Dulu, tahun 2008, Facebook masih baru, beranda dihiasi kabar teman, saudara, tetangga. Hangat, dekat, sederhana.
Lalu, tahun 2014, Twitter dengan Twitwar-nya hadir.
Meski namanya “war”, kadang percakapan itu cerdaskan, menantang otak, membuat tertawa, membuat berpikir.
Saya rindu masa-masa itu.
Sekarang, beranda sosial media berubah. Jangkauannya luas, banyak orang yang tidak saya kenal muncul, kabar politik, berita pemerintah, iklan, opini pedas. Saya merasa lelah, otak dan hati dipenuhi sampah informasi, stres meninggi.
Biasanya saya cek sosial media malam hari, atau sepulang berkegiatan di sore hari.
Kadang phobia membuka, terutama berita pemerintah, kabar yang bikin cemas.
Tapi di sisi lain, ssebagian orang sosial media juga ladang, tempat orang mencari penghasilan, membangun konten, menanam benih peluang.
Seperti biasa, saya belajar memilih, memilah mana yang perlu, mana yang cukup dilewatkan. Memberi ruang untuk hati bernapas, untuk pikiran tenang, untuk kehidupan nyata yang menunggu di sekitar.
No comments:
Post a Comment