TGB Hasan Basri, pertamakali ke Madura pada tahun 1989.
Mendiang ayahnya begitu gembira pada suatu pagi, ketika dia mengusulkan diri mondok ke Madura. Ayahnya bolos ngantor hari itu. Langsung mengajak sang ibu belanja tas dan perlengkapan mondok anaknya di pusat kota Mataram.
Dia sebenarnya tidak terlalu yakin mau mondok.
Hari itu juga, sore harinya, TGB Hasan diruwat. Sang Ayah mengundang semua keluarga, terutama tetua dari keluarga. Selamatan untuk dia yang mau berangkat mondok.
TGB Hasan dibawa ke beberapa mbah yang sudah jadi Tuan Guru untuk didoakan, karena projek dia mondok ini projek nekat saja dan berdasarkan keyakinan.
Pengakuannya, waktu itu, dia blank ilmu dasar agama. Baca Al Qur’an saja tidak bisa. Apalagi mau menulis atau bercakap Arab.
Dia mengenal al-Qur’an, hadis arbain, mata goyah dan lainnya berdasarkan hafalan walaupun tidak melek baca teks Arabnya— Tapi hanya kurang dari sebulan di pondok Al-Amien Madura, dia bisa baca al-Qur’an juga tajwidnya.
Keesokan hari, mereka berangkat menumpangi bus Wisata Komodo menuju Surabaya. Ada delapan orang yang ikut mengantarkan.
Si Ayah begitu yakin kalau dia akan kerasan mondok sampai selesai. Dan ini pertaruhan, karena kakak-kakaknya banyak yang gagal mondok.
Sampailah mereka di kantor ayah, di sekiatar kawasan Ampel. Salah seorang sopir kantor ayah mengajakan TGB Hasan keliling melihat Surabaya. Diajak ke mall, kemudian belanja. Tentu saja TGB Hasan merasa beruntung dan senang.
Dia mengira Madura tidak jauh dari kota Surabaya. Dia tidak mengira harus menyebrang lagi dari Surabaya. Maklum tidak ada google map zaman itu.
Setelah mobil yang mereka tumpangi mendarat. dia melihat tanah memerah di sepanjang jalan. Terik matahari menyentuh kulitnya sehingga agak gatal. Dia mulai keder. Dia berbisik ke ibunya agar dia dibawa kembali ke kantor ayah saja dan pulang lagi ke Lombok.
Ibunya tampaknya tidak berani kepada ayah. “Persoalan mondok ini salah satu doa ayahmu”, kata ibu.
Singkatnya, dia di Madura hampir delapan tahun.
Apa yang dia dapatkan? TGB Hasan bisa baca kitab gundul, belajar seni, bisa bahasa Inggris dan banyak wawasan lainnya.
Madura membentuk dia secara intelektual dan estetis.
Betapa berhutangya dia kepada pulau Madura.
Dia juga tidak percaya kalau bisa menyelesaikan pendidikan di Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura.
Dia memiliki guru-guru yang luar biasa. Sampai hari ini, paling tidak setiap selesai solat, wajah beliau-beliau membayangi TGB Hasan. Yai Idris, Yai Ahmad, Yai Jamal, Yai Maktum, dan banyak Yai lainnya.
Kalau tidak berkah, tidak mungkin tanah Madura melahirkan orang mulai seperti guru-guru dia.
Dan tentu saja juga para guru mulia, para Yai lain, di pesantren-pesantren tua di Madura lainnya. Ada pesantren Bata-Bata dan An-Nuqayah yang sering datangi. Belum lagi pesantren di Pamekasan dan bagian pelosok lainnya di Sumenep, Bangkalan dan Sampang.
Dia berkisah, sosok kiai Kholil, cucu Mbah Khalil Bangkalan, yang sering ke pondoknya menemui Yai Ahmad. Keduanya adalah petinggi BASRA masa itu.
Kadang dia melihat KH Wahid Zaini dari Paiton, begitu juga dengan iparnya KH Hasan Abdul Wafi dan banyak lainnya.
Ketika Yai Ahmad mengajar kitab Muhtasor Ihya, karya Imam Ghazali, biasanya dia diceritakan tentang kiai-kiai Madura dari masa lalu. Atau kiai dari Madura masa itu.
Kadang sore, saat ngaji kitab Minhajul Abidin kepada Yai Idris, tiba-tiba ada seorang Yai datang mengucap salam keras. Dan memanggil Yai Idris dengan “lek” (paman). Ia tidak membuka sepatunya, langsung masuk ke dhalem memakai sepatunya.
Dia tahu itu adalah Yai Sa’di dari An-Nuqayah, ponakan Yai Idris. Khelaf, kata Yai Idris singkat melihat ponakannya datang.
Tapi tidak sekalipun Kiai Ahmad atau Kiai Idris bercerita tentang Kiai Idris Patapan yang merupakan kakek buyut mereka.
Ia para mulia madura tidak sekarlatan banyak yang menggeneralisasi rasisme Madura seperti Meksiko.
TGB Hasan mengenal Madura bukan saja dari kultur pesantrennya. Dia paham perempuan-perempuan Madura itu cantik-cantik. Di berapa desa tertentu para perempuannya umumnya cantik: putih atau agak coklat, mata tajam, alis tebal, rambut lurus dan badan yang aduhai.
Sayangnya TGB tidak mungkin menyebut dadanya.
Para lakinya juga sama. Banyak yang cenderung mancung hidungnya dan memiliki badan yang kekar dan tangguh.
Selama di Madura, TGB Hasan juga menemukan energi orang Madura berkesenian. Baik modern atau seni tradisi.
Yai Zawawi Imron seperti orang tua TGB Hasan sendiri.
Ada juga pekerja seni dan budayawan yang sudah mulai berumur, Pakdhe Syaf dan Pakdhe Dayat (keduanya aktif di FB). keduanya akrab luar dalam dengan TGB Hasan Basri.
Madura bagi TGB Hasan, adalah sebuah rendezvous kultural. Di dalamnya dia tidak melihat ada yang asli. Madura telah mencampurnya menjadi campuran yang memiliki karakter.
Madura mengajari TGB Hasan tentang harkat seorang manusia karena ia manusia.
Dia tahu identitas seperti kelas, etnis dan ras itu cair, tidak esensial dari Madura daripada dari Stuart Hall atau Paul Gilroy.
Kelak setelah di Yogya, TGB tambah paham rasisme kepada orang Madura.
Umumnya teman-teman dia yang merasa dari Jawa agak sebelah mata melihat orang Madura.
Stereotipikalisme etnis atau persangkaan etnis itu sama saja muasalnya dengan persangkaan kelas sosial. Ia merambati otak siapapun. Terutama mereka yang sekolahan. Sedikit sekali orang terpelajar yang mampu melampui cerita rasisme atau persangkaan etnik yang mereka pelajari.
Antara persangkaan kelas, etnis dan rasa sama jahatnya. Semuanya penyakit bani adam yang belum lagi ada obat mujarabnya sampai sekarang.
Teknologi digital yang dibanggakan kita selama ini, justeru menyuburkan persangkaan kelas, etnis, dan ras. Bukan malah menguranginya.
Saya kira pendidikan rasa, feeling, kepekaan, atau seni yang paling cepat memangkas penyakit rasisme daripada peningkatan kemampuan digital, atau sekedar olah intelektual ala kampus.
Setiap mengenang madura TGB Hasan selalu ingat kata-kata dari James Baldwin, kawan kerennya dari Amerika, penulis novel itu berkata : “Saya bangga dengan orang-orang ini bukan karena warna kulit mereka, tetapi karena kecerdasan, kekuatan spiritual, dan kecantikan mereka."
Lalu, oknum yang mendzalimi Yai Mim di Malang itu, yang merupakan Madura, tentu saja, jangan digeneralisir untuk semua tentang Madura.
Wallahu'alam...
No comments:
Post a Comment