Anak kecil yang dulu duduk di depan televisi tabung, tiap Minggu pagi jam sembilan, menunggu Indosiar memutar kembali dunia yang terasa jauh dari kampungnya. Dunia para Saiya.
Di situ, di antara kursi plastik dan suara ayam tetangga, ia menemukan Goku. Bukan sebagai pahlawan super, tapi sebagai teman imajinasi yang membuat hidupnya terasa lebih luas dari pagar rumah yang terbuat dari bambu.
Anehnya, bertahun-tahun lewat, anak itu kini tumbuh menjadi orang yang sering mumet oleh hal-hal yang bahkan Vegeta pun mungkin tak mau mengurusnya, tagihan, pekerjaan, tuntutan, luka-luka hati yang tidak terlihat.
Mumet yang tidak bisa dikalahkan dengan satu kali hantaman Kamehameha.
Mumet yang cuma bisa dipikul pelan-pelan sambil menunggu dada kembali lapang.
Dan justru di saat itulah, kenangan tentang Goku datang lagi.
Goku yang tidak pernah digambarkan sebagai keturunan ningrat, bukan keturunan kiai, bukan anak habib, bukan orang besar yang semua jalannya sudah dirapikan.
Ia cuma seseorang yang terus berlatih. Terus naik level. Berusaha mencoba menjadi lebih baik dari kemarin.
Sederhana, tapi tegas untuk dirinya senidiri. Seorang biasa yang memilih untuk tidak berhenti.
Akira Toriyama, lelaki yang jarang dilihat orang di balik layar, telah memberi anak kecil itu satu pelajaran penting tanpa ceramah, tanpa ayat, tanpa pidato.
Bahwa, siapa pun bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya hari ini.
Bahwa batas kemampuan itu bukan tembok, melainkan pintu yang menunggu diketuk.
Kadang anak itu, yang kini sudah dewasa, menyadari bahwa kehidupan bukan tentang menjadi jagoan.
Tapi tentang keberanian untuk menambah sedikit kekuatan, sedikit pemahaman, sedikit keberanian, setiap hari.
Seperti Goku yang selalu kembali berlatih meski tubuhnya babak belur, kita pun belajar untuk berdamai dengan mumet, bukan kabur darinya.
Karena di balik kepala yang penuh dan hari-hari yang berat, ada peluang kecil untuk “naik wujud”, versi Super Saiya yang tidak memancarkan cahaya emas, tetapi memancarkan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati.
Dan mungkin, tanpa sadar, anak kecil yang dulu duduk di depan Indosiar itu sedang menghidupi pesan yang diwariskan Toriyama:
bahwa manusia biasa pun berhak tumbuh luar biasa, selama ia berani melampaui dirinya sendiri.
Super saiya itu sedang mumet, mengatur strategi baru.
No comments:
Post a Comment