#DearDifaa
Tepat hari ini, kalender hijriyah 20 Rajab menunjukan kamu ulang tahun ketiga. Sehat dan jayalah selalu. Kita tidak merayakan pesta pora, hanya menengadahkan tangan kita ke atas, seraya meminta Tuhan yang maha esa tetap mengasihani kita.
.
.
Tepat hari ini juga, situasi dunia sedang chaos. Disebabkan virus Corona yang lahir di Wuhan-China, kini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali negeri yang kita cintai, Indonesia. Organasasi kesehatan dunia, WHO sudah merilis bahwa virus ini adalah pandemik.
.
.
Di Italia sudah ribuan orang yang positif, seribu lebih meninggal dunia. Di Iran juga, hampir seribu yang meninggal. Pemerintah Arab Saudi melarang jamaah Umroh dari luar. Di Indonesia per hari ini (15/03) 96 orang yang positif, 5 diantaranya meninggal dunia. 5 orang itu salah satunya di provinsi kita, Jawa Tengah. Tepatnya di Solo. Wali kota Solo menetapkan wabah ini adalah kejadian luar biasa. Semua aktivitas manusia di luar dihentikan. Pasar dan mall sepi. Sekolah diliburkan.
.
.
Solo itu agak jauh dari kota kita, akan tetapi saat Gubernur Jateng konferensi pers kemarin, warga Jateng 27 yang suspect. 1 diantaranya ada di rumah sakit Tegal. Tidak dijelaskan lebih rinci rumah sakit mana dan warga Tegal mana.
.
.
Secara geofrafis, kota kita sebenarnya dekat dengan Jakarta. Tetangga kita banyak yang mengadu nasib di sana, mencari kebutuhan di Jakarta. Kemarin juga, gubernur Jakarta menyatakan hampir di semua kecamatan Jakarta terdapat pasien yang suspect.
.
.
Karena virus ini pandemik, dia bisa beradapatasi dengan semua iklim di dunia, hampir semua negara di dunia terkena virus ini. Presiden Amerika sudah melarang pesawat dari luar memasuki negaranya. Negara-negara lain juga hampir sama, memperketat lalu lintas manusia. Tapi sayangnya, di Ibu kota provinsi kita, di pelabuhan Tanjung Mas, kapal pesiar yang mengangkut wisatawan Australia dan Selandia Baru diberi ijin berlabuh, penumpangnya bebas turun dari kapal. Kata petugas berwenang di sana, wisatawan itu semua negatif Corona. Hanya bermodal detektor suhu tubuh.
.
.
Jika kita mengacu dari banyak pengalaman, virus ini tidak bisa dideteksi dengan suhu tubuh saja. Dia akan mengalami inkubasi selama 14 hari setelah tertular. Jadi, jika ada orang yang tertular dia akan biasa saja gejalanya sebelum 14 hari kedepan. Ketika mendekati hari ke-14 pasien suspect akan merasa suhu tubuh naik, flu, tenggorokan kering, sesak nafas, dan badan yang seperti dikeroyok massa.
.
.
Mungkin benar apa kata pemerintah pusat, sudah seharusnya, kita tidak perlu was-was dan takut dengan wabah ini. Tapi keterbukaan informasi, dan cara-cara penanggulangan pemerintah sudah saatnya tidak dirahasiakan. Saat ini, Indonesia semakin kacau, wabah ini bukan soal urusan politik. Pemimpin sejati akan lahir dari ujian besar ini.
.
.
Italia sudah melakukan seperti di China, Lockdown. Semua akses menuju dan keluar kota dikunci, kecamatan dikunci, desa dikunci, pintu rumah dikunci, semua dikunci. China terbukti sukses. Sudah hampir nihil pasien positif di sana. Bahkan China yang telah mengekspor virus ke seluruh dunia, tidak ingin virus ini kembali lagi dengan cara membatasi lalu lintas manusia menuju China.
.
.
Di Indonesia, pemerintah kita santuy saja. Tidak ada gelagat metode apa yang akan dipakai untuk menangani wabah ini. Orang Nusantara dari jaman dahulu sudah sakti katanya. Memang benar, kemarin saat saya mengobrol dengan pramuniaga toko di Pemalang, mati sudah takdir. Kita besok mati juga tidak tahu, tidak harus mati sebab Corona, katanya. Pramuniaga tersebut sama seperti kita. Rakyat kecil.
.
.
Tentang wabah Corona ini, saya jadi ingat novel Inferno karya Dan Brown terbit di New York 2013. Novel ini berkisah tentang konspirasi jahat. Sumber masalahnya adalah populasi. Populasi di dunia ini semakin hari semakin meningkat. Populasi yang banyak membawa masalah sendiri dalam sektor ekonomi. Sumber daya yang ada, tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan manusia. Maka solusinya, dibuatlah wabah untuk mengurangi populasi. Tentu saja novel itu banyak kita jumpai drama, ada juga tokoh yang menolak konspirasi itu.
.
.
Tapi mudah-mudahan saya salah, mengkaitkan novel itu dengan wabah ini. Hari ini hari kelahiranmu, hari lahir adalah hari perjuangan untuk hidup. Hidup yang bahagia adalah hak setiap individu. Teringat pada adzan Isya malam itu, bayi merah menangis merekah. Bayi itu kini sudah besar. Sudah bisa merapalkan doa-doa. Hapal Qulhu. Tetap sehat dan jayalah kamu. Semoga wabah ini segera berlalu.
No comments:
Post a Comment