Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 1 March 2020

Pesan dari Bromo: Asbab dan Tajrid

#DearDifa

Bapak saya, kakekmu adalah seorang guru. Beliau sebenarnya orang yang woles dalam setiap hal. Tapi tidak dengan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran.
.
.
Suatu ketika, saat saya masih SD, saya mendapatkan PR pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Diantara butir soal itu berbunyi begini; bagaimana bentuk permukaan bumi? Terdapat beberapa pilihan. Diantaranya adalah datar dan tidak datar. Saya menjawab datar, karena dengan asumsi saya yang punya globe bumi yang bundar rata. Saat itulah saya disentak bapak. Lalu dia menjelaskan bagaimana gunung yang menjulang tinggi dan lautan yang dalam. Ketahuilah, permukaan bumi itu tidak datar, wahai bujang! Kata bapak.
.
.
Setelah puluhan tahun kemudian, di tahun 2020 ini, di gunung Bromo ini saya membenarkan. Betapa maha artistiknya Allah dalam menciptakan semesta alam.  Keindahan bukit dan awan serta gunung,  tidak bisa dideskripsikan dengan kata. Kamera jadul HP saya pun juga hanya menangkap kedahsyatan yang prosentasenya cuma beberapa persen saja.
.
.
Nenek moyang kita bangsa Jawa, saat dalam keadaan tertentu, mereka akan menyepi. Tapa brata untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi. Pertapaan itu biasanya di gunung, di gua. Junjungan kita, rasul Muhammad pun sama. Meskipun beliau suku Quraisy, saat mendapatkan wahyu pertama kali, beliau berkhalwat di gua Hira. Sesuatu yang janggal dalam budaya bangsa Arab. Maka tidak heran, kata Syekh Maimoen Zubair Rembang mengatakan, raganya nabi Muhammad itu Arab, sedang hatinya adalah Jawa.
.
.
Maka dalam kesempatan ini, saya mencoba merenung diri, setelah hampir tiga dekade perjalanan saya ini. Saya mengingat. Dalam kitab Al Hikam, Syekh Ibnu Atoillah menjelaskan, kedudukan seorang hamba itu ada dua; Asbab dan Tajrid. Asbab itu jamak dari Sabab. Sebab. Jika kamu ingin sehat, maka olah raga. Jika kamu ingin pintar, maka belajar yang giat. Jika kamu ingin kaya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
.
.
Sebaliknya, kedudukan Tajrid itu tidak usah ngapa-ngapain. Jika kamu ingin pintar tidak usah belajar. Allah yang akan membuatmu pintar. Jika kamu ingin kaya tidak usah bekerja. Allah yang akan membuatmu kaya.
.
.
Jika kita lihat sepintas, para kekasih Allah itu berada di maqam Tajrid. Namun tidak begitu dalam penjelasan Al Hikam. Kekasih Allah pun juga ada di maqam Asbab. Jika kamu belajar, bekerja sesuai norma, untuk mencari ridho Allah, maka pada posisi itulah Allah mengasihani kita.
.
.
Pertanyaan selanjutnya adalah, pada posisi yang mana, yang pas untuk kita, Tajrid kah, atau Asbab? Wallahu A'lam. Kita lanjut kapan-kapan.


Bromo, 1 Maret 2020

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE