Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Thursday, 8 May 2025

Jejak yang Tak Pernah Hilang (1)

Ibuku tak pernah benar-benar tahu seperti apa ayahnya.

Ia hanya mengingat satu malam—entah pukul berapa, entah bulan apa. Yang dia tahu, tubuhnya kecil dan sedang sakit. Dan dalam keadaan menggigil, ia digendong oleh seseorang. Lengan hangat. Dada bidang. Bau peluh dan sabar yang entah kenapa menenangkan.

Itulah satu-satunya kenangan Ibu tentang Bapak kandungnya. Ayahnya wafat saat ia baru berusia dua tahun.

Tapi lucunya, meski nyaris tak pernah mengenal, jejak lelaki itu seperti tak pernah benar-benar hilang.

Orang-orang bercerita bahwa kakekku bertubuh tinggi dan tegap, bermata bulat, dan tangannya terampil memahat dan membangun. Ia bukan arsitek bersertifikat, tapi tukang sejati yang tahu cara menjadikan kayu jadi rumah dan rumah jadi hangat. Seorang seniman yang tak mencetak lukisan, tapi warisan.

Mungkin karena itulah, sepupu kami, Mas Amin, tumbuh jadi ahli seni. Seperti ada sesuatu yang menurun diam-diam dari tangan yang sama—tangan yang tak sempat menuntun anaknya tumbuh besar, tapi masih mampu mengalir ke generasi berikutnya.

Kakekku bukan orang kaya. Tapi justru di situlah letak kebesarannya. Dalam kesederhanaan yang tidak dibuat-buat. Dalam cara hidup yang tidak banyak menuntut. Dalam keteguhan hati yang tidak butuh sorotan. Nilai-nilai itu, katanya, banyak ditiru oleh cucu-cucunya. Entah sadar atau tidak.

Dan aku masih ingat—waktu kecil, aku pernah melihat wajahnya. Lebih tepatnya, bayangannya. Di ruang tamu rumah uwakku, rumah tua peninggalan kakek, tergantung sebuah lukisan besar. Hitam putih. Sorot matanya dalam, wajahnya tegas, tapi ada kelembutan yang samar. Aku sering berdiri diam di depannya, seperti menunggu sosok itu bicara.

Suatu hari, angin kencang datang sore-sore. Jendela terbuka. Lukisan itu jatuh. Kacanya pecah. Kami semua terdiam. Tak ada yang terluka, tapi rasanya ada yang patah. Mungkin itu cuma kebetulan. Tapi buatku, seperti pertanda kecil dari alam: bahwa kenangan bisa jatuh, tapi tak hilang. Bahwa masa lalu tidak bisa disimpan utuh, tapi bisa dikenang dalam potongan.

Dan ada satu kisah lagi, yang tak pernah absen dari cerita keluarga kami: perjalanannya menunaikan haji.

Dulu, orang-orang pergi haji bukan dengan pesawat yang tinggal naik. Mereka naik kapal laut, berbulan-bulan di lautan. Perjalanan panjang. Bekal seadanya. Tapi mereka tetap pergi. Bersama nenekku, kakek menempuh perjalanan spiritual itu dengan sabar. Tak ada foto-foto dokumentasi, hanya cerita yang hidup dari mulut ke mulut. Bahwa mereka pergi bukan untuk dilihat, tapi untuk taat.

Cara beliau pergi haji itu yang paling membekas. Bukan karena kemewahan, tapi karena niat yang penuh. Dan diam-diam, aku berharap... cara beliau menempuh perjalanan itu bisa ditiru oleh cucu-cucunya. Tidak hanya dalam arti berangkat ke Tanah Suci, tapi juga dalam menjalani hidup.

Dengan sabar. Dengan cukup. Dengan hati yang penuh walau tangan sederhana.

Karena mungkin, jejak seorang kakek bukan hanya ada di foto tua, atau lukisan yang jatuh. Tapi ada dalam cara cucu-cucunya bersikap, bermimpi, dan menyederhanakan cinta.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE