Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Sunday, 30 November 2025

Fotografer Tanpa Kamera

 #DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Saya pernah punya seorang kawan dari jurusan seni. Ia bukan anak orang kaya, dan kamera yang akhirnya ia miliki—dengan lensa panjang yang tampak gagah di genggamannya—bukan hasil hadiah atau fasilitas orang tua. Kamera itu lahir dari kerja keras, dari keringat yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari kacamata awam, hasil jepretannya tampak biasa saja, seolah tak ada yang istimewa. Namun karya-karyanya dihargai banyak pihak, mendapat apresiasi yang tak pernah ia minta. Banyak orang merasa tersentuh, meski tak semua mengerti teknik yang ia gunakan.


Sebelum ia memiliki kamera, ia lebih dulu menulis. Tentang kemiskinan, rasa sepi, ketimpangan, tentang dunia yang sering terasa bengkok dan tidak adil. Ia belajar memotret kenyataan melalui kata-kata, jauh sebelum memotret melalui lensa. Mungkin di situlah ia menemukan mata kedua: mata yang tidak sekadar melihat, tapi menghayati.


Dari dia saya belajar bahwa menjadi fotografer tidak selalu memerlukan kamera. Saya tidak paham teori pencahayaan, komposisi, atau fokus. Tapi saya tahu bahwa setiap hari, dunia memberi banyak pemandangan yang bisa dipotret dengan hati. Seperti saat terjebak macet panjang di jalanan kota yang berdebu. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima. Panas menyengat, suara klakson saling bersahutan, dan wajah-wajah manusia menampakkan ragam cerita. Ada yang mengeluh keras, ada yang menumpahkan amarah tanpa tujuan. Namun ada juga pedagang kecil yang duduk santai di bawah motornya, memanfaatkan bayangan mesin sebagai atap sementara, menunggu pembeli dengan wajah tenang.


Pemandangan seperti itu selalu terasa indah jika dilihat dengan mata yang tepat. Bahkan ketika hujan turun, ketika dingin menusuk, atau ketika langit membakar kulit. Setiap keadaan punya ruangnya sendiri untuk dinikmati. Tidak semuanya perlu diumumkan atau diteriakkan kepada dunia.


Saya teringat pesan nenek dari masa kecil: tidak elok mengeluh pada keadaan. Panas yang terasa panas tidak perlu dijadikan pengumuman. Hujan yang membasahi tidak harus menjadi status. Dingin yang menggigit bukan alasan menuntut simpati. Semua itu seperti rezeki—ada porsinya, ada hikmahnya, dan tidak perlu semua orang tahu.


Dari pelajaran itu, saya mengerti bahwa menjadi fotografer tanpa kamera bukan kekurangan. Itu cara lain untuk melihat kehidupan. Untuk menangkap cerita yang berjalan tanpa suara. Untuk menyimpan pemandangan paling jujur yang tak pernah butuh filter atau bingkai.


Dan kadang, karya paling indah bukan yang bisa dipajang di dinding atau diposting di media sosial. Tapi yang diam-diam tinggal di dada.


No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE