Saat buka Instagram, dan membaca akun SkeNU tentang fenomena anak muda yang ramai ke makam wali untuk memenangkan diri. Itu sangat relet dg saya. Saya jadi ingat kawan saya. Dia kolega saya di sebuah lembaga.
Di Whatsapp Group kami, dia sering membagikan pencapaian-pencapain dia pergi ke makam-makam "wali", hingga di pelosok-pelosok desa, sampai makam-makam yang jarang dikenal manusia pada umumnya. Sampai suatu saat ada anggota group lain nyinyir.
Kata seseorang, hidup hanya tirakatan, dia masih muda. Masih bujangan. Puluhan tahun lalu saya juga merasakan hal yang sama seperti itu. Saat masih bujangan. Ketika pekerjaan tidak kunjung datang. Ketika masa depan tidak tahu arahnya akan seperti apa. Meskipun saat ini juga masih sama.
Mau curhat ke siapa? Psikolog? Saya tidak punya akses. Apalagi uang. Ke teman? Apa yang diharapkan pada seorang yang bernasib sama. Mario Teguh? Haha. Dulu ada istilah yang terkenal, bahwa hidup tidak seindah c*c*tnya Mario Teguh.
Maka, makam-makam wali adalah jalan.
Sendiri membaca sedikit tahlil. Selebihnya menenangkan diri. Dan selebihnya diserahkan ke Tuhan yang Maha Tidak Tegaan.
Jadi, ini bukan lagi tentang bagaimana halal atau haram berziarah. Tapi ada yang lebih penting. Kondisi ekonomi negara yang tak menentu, berimbas pada masa depan pemuda pemudi merajut masa depan. Depresi takut akan kegagalan. Belum lagi permasalahan asmara yang tak kunjung padam.
Santri yang realistis tentu dia tahu bagaimana kaifiyah berdoa di Makam Wali. Sebagai penganut penyerempet pakem-pakem Positivisme dalam filsafat, bahwa pengetahuan yang valid hanya berasal dari pengalaman indrawi dan metode ilmiah. Meskipun ziarah ini kata sebagian kaum tidak ada ilmiah-ilmiahnya sama sekali. Positivisme dan bahasa agama dikolaborasi.
Di sana–di makam wali-wali itu, sangat menenangkan, kita bisa berdialog dengan diri sendiri, sebenernya apa yang saya cari.
Di sana, tidak cari karomah, hanya mencari sunyi, cari ruang yang tidak berisik seperti dunia sosial media hari ini. Tidak ada motivator-motivator seperti Mario Teguh. Adanya motivator seperti Sudjiwo Tedjo, tapi dia mengaku dia hanya seorang motivan*uk!
Makam Wali itu lucu, kita datang sambil nangis, tidak akan ada yang tanya, kamu kenapa? Tidak ada yang menghakimi, tidak seperti konten-konten motivasi. Di makam Wali, hanya cukup diam. Karena mungkin wali-wali itu tahu, tidak semua luka itu harus diceritakan, hanya cukup dirasakan.
No comments:
Post a Comment