Hari ini, di INSIP, kampus tempat saya dibesarkan, ada Studium General. Suasananya meriah, penuh kehangatan, penuh canda, tawa, guyonan, ger-geran, tapi juga kaya akan ilmu dan motivasi. Saya duduk, mendengarkan, dan di hati saya tumbuh semacam semangat baru.
Ada tiga orang di panggung akademik itu. Pak AZIZ HAKIM, Kasubdit Ketenagaan Kemenag, ahli tata hukum negara. Pak M. Adib Abdhushomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama. Dan Pak Muammar, moderator acara, dosen senior INSIP, Warek 3, sekaligus senior yang disegani.
Mereka bertiga punya benang merah, sama-sama berangkat dari IAIN Walisongo Semarang. Dulu mereka mahasiswa, sama-sama aktivis. Dan karena pernah melewati susah senang bersama, di panggung itu mereka lebih mirip teman lama yang reuni. Bercanda, saling roasting, dan kita yang mendengar ikut hanyut dalam tawa.
Pak Aziz Hakim lebih realistis. Meski kuliahnya sampai 14 semester, ia justru bangga karena masa mudanya dipenuhi dengan forum-forum diskusi di pojok kampus, literasi, demonstrasi, dan menulis di media massa sejak awal kuliah. Nilai, bagi beliau, bukan sekadar angka, tapi kualitas diri. Saya jadi teringat masa lalu saya, merasa pernah sok-sokan jadi aktivis, sering meremehkan kelas dosen. Sekarang saya juga menyesal. Tapi dengan beliau, jelas, saya tidak ada apa-apanya.
Lalu, ada Pak Adib. Anak kiai besar dari Pekalongan, seorang Gus, tapi justru memilih SMP dan SMA umum. Seangkatan dengan Pak Muammar, tapi jauh lebih cepat. S2 dua kali, di IAIN Walisongo dan Flinders University Australia, lalu S3 di sana juga. Sejak S1 sudah jadi editor handal, CV-nya penuh publikasi. Sangar.
Ada satu titik yang terasa menyentuh bagi saya. Saat beliau cerita masa-masa menulis tesis, bolak-balik mukim di Pesantren Futuhiyyah Demak. Mungkin tepat di masa itu, saya masih bocah ingusan. Baru jadi santri. Sering menangis di pojokan, jauh dari rumah, nyuci baju sendiri, makan seadanya. Rasanya seperti ada garis tipis yang mempertemukan kami, meski pada level dan keadaan yang berbeda.
Pak Adib berbeda dengan Pak Aziz Hakim. Kalau Pak Aziz HAkim mendorong mahasiswa untuk jangan hanya kuliah-pulang, tapi harus aktif berorganisasi, Pak Adib mengajak ke arah spiritual. Saya merinding ketika mendengar kisahnya, bagaimana di Australia, saat mumet-mumetnya menulis disertasi, ia bertawasul kepada Syekh Abdul Qodir al-Jailani dengan membaca Manaqib. Aih, Di negeri jauh, seorang akademisi modern, sudah go internasional masih menggantungkan diri pada spiritualitas ala pesantren.
Itu klimaksnya. Saya yakin, orang-orang besar, orang-orang yang diberi jabatan, mereka semua punya riyadhoh, laku batin. Pak Adib jelas bukan hanya bersandar pada doa. Sejak awal, ia menyiapkan diri total, belajar bahasa Inggris, berjuang keras, meski ditertawakan kawan-kawannya. Ikhtiar tanpa batas. Bersungguh-sungguh secara totalitas. Dan tetap saja, ia tidak meninggalkan riyadohnya.
Beliau mengingatkan agar menjauhi hal-hal negatif dari HP, memanfaatkan teknologi untuk belajar, menjaga tahajud. Saya termenung. Kadang, ogikanya, orang sukses, sudah punya jabatan, harta, kekuasaan, untuk apa lagi berdoa. Tapi justru mereka tidak pernah berhenti.
Itulah laku batin. Dan Pak Adib menegaskan itu dengan contoh lain, dari dekat posisi jabatannya dengan Menteri Agama. Tak jarang ia menuliskan teks pidatonya. Dan dari cerita beliau, Menteri Agama yang sekarang tidak pernah absen puasa Senin-Kamis.
Sorenya, saya pulang dengan dada yang penuh. Tawa, canda, roasting, ilmu, motivasi, tapi yang paling menetap adalah rasa merinding itu. Bahwa orang-orang besar, pada dasarnya, adalah orang-orang yang masih setia pada laku batin.
No comments:
Post a Comment