Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 18 May 2025

Kitabah, Hujan Angin, dan Halaman-Halaman Digital yang Tak Pernah Kosong

Semester ini, saya mengampu kelas Kitabah. Menulis dalam Bahasa Arab—sebuah kegiatan yang bagi sebagian mahasiswa masih terasa asing, menantang, bahkan kadang menakutkan. Tapi kita sepakat untuk memulainya, perlahan. Meski bukan di ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tapi di kotak-kotak kecil bernama Zoom, dengan suara yang kadang delay dan wajah yang tak selalu menyala.

Saya memilih pendekatan qawaid dalam tiap bab. Bukan tanpa alasan. Saya percaya, menulis dalam bahasa Arab bukan semata soal mengalirkan kata, tapi memahami struktur di baliknya. Maka kami belajar mengenal mubtada’ dan khabar, hingga naik ke inna wa akhwatuha, dan menyelami perubahan makna dalam kana wa akhwatuha. Setiap bab hadir bukan hanya dengan teori, tapi dengan harapan: semoga pola-pola itu menjadi pijakan dalam tulisan.

Namun, tidak semua berjalan mulus.

Pernah suatu sore, langit gelap, angin bertiup kencang. Di rumah saya, suara genteng berderak, sinyal naik-turun, bahkan listrik sempat berkedip. Tapi ketika saya buka Zoom, satu per satu nama kalian muncul. Ada yang menyalakan kamera, ada yang diam dalam mode mute, tapi saya tahu: kalian hadir. Dan di tengah bisingnya hujan, saya sampaikan salam, saya buka pelajaran, dan kita mulai menyusun kalimat.

Hari lain, saat penarikan KKN, saya sebenarnya sudah lelah. Tubuh rasanya minta istirahat, tapi hati tak tenang kalau kelas kitabah harus kosong. Maka dengan sinyal seadanya, saya tetap masuk. “Ana ma’akum,” saya bilang. Dan kalian, seperti biasa, menyambut dengan semangat yang membuat lelah itu luruh. Kita tetap belajar. Kalimat demi kalimat. Walau pendek, walau masih terbata, tapi kita menulis.

Sebagai fasilitator, saya tahu saya bukan yang terbaik. Banyak hal yang belum sempurna. Mungkin ada penjelasan yang terlalu cepat, mungkin saya kurang peka saat kalian bingung, atau mungkin saya terlalu sering mengulang contoh yang sama. Saya minta maaf. Sebesar-besarnya. Sedalam-dalamnya. Tapi percayalah, saya berusaha. Karena saya yakin, kalian layak mendapatkan pembelajaran yang baik.

Dan saya percaya, kalian juga sudah berjuang. Di balik layar laptop atau ponsel kecil, kalian menulis. Kadang sambil mengasuh adik, sambil sibuk bekerja, kadang sambil mengisi daya HP yang nyaris habis, atau sambil bertanya dalam hati: “Benar nggak ya jumlah ini?” Tapi kalian tetap menulis. Dan bagi saya, itu luar biasa.

Tujuan dari kelas ini sederhana: agar kalian bisa membangun kalimat dengan sadar. Tidak hanya paham teori, tapi tahu mengapa kalimat itu ditulis begitu. Dan semoga dari pola-pola yang kita pelajari, lahir tulisan-tulisan yang tidak hanya benar secara nahwu, tapi juga punya makna dan rasa.

Sekarang semester telah usai. Tapi pelajaran belum. Karena menulis tidak selesai di Zoom. Ia hidup dalam tugas, dalam skripsi, dalam doa-doa yang kalian ketik dalam bahasa Arab di catatan pribadi.

InsyaAllah, semester depan kita bertemu lagi. Dengan qowaid yang lebih dikuasai, dengan semangat yang tidak pernah padam, dan dengan lembar-lembar digital yang siap diisi.

Terima kasih telah hadir, bahkan saat hujan angin, bahkan saat saya lelah. Terima kasih telah menulis, bahkan saat tak ada yang memaksa.

Kitabah kita mungkin sederhana. Tapi semangatnya tak pernah biasa.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE