Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Tuesday, 10 March 2020

Yang Tersembunyi

#DearDifaa

Kemarin kita menonton animasi kesukaanmu; Tayo. Episode kemarin sepertinya serial awal karir Tayo sebagai bus kota. Dia kedatangan seorang teman baru. Bus kecil berwarna abu-abu. Dia datang dari desa berkunjung ke kota. 
.
.
Si bus udik dari desa tercengang dengan segala hingar bingar kota. Awalnya ia tersesat. Tidak tahu jalan. Tidak tahu harus pergi kemana. Ndilalah dia bertemu Tayo. Karena Tayo adalah bus kecil ramah, dia menawarkan diri untuk menemani bus ndeso itu keliling kota. Untuk melihat segala keindahan jalanan kota. Tentu saja, bus ndesa itu senang bukan kepalang.
.
.
Di jalanan, saat melihat gedung pencakar langit dan jembatan panjang membentang, Tayo dan Bus Ndesa itu banyak disapa oleh penduduk kota. Ada yang mengucapkan terimakasih karena telah mengajarkan cara berkendara yang baik. Ada juga yang menyapa sekedar basa-basi. Bahkan si Kereta cepat bawah tanah, saat bertemu Tayo, dia lajunya pelankan. Mereka mengobrol dengan hangat. Pada intinya, si bus desa sangat berkesan dengan kepribadian Tayo yang banyak disukai khalayak.
.
.
Karena penasaran dengan kepribadian Tayo yang punya wibawa, Bus Desa bertanya, 
"Apakah kamu seorang bos, wahai Tayo?".
"Bos???", Tayo bingung mau menjawab apa. Akhirnya dia membenarkan bahwa dialah seorang Bos. Saat itu Tayo dengan jumawanya berbohong kalau dia adalah bos seluruh bus kota. Saat itulah petaka dimulai.
.
.
Tayo yang jumawa meninggalkan bus desa. Bus desa itu akhirnya melaju sendiri. Namun naas, dia tersesat. Beruntung dia bertemu dengan Lany [teman Tayo]. Dengan Lany bus desa dibawa ke tempat istirahat para bus. Di sanalah para bus berkumpul. Saat bus desa dan banyak bus mengobrol, datanglah Tayo. Tayo kaget, karena bus desa memanggilnya Boss Tayo. Dan seluruh teman-teman Tayo juga kaget, ternyata mereka [bus desa dan Tayo] sudah saling kenal. 
.
.
Sebelum kebohongan itu terbongkar, Tayo cepat-cepat mengajak bus desa keliling kota kembali. Hari sudah beranjak senja. Tayo tidak biasa berkendara jika malam, karena Tayo memang belum cukup lama tinggal di kota. Akhirnya mereka tersesat. Saat itulah Tayo melakukan pengakuan dosa. Dia bukan boss sebenarnya. Dan tidak ada boss di bus kota. Kami semuanya berteman. Si bus desa tidak kecewa dengan Tayo. Menjadi apapun Tayo, tanpa embel-embel pun, Tayo adalah kepribadian hangat yang menyenangkan. 
.
.
#DearDifa, saat di Yogya, saya punya teman, lebih tepatnya senior. Dia bukan teman kuliah. Saya mengenalnya di kampus ISI Yogya. Rambutnya gondrong, penampilannya acak awur. Celana jinsnya sobek di bagian lutut. Penampilannya seperti seniman betulan. Saya mengenalnya lebih dalam saat dia menjadi ketua panitia Pameran Pesta Buku Yogya. Dan saya ada di bagian divisinya. Dia tidak pernah menjelaskan bagaimana dia berasal. Teman-teman pada hormat dengannya. Yang orang Jawa, akan berbicara dengan Jawa Krama pada dia. Teman dari Madura berbicara dengan bahasa Madura halusnya. Yang dari luar Jawa, menggunakan bahasa Indonesia baku. Hanya saya yang orang Jawa, karena kebelumtahuan saya, saat mengobrol dengannya dengan Jawa Ngaka.
.
.
Selidik dan dari berbagai informasi teman, ternyata dia Gus besar dari Surabaya. Dia yang menggarap sebagai panitia inti saat Muktamar NU di Jombang. Hidupnya biasa saja. Dia tinggal di kos yang kusam. Saat saya ke kosnya. Dia berkisah, untuk menyambung hidupnya di Yogya, terkadang dia menjual lukisan dari kanvas. Terkadang juga berbisnis buku. Dlsbnya yang dia tidak pernah menggunakan atribut ke-Gus-annya.
.
.
Saya juga punya teman, dia adalah seniorku PBA Yogya. Penampilannya biasa saja. Kepribadiannya juga sangat hangat. Dia berasal dari Ngawi Jawa Timur. Istrinya orang Purwokerto. Setelah lulus, saat saya tanya apa kesibukannya, dia menjawab hanya berdagang bawang goreng yang sudah dikemas cantik, saya pernah diberinya secara cuma-cuma. Bawang goreng itu juga pernah menjadi lauk makanmu, saat umurmu sekitar satu tahun. 
.
.
Suatu ketika, saat di Purwokerto, saya diajaknya untuk ke rumahnya. Ternyata itu bukan rumah, melainkan Pondok Pesantren besar. Santrinya hampir ribuan. Rata-rata mahasiswa Purwokerto Unsoed dan IAIN. Bapak maratuanya yang Kiai itu juga salah satu petinggi kampus negeri di Purwokerto. Informasi selanjutnya dia ternyata Gus dari Ngawi. Sang penjual bawang goreng itu Gus juga hafidz.
.
.
#DearDifa, saya tidak mengajakmu menjadi pribadi yang extrofert atau introfert. Semua akan menjadi laku batinmu suatu hari nanti. Semua kisah diatas, memang tidak mengandung kisah nubuwah atau wali. Tapi kita akan sama-sama belajar dari apa saja, dari siapa saja, bahkan dari pendengki. 

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE