Memang begitulah kejadiannya.
Sekitar pukul sebelas malam, Suleman ditemukan meninggal di ruang wudu Mushala Nurul Huda. Di samping tubuhnya yang basah kuyup tergeletak seorang perempuan muda bernama Siti Nur, kader posyandu yang juga bendahara mushala itu. Keduanya ditemukan oleh anak-anak yang datang hendak belajar ngaji lebih awal menjelang subuh. Saat itu air masih menggenang di lantai, dan lampu-lampu mushala padam seluruhnya.
Berita tentang kematian mereka beredar lebih cepat daripada kabar azan subuh.
“Guru ngaji meninggal berduaan dengan janda muda.”
Beberapa ibu rumah tangga bahkan menyarankan agar mushala itu ditutup sementara, menunggu pembersihan dan doa tolak bala. Sementara di pengajian Jumat, seorang ustadz sempat berkata dengan nada getir, “Begitulah, kadang setan datang dari pintu yang kita kira paling suci.”
Pemakaman Suleman berlangsung sederhana. Tak banyak yang datang. Hanya dua santri tua, satu tetangga dekat, dan tentu saja istrinya, Rukiyah, yang sudah lama sakit dan nyaris tak sanggup berdiri. Tak ada khotbah panjang, tak ada doa yang mengiringi lebih dari tiga menit. Angin pagi lewat di antara nisan-nisan baru, membawa bisik-bisik yang tak sempat ditepis siapa pun.
Sesudah itu, nama Suleman lenyap dari pengeras suara mushala. Anak-anak diminta mengaji di rumah Ustadz Mahfud.
Dan setiap kali orang lewat di depan ruang wudu yang sudah dikeringkan itu, mereka menunduk, bukan karena hormat, tapi karena malu menyebut sesuatu yang tabu.
“Sudah lama sebenarnya mereka berdua dekat,” kata seseorang di warung.
“Alim di depan, tapi siapa tahu di belakang.”
Begitulah manusia: sekali percaya pada gosip, maka kebenaran tak lagi butuh bukti.
Ia sempat menyambangi beberapa warga untuk meminjam kunci sumur umum RT sebelah, tapi hanya Siti Nur, bendahara mushala yang juga petugas posyandu, yang masih terjaga malam itu.
Suleman yang berdiri paling dekat tersengat lebih dulu. Siti yang panik mencoba menarik tubuhnya.
Keduanya jatuh bersamaan, dalam posisi yang kemudian disalahartikan orang sebagai aib.
Tak ada yang tahu peristiwa itu hingga subuh tiba.
Suatu kali seorang bocah menegurnya, “Buat apa airnya, Bu?”
Rukiyah tersenyum kecil.
“Biar besok kalau orang mau salat, gak kepleset.
Dulu Bapakmu juga begitu.”
Anak itu mengangguk, menatap permukaan air yang bergetar karena angin. Di luar, langit mulai gelap, seperti hendak hujan lagi.
Dan begitulah, bertahun-tahun kemudian, setiap kali air mushala macet atau hujan turun deras, orang-orang kampung masih menoleh ke arah ruang wudu itu. Bukan karena takut tersengat listrik, tapi karena, entah kenapa, mereka merasa ada sesuatu yang menatap balik dari sana . Sesuatu yang ingin berkata bahwa kebenaran tak selalu datang lebih cepat dari gosip.
Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.Mereka hanya berdiri diam, memandangi ember di pojok mushala yang tak pernah kosong dari air.
No comments:
Post a Comment