Sejak kecil, saya punya banyak cita-cita. Dan dua di antaranya terdengar, sangat heroik, sekaligus sangat tidak mungkin saya capai dengan kondisi saya hari ini.
Pertama, saya ingin bekerja di TVRI. Ya, TVRI hitam putih yang saya tonton waktu kecil. Yang gambarnya burem, antenanya harus diputer dulu pakai galah bambu, dan kalau hujan petir gambarnya jadi cacing kejang. Tapi entah kenapa, buat saya keren sekali menjadi bagian dari TVRI. Rasanya seperti jadi orang penting di republik ini, meski cuma baca acara jadwal siaran. Hingga saat ini saya suka sekali menonton berita TVRI.
Saya terinspirasi dari paman saya. Keluarga dari ibu saya, meski agak jauh. Beliau seorang qori hebat di kampung kami. Juara nasional. Lucunya, beliau dulu anggota Polri. Sudah pensiun, sudah sepuh, tapi kalau pengajian kampung-kampung, dia yang baca. Dan puncaknya selalu di shalat Jumat Kliwon. Hari sakral. Shalat jum'at ketika masjid besar penuh sesak.
Dan ketika paman saya membaca. Saya berani bersumpah. Bahkan angin pun berhenti bergerak. Daun-daun pohon seperti menahan napas. Sampai jago pun lupa cara berkokok.
Indah sekali. Saya yakin siapa pun yang hadir saat itu akan diam. Dan pulang dengan dada yang lapang.
Lalu kembali ke realitas.
Saya ditakdirkan dengan suara yang biasa saja. Untuk tidak menyebutnya dengan kejujuran penuh: suara saya sebenarnya sangat jelek. Teramat jelek. Hahaa
Dulu di pesantren ada kelas qori. Saya paling malas ikut kelas itu. Saya sadar diri. Saya pernah ikut paling tidak satu atau dua kali. Selebihnya saya bolos. Kabur. Bersembunyi di belakang kitab alfiyah, sambil pura-pura sibuk menghapal. Wkwkwk.
Dan hari ini, saat asesmen lapangan izin prodi magister, karena hari Ahad dan tidak ada orang lain, maka petaka itu terjadi.
Dan tentu saja kita semua bisa menebak hasilnya: amat sangat memalukan. Saya grogi setengah mati. Suara saya bergetar seperti speaker masjid yang kesetrum.
Dan yang lebih menyakitkan dari suara saya sendiri adalah ketika Bu Rektor berdiri, tersenyum, dan berkata pada asesor:
Tapi sudahlah.
Hikmahnya jelas. Saya tidak akan pernah ditunjuk menjadi qori lagi. Dan itu salah satu bentuk kemenangan yang paling realistis dalam hidup saya.
Dulu, saat saya mahasiswa PPL di Kendal, karena saya koordinator mahasiswa, saya qori juga. Tidak separah hari ini. Tapi tetap saja traumatis.
No comments:
Post a Comment