Nama itu adalah perjalanan. Kadang kita tak tahu pasti, apa yang membuatnya berubah. Apa yang membuat seseorang, seperti kakek saya, yang dulu bernama Wastam, berubah menjadi Abdul Aziz. Semua itu penuh dengan kisah yang tak tampak. Perjalanan hidup yang dipenuhi oleh keputusan-keputusan besar, oleh tantangan, dan ujian yang datang tanpa diundang. Ini kisah seperti potongan-potongan mozaik yang berserakan.
Kakek saya, Wastam, dulu dikenal tak pernah banyak bicara soal dirinya sendiri. Tapi saya tahu, dalam diamnya itu, tersimpan sejuta cerita yang tak pernah keluar, yang tak pernah diceritakan. Salah satunya adalah perjalanan haji yang mereka tempuh, bersama nenek saya, yang dulu bernama Munirah, kemudian berganti menjadi Azizah.
Kini, nama-nama itu lekat pada mereka. Tapi nama itu bukan sekadar nama. adalah simbol dari perjuangan mereka yang luar biasa.
Dulu, perjalanan haji itu bukan seperti sekarang. Kalau sekarang, kita bisa terbang dalam hitungan jam, ke Tanah Suci, dengan kenyamanan yang cukup. Kakek dan nenek saya harus menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut, berbulan-bulan. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tegal, kapal itu bergerak perlahan, melewati pelabuhan-pelabuhan besar di sepanjang pantai, menuju lautan luas yang tak tahu kapan akan berhenti.
Tujuh bulan.
Itulah lama perjalanan mereka, dengan bekal seadanya. Mereka bertahan dalam keterbatasan, dalam perjalanan yang tidak mudah. Setiap gelombang yang menghempas, setiap angin yang menderu, itu adalah ujian bagi mereka. Tapi mereka terus maju, tanpa menyerah.
Ibu saya, waktu itu masih bayi, masih menyusu ke nenek saya. Dan karena nenek saya akan berangkat haji, ia harus disapih. Begitu banyak cerita yang terputus karena jarak dan waktu, cerita yang terlupakan oleh dunia, tetapi selalu hidup dalam memori saya.
Cerita ini mengingatkan saya pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan tentang perjalanan hidup, tentang bagaimana orang-orang harus meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Begitu pula perjalanan kakek dan nenek saya. Mereka meninggalkan segalanya, demi sebuah panggilan. Sebuah tujuan yang lebih besar.
Perjalanan haji itu bukan hanya tentang ritual agama. Itu adalah perjalanan hidup yang penuh dengan ketekunan, perjuangan, dan keteguhan hati. Mereka pergi, berlayar melewati samudra Hindia yang luas, memutari Jawa bergerak ke Semarang, Surabaya, Pacitan, Yogyakarta, Cilacap, dan Banten.
Itulah perjalanan mereka. Dari Wastam, ke Abdul Aziz. Dari Munirah, ke Azizah. Perjalanan itu bukan hanya mengubah nama mereka. Itu mengubah hidup mereka.
Kakek saya bukanlah orang yang kaya. Tapi kakek adalah orang yang penuh dengan ketulusan. Seorang petani yang jujur, seorang tukang yang jujur. Saya berharap Sifat itu turun ke dalam darah kami, tentu warisan itu menjadi warisan yang sangat berharga.
Kakek Abdul Aziz adalah lelaki yang biasa saja. Dulu dia bekerja di lahan milik Nenek Buyut saya, Aisyah. Konon, Aisyah ini adalah seorang wanita kaya, yang memiliki banyak sawah. Kakek saya, dengan ketulusan hatinya, merekomendasikan sawah-sawah yang sebaiknya dibeli. Karena itulah, kekayaan Buyut Aisyah sebagian besar datang dari keputusan-keputusan yang bijak dari kakek saya. Kakek saya bukan hanya seorang pekerja biasa. Ia adalah seorang yang penuh dedikasi, yang jujur dalam setiap langkahnya.
Saat Buyut Aisyah ingin membeli sesuatu, kakek saya lah yang akan menjualkan gabah-gabah yang sangat banyak itu, sebagai bekal untuk membeli sawah. Sebuah transaksi yang penuh kepercayaan dan kejujuran.
Cerita-cerita ini --- duhai anak-anakku, adalah bagian dari hidup saya. Saya dibesarkan dengan cerita-cerita tentang kebaikan para tetuaku dulu. Tentang bagaimana nenek dan kakek saya mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita dapat, tetapi tentang seberapa besar kita memberi kepada orang lain.
Warisan mereka bukan harta, bukan kekayaan yang bisa dihitung dengan uang. Warisan mereka adalah nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai yang saya ingin teruskan kepada anak-anak saya, generasi yang akan datang. Karena pada akhirnya, saya ingin mereka tahu, bahwa hidup ini lebih berarti ketika kita hidup dengan kejujuran, ketulusan, dan pengabdian yang tulus.
Nama Abdul Aziz dan Azizah bukan sekadar sebutan. Mereka adalah doa. Doa yang mengalir dalam darah kami, doa yang mengingatkan kami untuk selalu menjadi orang yang baik, meskipun dunia sering kali tak mengenal kebaikan itu.
No comments:
Post a Comment