajar di IAIN Purwokerto, dia juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, juga menjadi Mudir asrama kedokteran di sana. Hari ini dia berada di Tegal. Story WhatsAppnya mengabarkan istrinya baru saja melahirkan. Tanpa ba-bi-bu saya segera mengabarkan selepas pulang kerja saya ke sana. Tentu saja di rumah sakit Muhammadiyah Tegal. Kami ngobrol cukup puas. Dengan segala omong besar akan membuat proyek buku, cita-cita dulu. Betapa menyenangkan bersahabat dengan seorang Muhammadiyah satu ini. Teringat, saat dulu pilihan presiden pun, pilihan kami sama. Teringat juga, saat shalat subuh di Purwokerto dulu. Jika dia menjadi imam, kita subuh tanpa qunut. Jika saya yang jadi Imam, tentu dengan qunut. Tapi seringkali dia yang jadi Imam. Haaaa
.
.
Tiba-tiba kemarin dari Yogya, kota yang terbuat dari tumpukan rindu, terdengar kabar Muhammadiyah dan NU berseteru. Tapi dari timeline fesbuk saya banyak yang memberi kabar NU dan Muhammadiyah baik-baik saja. Akan baik-baik saja selamanya.
.
.
Kalau sudah seperti ini. Saya akan mengenang kawanku yang lain. Dia orang Muhammadiyah kultural. Saat itu tahun 2012 di kota Kendal. Muhammadiyah menentukan waktu Ramadhan lebih dulu. Sementara NU dan pemerintah sehari setelah itu. Kawanku yang Muhammadiyah taat, menjalankan puasa sebagai syariat. Saat sore hari menjelang, saya bermaksud menemaninya ngabuburit sambil menunggu ia berbuka. Sementara saya minum kopi dan makan mendoan. Begitulah hangatnya persahabatan NU dan Muhammadiyah.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE