Tanah, Ingatan, dan Ketahanan Pangan
Nenek saya, kakek saya, petani.
Saya masih ingat, saat musim panen dulu, udara sore dipenuhi bau jerami yang baru dipotong. Burung-burung beterbangan mencari sisa gabah. Dan di pematang sawah, saya kecil berlari-lari, bermain layang-layang, sementara kakek dan nenek menunduk. Dengan sabar memungut butir padi. Butir hidup yang kelak tersaji di meja makan kami.
Hari ini disebut Hari Tani. tapi bagi saya, ia hanyalah hari biasa. Karena tanah tidak pernah menunggu tanggal di kalender. Karena petani tidak mengenal seremoni atau pesta. Setiap hari adalah hari tani. Sebagaimana setiap hari adalah hari santri. Hari kartini. Hari perjuangan dalam kehidupan.
Kalau hanya dijadikan momentum seremonial, seperti Hari Kartini yang tiba-tiba siswa dipaksa memakai kebaya. Atau Hari Santri yang diwajibkan memakai peci. Bagi saya, justru mengkerdilkan makna yang seharusnya lebih luas, lebih dalam.
Mbah Nun, dalam banyak kesempatan menekankan pentingnya ketahanan pangan. Bahwa bangsa ini tidak akan kuat, bila tidak mandiri pada tanahnya sendiri. Mas Sabrang pun sama, di forum Maiyah Mocopat Syafaat Yogyakarta, berpesan agar jamaah membangun ketahanan pangan minimal di skala rumah tangga.
Ia juga mengingatkan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan, siapa pun yang masih memiliki tanah, sebaiknya jangan menjualnya.
Sebab tanah adalah masa depan. Tanah adalah kehidupan.
Maiyah mendidik kita, untuk tidak sekadar menjadi follower. pengikut arus yang menunggu tren global. Kita diajak menjadi flower. bunga yang tumbuh dari akar sendiri. Yang mekar di tanahnya sendiri. Yang memberi keharuman bagi sekitarnya.
Kesadaran pangan, bukan karena Bill Gates atau miliarder dunia lain sedang berinvestasi di sektor pertanian, tetapi karena nasi di piring kita, berasal dari keringat kakek dan nenek kita, dari doa petani yang mungkin tak pernah dikenal namanya.
Hari Tani. Bukanlah pesta tahunan. Bukan panggung politik. Bukan pula simbol kosong di kalender.
Hari Tani adalah setiap detik. Setiap tarikan cangkul. Setiap butir keringat. setiap nasi yang kita kunyah dengan doa syukur.
Dan di sana, ada wajah kakek saya, ada doa nenek saya, ada perjuangan yang diam-diam menyelamatkan hidup kita semua.
24 September 2025
No comments:
Post a Comment