Ini tulisan Om Bud, yang saya gubah sedikit. Sangat relevan denganku yang dulu menggebu-gebu.
*****
Dulu saya pikir hidup itu medan perang. Setiap hari saya bangun dengan pikiran bahwa saya harus "mengalahkan hari ini". Saya paksa semua hal berjalan sesuai rencana. Kalau tidak sesuai, saya anggap itu kegagalan.
Sampai suatu hari, saya duduk di taman sendirian. Tak ada yang spesial. Hanya pohon, langit, dan angin sore. Tapi sore itu saya sadar—tak satu pun dari mereka sedang melawan. Pohon tidak memaksa daun bertahan. Awan tidak protes ketika hujan turun. Bahkan matahari pun tahu kapan harus tenggelam. Alam seperti menepuk bahu saya pelan: "Kenapa kamu terus melawan, padahal kami hanya sedang mengalir?"
Sejak itu, saya mulai mencoba mendengar. Lebih sering diam. Lebih sering bertanya daripada mengatur. Ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan, saya tidak langsung menyalahkan hidup. Saya tanya dulu: “Apa mungkin ini arah yang lain, bukan kegagalan?”
Saya belajar bahwa bersinergi dengan semesta bukan berarti pasrah. Tapi belajar kapan harus bertindak, dan kapan harus diam. Belajar membedakan mana yang memang harus diperjuangkan, dan mana yang perlu dilepaskan.
Ternyata, semesta tak pernah melawan saya. Saya aja yang terlalu sibuk jadi komandan, sampai lupa bahwa saya bagian dari orkestra besar yang bernama kehidupan.
Suatu pagi saya duduk di halaman rumah, menatap semut yang mondar-mandir membawa remah roti. Di sebelah saya, kucing tetangga melintas dengan langkah malas, sementara burung gereja berkicau dari atas pagar. Saya tersenyum. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi entah kenapa pagi itu terasa hidup.
Saya jadi sadar: saya tidak sendiri di planet ini. Kita semua—manusia, semut, burung, pohon, air, batu—adalah sesama penghuni bumi. Sesama penduduk alam semesta.
Manusia memang sering gak tau diri. Kita merasa pemilik bumi. Tanah, hewan dan pepohonan adalah asset. Padahal tanpa makhluk lain, tanpa pohon yang memberi oksigen, tanpa lebah yang membantu bunga tumbuh, tanpa angin yang menggerakkan awan...apa yang tersisa dari kehidupan?
Sejak itu, saya mulai membiasakan sesuatu yang mungkin terdengar aneh: saya mengajak mereka bicara. Kadang saya menyapa pohon. Kadang saya bilang “terima kasih” ke air yang saya minum. Kadang saya minta maaf ke tanah yang saya injak. Mungkin terdengar konyol, tapi rasanya hangat.
Semesta ternyata tidak pernah sunyi. Ia selalu menjawab. Lewat angin. Lewat gerak daun. Lewat perasaan yang muncul tiba-tiba, entah dari mana. Semesta bicara, kalau kita mau mendengar.
Saya percaya: kalau kita mau menjaga bumi ini, kita harus mulai bersilaturahmi dengan seluruh penghuninya. Bukan hanya manusia, tapi juga makhluk lain yang selama ini kita anggap diam. Mereka bukan diam. Kita saja yang tak pernah menyapa.
Menjaga bumi bukan tugas manusia sendiri. Itu kerja kolektif. Kita perlu berteman, bukan hanya memakai. Perlu mendengar, bukan hanya meminta. Perlu berbicara bukan memerintah.
Ketika kita mulai hidup bersama, bukan di atas yang lain, semesta pun akan ikut merawat kita.
Dulu saya pikir suara semesta itu semacam bisikan gaib atau petunjuk mistis yang muncul tiba-tiba. Ternyata bukan.
Suara semesta sering datang sebagai rasa. Rasa yang lembut tapi menggelitik, muncul saat saya diam. Saat saya berhenti dari rutinitas yang bising, duduk tenang, dan benar-benar hadir.
Saya ingat suatu sore, saya duduk di bawah pohon jambu yang tumbuh di belakang rumah. Angin sore menyentuh pelan kulit saya. Daun-daunnya berdesir seperti membisikkan sesuatu. Dan entah kenapa, sore itu saya merasa damai sekali. Rasanya seperti dipeluk. Padahal saya sendirian.
Mungkin itulah suara semesta.
Kadang semesta tidak berbicara lewat kata-kata. Ia berbicara lewat getaran. Lewat angin yang tiba-tiba berhenti, lewat hujan yang turun di saat hati sedang berat, lewat pelangi yang muncul setelah hari-hari mendung. Lewat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangan, seolah bilang, “Hei, tenang, kamu tidak sendiri.”
Dan untuk bisa mendengar semua itu, kita harus belajar satu hal penting: diam.
Bukan diam karena tak tahu harus berkata apa, tapi diam yang penuh kehadiran. Diam yang tidak melarikan diri dari rasa, tapi justru menatapnya. Diam yang membuka pintu-pintu batin, agar suara-suara lembut dari luar bisa masuk.
Semakin saya diam, semakin saya peka.
Saya mulai bisa membedakan: mana suara hati saya sendiri, mana suara ego, mana suara semesta. Tiga hal itu sering tumpang tindih, tapi pelan-pelan saya belajar membedakannya lewat latihan sederhana: duduk, napas panjang, dan tidak buru-buru menjawab dunia.
Mendengar semesta adalah keahlian yang bisa dipelajari. Bukan karena kita jadi sakti, tapi karena kita belajar hadir. Hadir sebagai manusia di tengah rimbunnya kehidupan lain, sebagai salah satu dari banyak makhluk yang sama-sama ingin hidup dengan damai.
Semesta memang tidak selalu memberi jawaban yang kita mau. Tapi ia selalu memberi jawaban yang kita butuh. Kalau kita mau benar-benar mendengar.
Kata sastra jalanan yang pernah saya baca di bokong truk, “cepat-cepat mau ngejar apa, pelan-pelan nungguin siapa”. Hidup semengalir saja.
*****
#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar
No comments:
Post a Comment