Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Tuesday, 11 November 2025

Bagaimana Suleman Dikenang

Memang begitulah kejadiannya.

Sekitar pukul sebelas malam, Suleman ditemukan meninggal di ruang wudu Mushala Nurul Huda. Di samping tubuhnya yang basah kuyup tergeletak seorang perempuan muda bernama Siti Nur, kader posyandu yang juga bendahara mushala itu. Keduanya ditemukan oleh anak-anak yang datang hendak belajar ngaji lebih awal menjelang subuh. Saat itu air masih menggenang di lantai, dan lampu-lampu mushala padam seluruhnya.

Berita tentang kematian mereka beredar lebih cepat daripada kabar azan subuh.


Dalam waktu singkat nama Suleman, guru ngaji yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar anak-anak kampung itu, menjadi buah bibir. Orang-orang membicarakan posisi tubuhnya, cara meninggalnya, dan dengan siapa ia ditemukan. Di warung kopi, di beranda rumah, bahkan di grup WhatsApp warga, kalimat yang berulang-ulang terdengar sama:

“Guru ngaji meninggal berduaan dengan janda muda.”

Beberapa ibu rumah tangga bahkan menyarankan agar mushala itu ditutup sementara, menunggu pembersihan dan doa tolak bala. Sementara di pengajian Jumat, seorang ustadz sempat berkata dengan nada getir, “Begitulah, kadang setan datang dari pintu yang kita kira paling suci.”

Pemakaman Suleman berlangsung sederhana. Tak banyak yang datang. Hanya dua santri tua, satu tetangga dekat, dan tentu saja istrinya, Rukiyah, yang sudah lama sakit dan nyaris tak sanggup berdiri. Tak ada khotbah panjang, tak ada doa yang mengiringi lebih dari tiga menit. Angin pagi lewat di antara nisan-nisan baru, membawa bisik-bisik yang tak sempat ditepis siapa pun.

Sesudah itu, nama Suleman lenyap dari pengeras suara mushala. Anak-anak diminta mengaji di rumah Ustadz Mahfud.

Dan setiap kali orang lewat di depan ruang wudu yang sudah dikeringkan itu, mereka menunduk, bukan karena hormat, tapi karena malu menyebut sesuatu yang tabu.

“Sudah lama sebenarnya mereka berdua dekat,” kata seseorang di warung.
“Alim di depan, tapi siapa tahu di belakang.”

Begitulah manusia: sekali percaya pada gosip, maka kebenaran tak lagi butuh bukti.

Baru seminggu kemudian, petugas dari kelurahan datang membawa berkas laporan. Mereka mencari seseorang dari DKM untuk menandatangani dokumen bantuan air bersih. Dalam percakapan yang singkat dan nyaris diabaikan warga itu, terkuak sebuah hal kecil: malam sebelum kejadian, pompa air mushala rusak total.

Padahal, keesokan paginya akan diadakan pengajian akbar dan vaksinasi massal di halaman mushala. Suleman yang bertanggung jawab atas persiapan itu merasa gelisah, karena mushala tak boleh kering dari air wudu atau untuk sekedar cuci tangan.

Ia sempat menyambangi beberapa warga untuk meminjam kunci sumur umum RT sebelah, tapi hanya Siti Nur, bendahara mushala yang juga petugas posyandu, yang masih terjaga malam itu.

Mereka berdua ke mushala bukan untuk hal lain. Hanya untuk memastikan air tersedia esok hari.

Menurut keterangan petugas PLN yang memeriksa pagi berikutnya, kabel mesin pompa itu sudah lama terkelupas. Begitu mesin dinyalakan, arus listrik bocor ke genangan air.

Suleman yang berdiri paling dekat tersengat lebih dulu. Siti yang panik mencoba menarik tubuhnya.

Keduanya jatuh bersamaan, dalam posisi yang kemudian disalahartikan orang sebagai aib.

Tak ada yang tahu peristiwa itu hingga subuh tiba.

Namun kebenaran, seperti air, selalu datang terlambat. Dan sering kali, sudah terlalu keruh untuk dipercaya. Laporan resmi kelurahan tak pernah benar-benar dibaca warga.
Orang-orang sudah terlanjur menutup telinga dengan keyakinan mereka sendiri.

Hanya Rukiyah, istri Suleman, yang tetap datang ke mushala setiap sore. Meskipun sakit. Ia duduk di serambi dengan langkah tertatih, membawa ember besar. Kadang ia menimba air dari bak, menuangkannya perlahan ke lantai ruang wudu. Tak seorang pun tahu untuk apa. Mungkin hanya kebiasaan lama yang tak sempat ia buang.

Suatu kali seorang bocah menegurnya, “Buat apa airnya, Bu?”
Rukiyah tersenyum kecil.

“Biar besok kalau orang mau salat, gak kepleset.
Dulu Bapakmu juga begitu.”

Anak itu mengangguk, menatap permukaan air yang bergetar karena angin. Di luar, langit mulai gelap, seperti hendak hujan lagi.

Dan begitulah, bertahun-tahun kemudian, setiap kali air mushala macet atau hujan turun deras, orang-orang kampung masih menoleh ke arah ruang wudu itu. Bukan karena takut tersengat listrik, tapi karena, entah kenapa, mereka merasa ada sesuatu yang menatap balik dari sana . Sesuatu yang ingin berkata bahwa kebenaran tak selalu datang lebih cepat dari gosip.

Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Mereka hanya berdiri diam, memandangi ember di pojok mushala yang tak pernah kosong dari air.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE