Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Friday, 20 March 2020

Hidup itu Judi


#DearDifa
Saat saya menulis ini kamu masih tertidur. Kemudian saya membetulkan selimutmu yang berantakan. Semoga mimpimu indah. Seperti hari-hari yang kita jalani akhir-akhir ini. Semua bagai mimpi. Mimpi yang teramat buruk. Saya berharap ingin segera menyudahi mimpi ini.
.
.
Seperti halnya tebakan para ahli, Indonesia tidak akan siap mengahadapi pandemik Corona, saat pandemik itu menyebar di sini. Kemarin (18/3), Indonesia menduduki peringkat pertama dunia angka kematiannya! Dari 227 pasien positif Corona, 19 yang meninggal.
.
.
Fasilitas kesehatan kita belum memadai seperti di luar negeri sana. Saat seseorang ingin mengecek kesehatan, apakah virus itu bersarang di tubuhnya, dia harus merogoh kocek lebih dalam. Konon kabarnya, di laboraturium universitas Indonesia, sekali cek dihargai Rp. 2.500.000, sebuah nominal yang menyundul langit bagi rakyat kecil seperti kita.
.
.
Begitulah negara kita, semoga di jamanmu nanti, semua aspek negeri akan menjadi lebih baik. Selain virus Corona, ada kabar yang kurang baik. Sepertinya Tuhan sedang menggoga saya. Proposal bertahun-tahun itu hampir diacc. Hampir saja Tuhan mengatakan Kun. Juga hampir saja hati saya melambung tinggi. Setelah shalat jumat saya cek, ternyata ada yang lebih pantas dari saya. Sebagai manusia tentu saja ada sedikit kecewa-kecewanya. Benar agaknya, dunia mungkin hanya sekedar main-main saja. Kita yang main-main, orang lain yang dapat senangnya.
.
.
Harapan tentu saja masih ada. Kanjeng Sunan Ampel Surabaya itu dakwahnya menggunakan metode sabung ayam. Berjudi. Karena rata-rata masyarakat saat itu hobi berjudi. Barangsiapa yang kalah dengan Jagonya Kanjeng Sunan, dia akan tunduk dan masuk Islam. Karena Kanjeng Sunan itu kekakasih Allah. Segala hal yang dilakukannya selalu mujur. Jagonya menang terus. Masyarakat berbondong-bondong masuk Islam.
.
.
Gus Dur [KH. Abdurahman Wahid] beliau terkenal selain dikenal sebagai humoris, beliau terkenang juga sebagai seorang yang humanis, dalam suatu kesempatan pernah berkata, "Urip itu keplek", Hidup itu judi. Beliau mengatakan itu tentu saja sambil berkelakar, dalam rangka membuat besar hatinya para rakyat kecil yang setiap hari harus mencari rejeki menafakahi anak istrinya. Tukang becak, penjual somey, pedangan asongan, dlsbnya.
.
.
Tapi jika semua variabel-variabel itu tertuju padaku, "perjudian" kali ini saya kalah. Saya pulang. Mbangun desa lagi. Membuat peluang-peluang lagi. Membangun mitra dengan organisasi dunia, untuk mengentaskan pendidikan bagi mustadhafiiin di Tegal.
.
.
Saya jadi ingat pengajian Maiyah di Surabaya. Ketika itu diselenggarakan di komplek Doli [komplek pelacuran] yang kini sudah ditutup oleh Risma. Di sana  Mbah Nun berkata, lebih tepatnya berdoa dalam rangka membesarkan hatinya para pelacur itu, “jadikan aku apa saja ya Allah, jadikan aku pelacur, gento, dan lain-lain. Asal Engkau meridhoi aku jadi hambaMu”. Kemudian ditutup shalawat dan gamelan Kiai Kanjeng. Kuncinya Allah ridho.
.
.
#DearDifa. Saat usiamu belum genap 3 tahun kalender Hijriyah kemarin. Ketika ditanya apa cita-citamu, kamu jawab dengan lantang, ingin menjadi dokter. Saya tidak tahu kamu dapat inspirasi 'jadi dokter' dari mana. Ibumu memberitahu, mungkin dari video yang diputer yang didownload dari Youtube asal cita-citamu itu.
.
.
Kalau kau ingin jadi dokter, jadilah. Saya akan memberimu sepasang sayap. Saya biarkan kamu terbang bebas. Begitulah sebaik-baik saya mencintaimu. Menjadi dokter konon itu berat. Dan saya yakin kau pasti kuat. Hari-hari ini, dokter dan tenaga medis adalah garda terdepan dalam perang melawan pandemik Corona. Terkadang mereka tidak pulang dari rumah sakit berhari-hari, meninggalkan anak dan keluarganya.
.
.
Seorang perawat perempuan asal Tiongkok yang sedang berjibaku menangani Corona, disusul anak dan suaminya. Mereka makan bersama di pelataran rumah sakit. Sebuah pemandangan yang mengilukan hati. Makan bersama bagi kelurga itu adalah sebuah kekayaan dan keistimewaan yang luar biasa, meskipun hanya di pelataran rumah sakit. Dan si ibu tentu jaga jarak dengan anak dan suaminya.
.
.
Hari-hari ini, sesama manusia memang harus menjaga jarak. Untuk mengurangi resiko penyebaran pandemik Corona. Tapi tidak dengan dokter spesial paru berusia 80 tahun [saya lupa namanya]. Tadinya saya kurang percaya dengan tulisan yang banyak dibagikan teman-teman di Fesbuk. Setelah ada seorang teman membagikan cerita bahwa dokter yang usianya 80 tahun itu adalah rekan kerja dari istrinya. Dokter yang sudah seharusnya masuk usia pensiun itu terus bekerja. Berjihad menyerahakan seluruh jiwa raga, berperang di garis paling depan melawan Corona.
.
.
Kita sedang dalam berjudi antara hidup dan mati, melawan Corona. Cita-citamu masih ingin jadi dokter, nak? Terbanglah tinggi suatu hari nanti. Begitulah aku, sebaik-baik mencintaimu.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE