Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 30 November 2025

Menjadi Qori

Sejak kecil, saya punya banyak cita-cita. Dan dua di antaranya terdengar, sangat heroik, sekaligus sangat tidak mungkin saya capai dengan kondisi saya hari ini.

Pertama, saya ingin bekerja di TVRI. Ya, TVRI hitam putih yang saya tonton waktu kecil. Yang gambarnya burem, antenanya harus diputer dulu pakai galah bambu, dan kalau hujan petir gambarnya jadi cacing kejang. Tapi entah kenapa, buat saya keren sekali menjadi bagian dari TVRI. Rasanya seperti jadi orang penting di republik ini, meski cuma baca acara jadwal siaran. Hingga saat ini saya suka sekali menonton berita TVRI.

Dan cita-cita kedua. Saya ingin menjadi qori. Qori tilawah Al-Qur’an. Sebuah seni tarik suara yang memadukan keindahan maqamat, tetapi tetap menjaga esensi tajwid. Meskipun suara saya sebenarnya sangat jelek. Jelek sekali.
Yang kalau dikasih nilai seratus, sembilan puluh sembilannya itu karena Allah Maha Pengampun.

Saya terinspirasi dari paman saya. Keluarga dari ibu saya, meski agak jauh. Beliau seorang qori hebat di kampung kami. Juara nasional. Lucunya, beliau dulu anggota Polri. Sudah pensiun, sudah sepuh, tapi kalau pengajian kampung-kampung, dia yang baca. Dan puncaknya selalu di  shalat Jumat Kliwon. Hari sakral. Shalat jum'at ketika masjid besar penuh sesak.

Dan ketika paman saya membaca. Saya berani bersumpah. Bahkan angin pun berhenti bergerak. Daun-daun pohon seperti menahan napas. Sampai jago pun lupa cara berkokok.

Setiap tarikan napasnya seperti menegakkan iman. Setiap pengeluaran lafaz seperti membelah dada dan memasukkan cahaya ke dalamnya.
Dan keindahan kalam Allah turun begitu lembut, bagai hujan yang jatuh satu demi satu, tapi mampu menumbuhkan seluruh ladang hati.

Indah sekali. Saya yakin siapa pun yang hadir saat itu akan diam. Dan pulang dengan dada yang lapang.

Lalu kembali ke realitas.

Saya ditakdirkan dengan suara yang biasa saja. Untuk tidak menyebutnya dengan kejujuran penuh: suara saya sebenarnya sangat jelek. Teramat jelek. Hahaa

Dulu di pesantren ada kelas qori. Saya paling malas ikut kelas itu. Saya sadar diri. Saya pernah ikut paling tidak satu atau dua kali. Selebihnya saya bolos. Kabur. Bersembunyi di belakang kitab alfiyah, sambil pura-pura sibuk menghapal. Wkwkwk.

Lalu waktu berjalan.
Ternyata hidup tidak selalu menyenangkan, dan saya belajar menjadi prajurit: bertahan dalam keadaan apa pun.

Dan hari ini, saat asesmen lapangan izin prodi magister, karena hari Ahad dan tidak ada orang lain, maka petaka itu terjadi.

Saya ditunjuk sebagai qori. Di depan teman-teman kampus. Di depan para profesor.
Di depan bu Rektor.

Dan tentu saja kita semua bisa menebak hasilnya: amat sangat memalukan. Saya grogi setengah mati. Suara saya bergetar seperti speaker masjid yang kesetrum.

Dan yang lebih menyakitkan dari suara saya sendiri adalah ketika Bu Rektor berdiri, tersenyum, dan berkata pada asesor:

“Beliau ini biasanya qori-nya bagus… tapi hari ini berbeda.”
Saya ingin menghilang.
Kalau bisa, saya ingin menjadi sajadah. Atau sandal jepit. Atau apa pun yang tidak terlihat manusia. Wkwkwkw.

Tapi sudahlah.

Hikmahnya jelas. Saya tidak akan pernah ditunjuk menjadi qori lagi. Dan itu salah satu bentuk kemenangan yang paling realistis dalam hidup saya.

Dulu, saat saya mahasiswa PPL di Kendal, karena saya koordinator mahasiswa, saya qori juga. Tidak separah hari ini. Tapi tetap saja traumatis.

Hari ini saya hanya bisa berdoa.
Semoga asesmen lapangan prodi magister kampus saya berhasil.
Sukses.
Dan tentu saja. bukan karena qori-nya saya.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE