Dalam sebuah diskusi film, di Gedung B6, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Dedi Mizwar mengatakan: ”Sekolah itu penting, agar tahu bahwa sekolah itu tidak penting”.
****
Toha, namanya diabadikan Tuhan dalam Alquran. Tapi bukan itu, Toha adalah nama bapak kawan saya. Sahabat saya ini umurnya jauh dibawah saya. Manusia seusia saya ini bisa nyambung dengan umur berapapun. Termasuk dengan bapak kawan saya yang jauh lebih sepuh. Jika nongkrong dan ngobrol dengan para tetua,, yang diceritakan adalah kisah-kisah terdahulu sebagai bentuk kejujuran kehidupan. Inilah Pak Toha dengan hikayatnya yang diceritakan.
Barangkali ini adalah kisah biasa. Kisah-kisah zaman dulu dengan berbagai perjuangan, kelaparan, dan kemiskinan. Namun sesungguhnya, dibalik kisah ini saya tahu, Pak Toha adalah orang kaya, kaya hatinya, kaya pengetahuannya. Dan paling penting kaya cita-cita luhurnya.
Saya akan menarik seting kisah ini. Cerita ini bertempat di sebuah desa di lereng Gunung Slamet. Listrik baru masuk desa ini pada saat kawan saya lahir di dunia, 1995.
Pagi itu, cuaca agak mendung Pak Toha membuka obrolan dengan saya perjuangannya sekolah SD pada tahun 1970an. Di desanya dulu, belum ada SD sekolah SD hanya sampai kelas 3, itupun bukan bangunan SD, hanya gubuk rumah warga yang disulap sebagai kelas untuk pembelajaran, selepas kelas 3, yaitu kelas 4, SD hanya ada di desa tetangga yang harus melewati bukit dan jalanan terjal. Pantas saja, dari jumlah teman-teman Pak Toha saat kelas 1 sampai kelas 3 berjumlah 40, hanya tersisa 4 yang melanjutkan ke kelas 4 hingga kelas 6 di desa tetangga.
Dia mengaku untuk pergi ke sekolah, saat musim hujan adalah sebuah hal yang paling payah, jalanan licin, tidak ada payung, baju basah, apalagi sepatu sebagai alas kaki. Pada musim kemarau, lebih parah, jalanan berdebu luar biasa, hingga terkadang dia dan kawan-kawannya terbatuk-batuk. Singkatnya, dalam musim apapun, pergi sekolah adalah hal yang tidak menyenangkan. Terlebih pada zaman itu, ketika kemiskinan dan kelaparan adalah teman, berangkat sekolah belum tentu tersedia sarapan.
Dulu itu – entah dengan sekarang,, pendidikan dan sekolah tidak terlalu penting. Terlebih bagi perempuan. Dulu, ketika saya belajar dasar-dasar pendidikan dan gender, saya rasa, anggapan perempuan yang hanya Tiga Ur: Dapur, Sumur, Kasur, adalah teori belaka. Ternyata hal seperti ini sangat kental di masyarakat desa kawan saya pada saat itu.
Pak Toha mempunyai lima anak, empat diantaranya adalah perempuan. Yang laki-laki hanya kawan saya itu, dia anak nomor tiga. Pak Toha sebagaimana lelaki desa biasa, tentu saja bukan orang kaya, saat para anak perempuannya sekolah sampai SMP, dan SMA, banyak yang mencemooh, apalagi sampai di awal milenium, perempuan pertamanya kuliah, tidak ada dukungan sama sekali, dari keluarga besarnya, karena latar belakang Pak Toha di desa yang hanya kalangan menengah ke bawah, kata-kata 3 Ur tadi sering keluar dari masyarakat desa. Tapi tidak dengan Pak Toha, optimisme akan masa depan, dan cita-cita menghilangkan kebodohan tidak melihat gender anaknya. Keempat anaknya adalah sarjana di kampus Yogya. Tinggal perempuan terakhirnya yang sekarang sedang skripsi di Kampus Bandung.
Dengan latar belakang ekonomi Pak Toha tersebut, yang saya herankan, adalah, kok ada saja rezekinya untuk pendidikan anak-anaknya.
Saat anak perempuannya kuliah di Yogya, misalnya, Pak Toha berkisah, dia menjual 2 ekor kerbaunya untuk membeli laptop! Ya, harga laptop jaman dulu belum terjangkau, dan satu kerbau dewasa itu, yang sekarang mengalami inflasi ekonomi berharga paling murah 25 juta!
Ada lagi, saat anaknya yang keempat wisuda kemudian menikah, Pak Toha yang petani itu, sedang menanam cabai, satu kilo cabai pada saat itu mencapai 90 ribu, kok ya ndilalah ada.
Sekarang, ketiga anak perempuannya berkiprah dalam dunia kerja masing-masing, yang pertama selain menjadi guru, dia menjadi tokoh di desa, yang kedua dan keempat tinggal di Yogya, bekerja di bidangnya. Banyak gadis-gadis di desa terinspirasi kepada para anak perempuan Pak Toha, mereka mengejar pendidikannya, mimpi dan cita-citanya. Kawan saya sarjana dalam bidang pertanian, dia banyak membantu bapaknya dengan ilmu-ilmu pertanian mutakhir, seolah dia yang akan disiapkan bapaknya menjadi petani generasi masa depan.
Saat saya mengkonfirmasi kepada kawan saya tentang kisah-kisah tersebut,
“Bro, bapak lo luar biasa!”,
“Bukan, bro, bukan bapak gw yang luar biasa, tapi kakek gw yang keren.”.
Kawan saya menceritakan, bahwa, kakeknya berpesan, pendidikan itu penting, motivasi itu yang menjadikan Pak Toha bisa sampai kelas 6 SD, walaupun saat ujian kelas 6 Pak Toha tidak lulus, karena ujian kenaikan tingkat pada saat itu harus dilakukan di Sekolah di ibu kota kecamatan, sementara untuk pergi ke kecamatan pada saat itu belum ada jembatan.
****
#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar
Saya tidak tahu, saya yang seperti ini, bagaimana nantinya akan memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan kalian di masa depan, selain berharap pada Tuhan Yang Maha tidak Tegaan. Kembali lagi, pendidikan itu penting, agar kita tahu bahwa SISTEM pendidikan kita itu sebenarnyatidak penting.
No comments:
Post a Comment